
Senyum tersungging terus menetap di wajah tampan itu, terlihat pria itu berdiri manis di samping mobilnya menunggu kedatangan atau lebih tepatnya menunggu bidadari keluar dari persembunyiannya. Benar saja tak lama terdengar suara sepatu dan terlihat kaki jenjang yang tertutupi dress itu baru saja keluar melewati pintu bergaya klasik itu. Sorotan mata itu tak berhentinya menatap sosok yang mempesona itu. Terlihat cantik dengan rambut yang digerai dengan hiasan kecil yang terletak manis di kepalanya, serta riasan wajah yang natural juga dress yang begitu elegan di tubuh ramping itu.
"Halo? Halo? Lucas!" Panggilan ketiga membuat pria itu tersadar dari lamunannya dan terlihat wanita cantik itu tepat berada dihadapannya.
"Ya?"
"Ayo berangkat! Nanti kemalaman, dan Max mungkin akan mencari ku jika terlalu lama."
"Oh ya? Benar begitu Max?"
"Tidak! Aku dengan Nenek, mommy tidak perlu khawatir. Aku kan sudah besar." Sashi memainkan matanya melihat putranya yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya dan bicara sembarangan.
"Benar kan Nek?" Wanita tua itu menganggu dengan cepat membuat Sashi hanya menghela napasnya.
"Dengar sendiri Nyonya?"
"Tetap saja, aku tidak ingin kemalaman."
"Baiklah, kalau begitu kita segera berangkat." Lucas membuka pintu mobilnya dan Sashi langsung masuk dan dari balik jendela mobil ia melihat putranya dengan segala tingkahnya.
"Dah Mommy, dah Da--d, Nikmati pestanya jangan khawatirkan aku."
"Mommy akan meminta Paman Ari datang, jangan pergi kemanapun dan dengarkan kata Nenek!"
"Yes Mommy, jaga Mommy ku Paman, karena mungkin akan ada yang menculiknya nanti."
"Hei, Mommy bisa bela diri Sayang. Jangan remehkan itu! Dan ...."
"Iya Mommy, i love you Mommy!" Dan tanpa perlu mendengarkan ucapan Sashi pintu itu sudah tertutup karena tingkah putranya.
"Huft."
"Dia menggemaskan sekali." Sashi melirik pria tampan yang duduk di kursi kemudi.
"Bisa kita jalan sekarang? Apa perlu aku yang mengemudi?"
"Ok, kita jalan sekarang." Lucas segera melajukan mobilnya membelah jalanan dan Sashi hanya diam memandangi jalanan, manik Lucas sesekali mencuri pandang pada wanita cantik itu.
"Apa ada yang aneh di mataku atau wajahku?"
"Ya?"
__ADS_1
"Kau sejak tadi melihat kondisi arah ku terus, apa ada yang aneh?"
'Astaga, benar-benar unik. Jika wanita atau gadis lain yang ku tatap mereka akankah tersipu malu. Tapi tidak dengan nya, kau sungguh unik Tania.'
"Itu ...."
'Tunggu, aku bisa mengambil kesempatan dari ini bukan?' Senyum kecil terbit dari Lucas dan dengan segera ia berhenti sekejap membuat Sashi bingung.
"Kenapa berhenti?"
"Karena ada sesuatu di wajah mu."
"Katakan di mana? Apa bedaknya sedikit luntur! Atau maskara ku?" Sashi tanpa sadar melakukanya membuat dirinya terlihat lucu.
"Di sini." Lucas mendekatkan wajahnya jam mata keduanya bertemu. Sashi menatap mata itu dan begitupun sebaliknya. Tangan Lucas yang berada di dekat audio tanpa sadar menyalakan musik dan membuat kedua masih saling beradu pandang.
'Cantik, benar-benar cantik! Netra hitam itu seolah-olah ....'
Sedangkan lagu berputar dengan sendirinya mengiringi adegan seperti film dan novel romantis itu.
Apa yang telah dilakukan matamu
Mujhse hi mujhko juda kar diya
Tatapanmu telah memisahkan raga dengan jiwaku
Apa yang telah dilakukan matamu
Mujhse hi mujhko juda kar diya
Tatapanmu telah memisahkan raga dengan jiwaku
Main rehta hoon tere paas kahin
Aku seperti berada di tempat asing
Ab mujhko mera ehsaas nahi
Bahkan aku tak mengenali diriku sendiri
Dil kehta hai kasam se
__ADS_1
Sumpah, hatiku berteriak galau
Ke thoda thoda pyaar hua tumse
Aku mulai jatuh cinta padamu
Ke thoda iqraar hua tumse
Kuingin terus dekat denganmu
Ke thoda thoda pyaar hua tumse
Aku mulai jatuh cinta padamu
Ke zyada bhi hoga tumhi se
Cinta ini terus tumbuh hanya kepadamu.
Sashi turut memperhatikan wajah yang berada dihadapannya saat ini. 'Tidak ada yang berubah, jika ku perhatikan ia hanya merubah penampilannya sesuai waktu dan pekerjaannya. Aku baru sadar maniknya coklat seperti ... Tunggu!'
"Apa yang kau lakukan?" Lucas sedikit terhenyak dengan Sashi yang mendorongnya sedikit.
"Aku kan membantu mu untuk ...."
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri. Lagipula aku rasa tidak ada yang aneh. Kau mengerjai ku ya?" Sashi dengan segera melihat kaca kecil dihadapannya dan langsung melirik riasan wajahnya.
'Astaga! Pasti ketahuan, aku harus cari alasan yang bagus.'
"Tania, jujur saja tadi aku berpikir maskara mu itu tadi kurang rapi jadi aku ingin melihatnya dari dekat. Ternyata bukan, maaf aku tidak tahu soal riasan seperti itu."
"Tidak apa, lagipula jika aku lihat ada sedikit bedak yang kurang rata di bawah kelopak mata ku. Terima kasih."
"Ah iya. Kalau begitu aku lanjutkan perjalanan kita."
"Iya, ayo cepat."
'Wahai hatiku, jangan berdetak lagi. Nanti ia bisa dengar.'
Bersambung.....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1