
Langkah kaki itu terhenti saat melihat pemandangan dihadapannya, yang mana terlihat wajah tampan kecil itu sudah dipenuhi oleh air mata dengan tangan yang terus memeluk pinggang pria. "Paman, jangan pergi!" Max terus melontarkan kata-kata itu dengan air matanya.
"Hei, jagoan ...."
"Mommy! Aku tidak mau Paman pergi! Aaaaaa!" Sosok kecil itu beralih pada tubuh ramping Sashi dan menangis di sana.
"Mommy!"
"Lucas, kau mau ke mana? Ok, aku minta maaf tadi sudah ...."
Bukan karena itu, aku ada urusan di kantor. Karena itu aku ingin pergi. Tapi sepertinya Max sudah salah paham dan tidak mau mendengar ucapan ku."
"Sayang, dengarkan? Paman Lucas ada urusan."
"Iya, nanti Paman akan datang lagi."
"Tidak! Bohong! Nanti tidak akan datang! Aku tidak mau seperti Daddy yang bilang pada Mommy hanya sebentar tapi ternyata tidak!"
"Max ...." Sashi tidak dapat berkata-kata setelah mendengar penuturan dari putranya itu. Ia hanya bisa terpaku di tempatnya dengan melihat sosok putranya yang perlahan menghilang naik ke tangga.
"Aku akan mengurusnya." Lucas meninggalkan kunci mobilnya di meja dan bergegas mengejar sosok kecil itu.
"Nak ...."
"A-aku ... i-itu." Terdengar kesulitan dari ucapannya dan juga dadanya yang tampak turun naik dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sashi!" Mbok Tin menangkap tubuh yang jatuh terhuyung ke sofa itu.
"Lastri! Ambilkan air!"
__ADS_1
"Iya Mbok."
"Mbak!" Suara itu mengalihkan perhatian Mbok Tin yang cemas karena keadaan Sashi.
"Mbok, apa yang terjadi?"
"Nak, obatnya!" Mbok Tin berujar sambil mencari di lemari sekitarnya yang mungkin menjadi persembunyian obat itu. Ari tanpa banyak kata, langsung membantu mencari dan di lemari dibawah pajangan foto Malik obat itu berhasil ditemukan.
"Mbak, minum dulu." Dengan terengah-engah Sashi memasukkan obat itu kedalam mulutnya dan dengan cepat meminum air, sehingga tak lama sesak di dadanya mulai menghilang.
Sedangkan di sisi lain, tak kalah paniknya dengan pelayan dan dokter yang tengah memeriksa pria itu dengan sesak di dadanya, bahan obat yang diberikan tak mampu mengatasinya sehingga sekitar sepuluh menit kemudian, semuanya dapat bernapas dengan lega. "Tuan besar."
"Lakukan pemeriksaan, apa ada masalah lagi? Kenapa tiba-tiba bisa kambuh?" ucapnya sambil melihat sosok yang terbaring di ranjangnya.
"Baik Tuan."
"Menangis lah Boy. Ada Paman di sini."
"Pergi! Paman bilang ingin pergi! Pergi sa-na!" Terdengar pemberontakan dari tubuh kecil itu yang tentu tidak sebanding dengan pria dewasa seperti Lucas.
"Aku hanya ingin seperti yang lainnya. Aku tidak mau janji terus, a-aku ingin ... I-ingin ...." Tak lama suara itu perlahan-lahan mengecil disertai tangisan yang mereda. Lucas mengelus rambut hitam itu dengan perlahan dan setelah merasakan sosok kecil itu telah tidur. Lucas segera meletakkan nya di ranjang dan menyalakan suhu ruangan.
"Selamat tidur Boy." Lucas mengecup kening si mungil yang sudah kelelahan setelah meluapkan perasaan nya.
Langkah besar itu pergi keluar dan saat akan menutup pintu ia mendengar panggilan kecil dari Max yang membuat ia tersenyum kecil. Sedangkan di bawah, terlihat Ari yang menatap dirinya dengan penuh tanya dan di sampingnya terlihat Sashi yang menunggu jawaban darinya.
"Max sudah tidur, ia kelelahan. Jangan khawatir, tidak usah dipikirkan apa yang ia bicarakan. Mungkin alangkah baiknya, saat ia bangun segera ajak bicara, kau tentu paham Tania."
"Terima kasih dan maaf tadi aku ...."
__ADS_1
"Its ok, aku pergi dulu."
"Hati-hati." Sashi tidak berkata banyak dan terpaku di tempatnya. Lucas tersenyum dan segera pergi lalu mengambil kunci mobilnya di meja makan yang tertinggal.
"Ari, tolong ...."
"Baik Mbak."
"Mari Tuan Lucas." Lucas hanya mengangguk dan membiarkan pria itu mengantarkan dirinya hingga ke luar kediaman mewah itu.
"Aku tahu yang ada dipikiran mu. Mungkin kita bisa mengobrol nanti Sektretaris terbaik!" Lucas melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mewah itu dan Ari hanya diam di sana sambil melihat kendaraan itu menghilang dari pandangannya.
"Tutup gerbangnya!"
Bersambung.....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!!!!!
Tampan, kaya, berkuasa dan sempurna. Tiada kurangnya seorang Mikhail Abercio, tak pernah ia duga kesempurnaan yang ia miliki ternyata belum cukup untuk mendapatkan kesetiaan dari seorang wanita.
Dikhianati sang kekasih dan melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dia cintai tengah bercinta bersama sahabatnya di apartemen membuat Mikhail Abercio merasa gagal menjadi laki-laki. Sakit, dendam dan kekacauan dalam batinnya membuat pribadi Mikhail berubah 180 derajat bahkan sang Mama angkat tangan dengan ulah putranya.
Hingga, semua berubah ketika takdir mempertemukannya dengan gadis belia yang merupakan mahasiswi magang di kantornya. Valenzia Arthaneda, gadis cantik yang baru merasakan sakitnya menjadi dewasa tak punya pilihan lain ketika Mikhail menuntutnya ganti rugi hanya karena hal sepele.
"1 Miliar atau tidur denganku? Kau punya waktu dua hari untuk berpikir," bisik Mikhail Abercio sebelum kemudian kembali duduk ke kursi kekuasaannya. Dia tidak suka basa-basi, apalagi jika harus membuang waktu dengan gadis ingusan seperti Valenzia.
__ADS_1