Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Penyakit dan Obatnya


__ADS_3

Sashi dikejutkan dengan pemandangan biru kehijauan, air kristal itu terpancar terkena sinar matahari yang menyinarinya. Sashi dapat melihat apa yang ada di bawah air itu, terumbu karang dan ikan yang tengah asyik berenang di sana.


"Pantai! Aku suka sekali!" Sashi berlari ke dekat tangga yang langsung berhadapan dengan pantai. Sashi menurunkan kakinya dan merasakan dinginnya air yang menerpa kakinya.


"Sudah bangun?" Suara itu membuat Sashi menoleh ke pintu yang baru saja dibuka dan ia segera berlari ke sana.


"Sayang!" Sashi memeluk erat tubuh itu dan membuatnya Malik kehilangan keseimbangan dan terjatuh di ranjang.


"Auw, sayang kau memelukku erat sekali." Malik merasakan senangnya hati pujaan hatinya.


"Aku senang sekali! Terima kasih, kau yang terbaik." Karena merasa senang, Sashi tanpa sadar mendaratkan kecupan manis di bibir Malik. Membuat pria itu tak melepaskannya begitu saja, hingga keduanya saling melepaskan perasaan mereka lewat tautan bibir.


"Jangan memancingku Sashi, aku bisa lepas kendali nanti." Malik mengucapkannya dengan nafas berat, ia dapat merasakan rudal miliknya mulai bangkit karena aktivitas tadi.


"Maaf, aku senang sekali. Sampai lupa." Dashi perlahan bangkit, sebelum semakin runyam. Hingga keduanya terdiam beberapa saat dan Malik yang mulai tak terkendali menuju kamar mandi.


"Aku ke kamar mandi dulu." Sashi merutuki tingkah lakunya, meskipun mereka sudah berpacaran selama hampir 7 tahun. Keduanya menjaga batasan, baik Sashi ataupun Malik hanya berhubungan sebatas pelukan dan ciuman pipi atau kening saja. Karena bagi Malik, sebelum ada ikatan resmi diantara keduanya, maka tidak ada hubungan badan diantara mereka. Sashi sangat beruntung mendapatkan Malik yang begitu menghargai dirinya, tak lama Malik keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Sashi tentu tidaklah bodoh, ia tau apa yang terjadi di dalam sana.


"Aku minta maaf." Malik yang melihat rasa bersalah kekasihnya langsung mendekat dan menggenggam tangannya. " Tak apa, aku juga salah seharusnya aku tidak larut juga di dalamnya.


"Ayo, kita keluar. Kau akan senang melihat pemandangan di luar sana." Malik mengajak Sashi keluar dari kamar dan saat pintu baru saja terbuka. Netra Sashi langsung menangkap pemandangan laut lepas, rambutnya berterbangan karena disapu oleh angin. Sashi merasakan sensasi luar biasa dan ia memejamkan matanya, sosok tampan di sebelahnya tersenyum melihat wajah cantik itu terlihat menikmatinya.


"Sudah puas?" Malik bertanya pada Sashi yang baru saja membuka kembali netranya.


"Iya, anginnya segar sekali."


"Kita ketempat berikutnya." Malik mengajak Sashi mengelilingi pulau itu, pasir nan putih dan lembut menyapa kaki Sashi. Hingga setelah berjalan beberapa saat, keduanya duduk di sebuah gazebo yang di sediakan dan sudah tersedia makanan dan minuman.


"Ini...."


"Spesial untukmu." Malik tentu tau kesukaan wanita cantik itu yang begitu tergila-gila dengan seafood. Dan benar saja, tak lama Sashi menikmati sajian dihadapannya serta menyuapi Malik yang juga menyukai seafood seperti dirinya meskipun tidak semuanya.


"Akhh, kenyang sekali. Benar-benar sangat lezat!"

__ADS_1


"Ini belum semuanya." Perkataan itu membuat Sashi mengerutkan keningnya karena penasaran dengan ucapan kekasihnya itu.


"Memangnya ada apa lagi?" tanya Sashi yang dibalas senyuman manis Malik.


"Rahasia..., spesial untukmu."


"Jadi main rahasia ceritanya? Baiklah!" Langit mulai menunjukkan tanda-tanda akan gelap. Matahari sudah menghilang dan suasana diganti dengan sinar lampu yang dinyalakan membuat suasana menjadi terlihat indah dan romantis.


Sashi yang baru saja selesai mandi, menemukan secarik kertas di ranjangnya yang bertuliskan sesuatu yang membuatnya tersenyum lebar.


Pakailah ini, dan aku menunggu mu di pantai tadi siang. Sashi langsung mengambil pakaian itu dan segera memakainya setelah kain berwarna putih itu melekat di tubuhnya, pintu terdengar diketuk dan terlihat seorang wanita pelayan yang membawakan sepiring buah. Mata Sashi membesar saat melihat kumpulan buah itu yang membentuk serangkaian kata. "Jalan sebanyak 5 langkah."


Tanpa banyak kata, Sashi melangkahkan kakinya sebanyak 5 langkah dan saat sampai di sana ia disambut dengan sekumpulan mawar yang bertuliskan sesuatu lagi.


"Jalan kedepan dan temukan kelopak yang paling merah." Sashi yang sungguh penasaran terus mengikutinya dan saat sampai benar saja, terlihat sekumpulan kelopak bunga mawar berwarna merah yang mengelilingi meja makan malam. Terlihat lampu dinyalakan dan terlihat pria yang sedari tadi ia cari, datang dengan pakaian senada dengannya yang membuatnya terlihat tampan.


"Sashi..."


"Malik i-ini?" Malik mendekat dan mengajak Sashi duduk dan pelayan langsung menyajikan makanan untuk mereka.


"Kenapa seperti ini segala, aku pikir ada apa."


"Kau tidak suka?"


"Suka! Hanya saja tadi aku...." Sashi tidak melanjutkan ucapannya karena ia berpikir Malik akan melamarnya.


"Sashi aku ingat mengatakan sesuatu." Sashi langsung menyalakan telinganya dan mendengarkan ucapan Malik.


"Iya? apa?" Ia berharap ia akan dilamar seperti novel dan film yang ia lihat.


"Sashi, aku mengalami sakit..."


"Sakit apa? Apa parah?" Sashi langsung panik dan berdiri dan mendekat pada Malik. Lamunan indahnya langsung buyar karena pernyataan Malik.

__ADS_1


"Sashi, aku sedikit mengalami sakit saat ini dan tidak bisa disembuhkan sebelum..."


"Sebelum apa? Katakan Malik! Jangan buat aku khawatir!" Sashi langsung menangis membuat Malik terdiam.


"Kalau begitu parah, ayo kita segera pulang!" Sashi langsung menarik tangan Malik, namun Malik menghentikannya membuat dashi bingung.


"Sayang?"


"Sashi, penyakit ku hanya bisa disembuhkan dengan satu hal dan berjanjilah kau akan menepatinya!"


"Iya! Aku berjanji akan melakukan apapun! Katakan kau sakit apa sayang?"


"Aku mengalami sakit parah dan hanya bisa disembuhkan dengan ...."


"Katakan!"


"Dengan pernikahan! Sashi penyakit dihatiku hanya bisa disembuhkan dengan pernikahan dan juga buku nikah. Sontak saja Sashi masih terdiam mencerna ucapan Malik.


"Malik kau... melamar ku?" Sashi bicara pelan dengan air mata yang masih menghiasi wajahnya.


"Sashi maukah kau menjadi obatku dengan cara melangsungkan pernikahan denganku?" Malik mengeluarkan cincin yang sudah ia siapkan dan membuat Sashi hanya bisa mengangguk karena tak dapat berkata-kata. Dan Malik yang melihatnya langsung memasangkan cincin itu dan memeluknya, keduanya saling berpelukan dengan Sashi yang menepuk dada Malik karena kesal dan dikerjai dan senang dengan bayangannya yang menjadi kenyataannya.


"Kau membuatku khawatir! Jangan ulangi lagi, aku pikir kau benar sakit parah!"


"Aku benar sakit, saat jauh darimu tubuhku langsung sakit, kepalaku pusing sekali dan hatiku cemas tak menentu. Tapi sekarang kau akan menjadi pengobatannya seumur hidupku! Aku mencintaimu Sashitania."


"Aku juga Malik Darmanendra." Mereka saling berpelukan dikelilingi lampu dan kelopak mawar dan deburan lembut ombak seperti alunan musik klasik.


Bersambung....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!

__ADS_1



Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?


__ADS_2