
Max terlihat senang dengan wahana yang ia naiki hal itu membuat Sashi yang melihatnya tersenyum senang karena kebahagiaan putranya itu. Tanpa sadar ia melihat sebuah ice cream di hadapannya yang digenggam oleh tangan kekar itu. "Hari cukup panas, dan sangat cocok dengan satu ice cream ini untuk wanita cantik seperti mu."
"Terima kasih. Kebetulan aku suka coklat dengan vanila." Sashi mengambil ice cream itu dan segera memasukkannya kedalam bibir mungilnya.
"Bagaimana? Enak kan?"
"Iya. Karena cuaca juga panas."
"Lihatlah tawanya ia senang sekali. Aku tidak menyangka ia begitu bahagia."
"Hmm, aku jadi ingat, iya pernah bertanya mengenai pasar malam saat itu."
"Jadi, kau tidak pernah membawanya ke tempat seperti ini."
"Tidak! Karena aku punya alasan tersendiri."
"Karena itu, setelah kita menikah nanti. Aku akan melindungi kalian dari mereka."
"Terima kasih, tapi aku bisa untuk ...."
"Sekarang, tapi tidak tahu kedepannya." Potong Lucas dengan cepat. Sedangkan Sashi hanya diam sambil memandangi wajah putranya yang gembira dengan beberapa kali melambaikan tangannya ke arah dirinya dan Lucas.
"Mommy! Paman!" Teriak Max dari salah satu wahana
Tak lama Max langsung berlari dengan cepat setelah wahana yang dinaikinya berhenti. "Mommy! Aku mau naik yang lain." Ujar Max sambil menunjuk beberapa wahana lainnya.
"Tentu, ayo boy." Lucas bicara membuat Max langsung berbinar binar dan menangkap tangan Lucas dan mengajaknya ke wahana lainnya. Sedangkan Sashi tertinggal karena kecepatan lari kedua pria berbeda generasi itu.
Langit mulai gelap, di dalam mobil itu terlihat sosok kecil itu tertidur pulas di pelukan Mommy nya. "Terima kasih." Lucas melihat ke sosok cantik dengan senyum kecil yang terbit dari wajahnya.
"Akhirnya, kau bicara juga setelah keheningan sejak tadi."
"Jangan mengejek ku. Kau tidak berubah ya?"
__ADS_1
"Aku senang kau mengingat itu, karena itu sangat lama dan aku merasa spesial."
"Sesuatu yang menonjol dari seseorang tidak akan aku lupakan. Bukankah begitu?"
"Tapi aku tetap merasa istimewa karenanya."
"Sudah sampai."
"Aku tau, lihat kita berhenti di tempat yang tepat."
"Iya." Saat akan keluar, wanita itu terdiam melihat kecepatan Lucas dalam membuka pintu mobilnya dan mengambil Max dari gendongannya.
"Biar aku saja." Sashi tidak bicara, dan ia hanya melihat sosok pria tampan itu masuk dan menggendong Max dengan penuh kasih.
"Terima kasih."
"Apa, aku harus menghitung berapa kali ucapannya sekarang?"
"Iya, yang jelas persiapkan saja saat datang ke rumah ku nanti."
"Baiklah." Setelah itu Sashi tanpa sadar melambaikan tangannya ke Lucas membuat pria itu tersenyum dan setelah mobil itu menghilang ia tersadar.
"Aku pasti begini karena besok. Astaga! Pertemuannya!"
Keesokan harinya, terlihat Sashi sudah rapi seperti biasa dengan gaya kasual membuat mata Max tidak berkedip melihatnya. Membuat Sashi mengerutkan keningnya melihat tatapan putranya. "Ada apa Sayang? Apa ada yang salah?"
"Ada Mommy." Jawab Max membuat Sashi langsung bercermin.
"Mana? Yang mana?"
"Salahnya Mommy sangat cantik dengan pakaian itu, benarkan Nenek?" Yang langsung diangguki oleh Mbok Tin.
"Putra Mommy sudah pandai ternyata, Hmm?"
__ADS_1
"Hahahaha, tapi itulah kenyataannya."
"Ayo sayang, cepat habiskan. Supaya segera ke sekolah."
"Baik Mommy."
Setelah mengantarkan putranya ke sekolah, Sashi langsung disambut oleh Ari di tempat pertemuan di perusahaan mereka. Setelah ucapan selamat pagi, keduanya tak lama dikejutkan dengan salah satu pegawai yang menyampaikan kedatangan pewaris strike Company.
"Suruh mereka masuk."
"Baik Bu." Setelah itu tak lama pintu itu terbuka menampilkan sosok dengan sepatu mengkilap nya dan wajah itu langsung terlihat dari balik pintu yang membuat Sashi terdiam tak berkutik dengan degup jantungnya yang terdengar kencang.
"Dia?"
Bersambung.....
Ayo siapakah dia? Nantikan di episode berikutnya mengenai identitas sosok ini yang tentunya merupakan bagian dari hidupnya.
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️😘😘
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!!!!
BLURB :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?
__ADS_1