
Suasana yang tadinya penuh dengan canda tawa, mendadak jadi tangisan dan kecemasan karena Max terus menangis. Sashi yang mendengar suara tangisan putranya langsung menenangkannya.
"Maaf, karena balonnya meletus. Adiknya jadi menangis." Hans tertunduk karena merasa bersalah telah membuat Max terbangun dan menangis karena ulah balonnya.
"Tidak apa, adiknya hanya terkejut." Sashi berujar dengan lembut agar Hans tidak merasa bersalah terus.
"Hans tidak salah, lihat sekarang adiknya sudah tidur lagi." Alya berujar pelan pada putranya dan membuat Hans perlahan ceria kembali.
"Iya, sekarang adik sudah tidur lagi. Ayo Bu kita keluar, nanti adiknya bangun lagi." Hans menarik tangan ibunya agar beranjak dari kamar.
"Iya, kalau begitu kami keluar dulu Mbak." Alya berucap pelan dan Sashi menganggukkan kepalanya.
"Tidur yang nyenyak Sayang." Sashi dengan hati-hati meletakkan putranya dan tak lupa memberikan kecupan manis pada putranya itu. Setelah dirasa aman, ia segera keluar untuk menemui yang lainnya.
"Sudah tidur Nak?" tanya Mbok Tin yang baru selesai dari dapur.
"Sudah Mbok, ia sudah tidur."
"Syukurlah."
"Mbak, kalau begitu kami pulang dulu ya." Ari pamit pada Sashi dengan diangguki oleh Alya di sampingnya.
"Baiklah, hati-hati ya."
"Besok kita ke sini lagi kan Yah?" Hans mendekati Ayahnya dan bertanya dengan wajah imut.
"Iya, tapi sehabis pulang sekolah ya." Ari memberikan pengertian kepada putranya agar mengingat sekolah nya juga. Karena Hans saat ini sedang berada di jenjang taman kanak-kanak.
"Iya, tapi setelah itu ke sini lagi. Aku mau lihat adik!"
"Tentu saja."
"Dah Tante Sashi. Bilang pada adik Max aku akan datang lagi dan lagi!" Sashi terkekeh melihat semangat Hans ketika mengatakannya.
"Iya, akan Tante sampaikan."
"Kami pulang Mbak." Ari dan Alya serempak pamit dan Sashi mengantarkan mereka ke pintu keluar.
__ADS_1
"Dah!" Sashi ikut melambaikan tangannya hingga mobil berisi keluarga kecil itu menghilang dari pandangannya.
Sebuah pesawat sudah menunggu dengan sabar, tak lama terlihat 2 orang yang melangkah menuju kapal terbang itu. "Selamat datang Tuan." Salah satu pria menyambut kedatangan mereka dan ia hanya membalas dengan anggukan dan saat masuk, ia langsung menuju kursi yang sangat empuk dan nyaman.
"Tuan, ini wine nya." Bawahannya memberikannya segelas wine padanya.
"Iya, kau sudah melaksanakan nya bukan?"
"Sudah Tuan, anda tidak perlu khawatir. Saya jamin tidak akan ada masalah."
"Bagus! Karena aku tidak ingin ada masalah setelah kepergian ku."
"Kita berangkat Tuan?"
"Kita berangkat!" Dan tak lama perlahan pesawat itu mulai menaik dan mata tajam itu menatap kota bahkan negara yang akan ia tinggalkan.
"Aku tidak tau sampai kapan, tapi aku pastikan aku akan kembali dan kita akan bertemu."
Waktu berlalu beberapa saat. Disebuah kediaman tampak sepasang pria berbeda usia duduk berhadapan dengan salah satunya terlihat gusar.
"Ada masalah Yah, sepertinya ...."
"Masalah apa?" Sentak nya dengan kesal.
"Orang yang kita utus, hilang begitu saja. Tidak tau kemana mereka, padahal aku sudah mengirimkan alamat Sashi kepada mereka."
"Aghhhh! Sashi! Sepertinya wanita ini benar-benar menguji kesabaran ku!" Ia beranjak dari sofanya dan mengambil rokok untuk menghilangkan amarahnya. Kepulan asap mulai memenuhi ruangan itu, sang putra mendekat dan mengambil wine di dekatnya.
"Ayah ...."
"Mahesh aku rasa wanita itu tidak bodoh, ia pastinya sudah melakukan sesuatu seperti memasang dan memperketat keamanan di rumah itu. Jika tidak bisa masuk dengan cara paksaan. Kita lakukan dengan cara halus. Kau mengerti Mahesh?"
"Aku mengerti Ayah."
"Lakukan apapun, aku tidak ingin kegagalan. Yang jelas nyawa anak itu harus hilang secepatnya. Aku tidak ingin ia tumbuh menjadi pewaris seluruh harta Malik."
"Baru, setelah itu kau bisa lakukan apapun yang kau mau pada janda cantik itu!" Mahesh tersenyum senang mendengar perkataan Ayahnya.
__ADS_1
"Tentu Ayah, lagipula aku tidak ingin ada penganggu dari keturunan Malik, kakak tersayang ku itu."
Hujan turun dengan derasnya, Sashi memutuskan untuk meletakkan bayinya di samping dirinya. " Hujan sangat deras, udara juga dingin, sepertinya penghangat ruangan kurang untukmu sayang. Karena itu, kau akan tidur dengan Mommy."
Bayi mungil itu mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat ibunya yang sibuk berceloteh dan tersenyum kepadanya. "Ayo sekarang tidurlah." Sashi sedikit bingung karena putranya belum tidur juga padahal jam sudah lewat dari jam tidur putranya.
"Ada apa sayang? Kau haus ya? Tapi sepertinya tidak mungkin ia tidak menangis." Sashi mencoba melihat popok putranya, mungkin sudah penuh atau basah. "Tidak juga. Ada apa sayang?" Sashi mengikuti pandangan mata putranya yang berusaha 2 bulan itu, hingga pandangan Sashi terhenti di pigura suaminya dan dirinya saat mereka liburan di Hawai.
"Kau melihat ini?" tampak putranya tersenyum seolah mengerti apa yang Sashi katakan.
"Ah, begitu rupanya. Ayo Mommy perlihatkan padamu sayang. Ini adalah Daddy dan Mommy, foto ini diambil sebelum Daddy mu melamar Mommy. Ia penuh dengan kejutan, dan juga sangat manis, apa kau akan sepertinya nanti?" Max tertawa mendengar pertanyaan Mommy nya.
"Tentu saja, karena putraku ini sangat manis." Sashi bercerita pada putranya mengenai cerita saat Malik mengajaknya liburan, dirinya yang memang menyukai pantai langsung setuju dan mereka segera berangkat dengan pesawat pribadi Malik.
"Pekerjaan mu sudah selesai ya?" tanya Sashi pada Malik yang duduk dihadapannya.
"Sudah, aku sengaja mempercepatnya karena ingin pergi liburan dengan pujaan hatiku ini." Malik mendekat dan memeluk Sashi membuat wanita cantik itu terkekeh dengan tingkahnya.
"Dasar manja!" Sashi membalas pelukan Malik dan mereka bercerita berbagai hal hingga tak terasa ia ketiduran dan saat bangun, ia tidak melihat Malik di sana.
"Sayang?" Sashi sudah berada di kamar dan ia melangkah keluar dan matanya langsung disambut dengan pemandangan....
"Aaaaaa!"
Bersambung.....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.
Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.
Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya
__ADS_1