
Pagi itu dihiasi dengan suara tawa putranya yang duduk manis sambil menonton televisi film kesukaannya. Kejadian kemarin tidak mempengaruhi sikap putranya, ia terlihat biasa saja dan hanya beberapa kali bertanya pada Mommy nya. Suara tawa itu terhenti saat melihat kedatangan Mommy nya dengan biskuit dan kue yang dibawa oleh Mommy nya. " Mommy, aku sudah menunggu nya sejak tadi." Suara itu membuat suasana hati Sashi menghangat dan begitu senang saat melihat wajah ceria dari putranya.
"Ini, tadi ada masalah di panggangan nya. Jadi Mommy panggang ulang. Apa putra tampan Mommy kelaparan?" tanya Sashi sambil mencubit hidung mancung putranya.
"Tidak juga. Tapi, aromanya membuat perut ku jadi lapar." Max dengan segera mengambil kue dan biskuit yang ada di sana dan membuat Sashi tersenyum senang melihat putranya.
"Makanlah yang banyak. Mommy masih banyak di sana, khusus untuk putra kesayangan Mommy." Sashi melangkah pergi ke dapur, dan meninggalkan putranya yang asyik mengunyah biskuit nya. Merasakan tidak ada lagi langkah kaki dari Mommy nya, wajahnya langsung berubah menjadi dingin dan tatapan tajamnya.
Keesokan harinya terlihat senyum mempesona dengan tas di punggungnya. Sashi baru saja keluar dari mobil dan menuju putranya lalu menggandeng tangan putranya itu hingga ke gerbang sekolah. "Nah, putra Mommy belajar yang rajin dan terus semangat ya. Nanti akan Mommy jemput, dan ingat jika ada orang asing yang mengatakan bahwa ia adalah teman Mommy. Maka Max berkata.
"Mommy ku tidak punya teman!" Max berujar sambil mempraktekkannya membuat wajah itu sangat menggemaskan.
"Bagus, itu sangat benar. Mommy pergi dulu ya, dah sayang."
"Dah Mommy. Aku sayang Mommy."
"Mommy sayang padamu juga." Sashi memeluk putranya dengan sayang. Setelah memastikan putranya masuk ke kelas, Sashi dengan segera masuk dan melajukan mobilnya menuju perusahaannya. Di sana ia telah disambut dengan Ari di pintu ruangannya dan memberikan selamat pagi.
"Selamat pagi Mbak." Sapa Ari pada Sashi yang duduk di kursinya.
"Selamat pagi juga Ari. Apa aku terlalu lama?" Sashi berujar dengan canda dibalik meja yang menumpuk di sana.
"Tidak Mbak, aku rasa tidak pernah."
__ADS_1
"Ah, begitu rupanya. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Hans? Rasanya cukup lama tidak melihatnya setelah ia memasuki sekolah menengah pertama." Sashi berujar sambil tangannya menandatangani dokumen dan matanya yang serius membaca huruf yang tertera di sana.
"Baik Mbak. Saat liburan semester nanti ia akan pulang. Saat di sana, ia asyik video call dan bertanya mengenai Max. Bagaimana kabarnya? Aku sangat merindukannya." Sashi terkekeh.
"Max juga begitu. Ia tidak sabar bertemu dan selalu bertanya mengenai Hans. Kapan kakak tampannya akan pulang?"
"Oh ya Mbak, hari ini kita ada pertemuan dengan salah satu klien dari Malaysia."
"Apa Ibrahim?" Tebak Sashi yang langsung mendapatkan anggukan dari Ari.
"Tepat sekali Mbak. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya ia tidak sabar untuk bertemu dengan kita."
"Mungkin ada sesuatu yang ingin ia bicarakan." Sashi tetap melanjutkan pekerjaannya, meskipun dalam benaknya terlintas pikiran alasan mengenai Ibrahim.
"Mbak mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada. Hanya misteri yang belum terpecahkan."
"Aku mengerti Mbak. Hanya sedikit bukti yang baru kita dapatkan. Bukan berarti, kita ...."
"Menyerah! Aku tidak akan menyerah! Keadilan harus ditegakkan untuk suamiku. Ari, apa dia masih datang kembali?"
"Belum Mbak. Tapi beberapa dari pantauan, ia mungkin akan mencari cara untuk menemui Max."
__ADS_1
"Berikan pengawasan terus. Aku tidak ingin putraku terlibat dengan keluarga lintah itu!"
"Mbak jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkannya."
"Terima kasih Ari."
"Sama-sama Mbak."
Lain lagi di sekolah, terlihat wajah kecil tampan itu sedang mengunyah bekal yang disiapkan oleh Mommy nya. Sesekali ia menatap langit biru yang indah dan cerah sekali. "Langitnya indah sekali." Bunyi bel masuk menandakan istrirahat berakhir dan Max dengan segera membereskan bekalnya.
Sedangkan di luar gerbang terlihat mobil hitam mewah dengan supir di depannya yang sesekali memantau Tuannya yang berada di belakang. "Kita sudah sampai Tuan."
"Jam berapa pulangnya?" Ia bertanya sambil menatap tajam gerbang sekolah elit itu.
"Dua jam lagi Tuan. Apa mau menunggu di sini? atau ...."
"Kita duduk di restoran di sana. Aku tidak ingin kelewatan nanti."
"Baik Tuan."
"Aku tidak sabar bertemu setelah melewatkan perkembangan nya."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️