
Suasana menjadi tegang seketika, terlihat raut wajah ketakutan dari sosok kecil itu yang tengah dipeluk erat oleh tubuh itu. Sedangkan di sisinya terlihat pria dengan wajah garangnya menatap pria yang hampir saja membunuh sosok kecilnya.
"Tangkap dia! Dia hampir membunuh putra ku!
"Hahahaha, putra? kau tidak salah?"
"Diam!"
"Aku salut padamu, kau mengatakan...."
"Apa mau mu! Kau tidak pernah membuat hidupku tenang! Bahkan kau menyakiti putraku! Apa masih kurang?" Sashi akhirnya bersuara, tapi itu tak membuat Mahesh takut. Justru tertawa cekikikan dengan ucapan dari bibirnya.
"Kau ingin tau? Karena aku tidak suka melihat ada darah Malik yang masih hidup! Mengerti?" Sashi tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Segera bawa ia pergi! Dan hukum dia! Aku akan membawa pengacara untuk memberatkan nya dan juga di belakangnya." Lucas menunjuk wajah dihadapannya itu.
"Jangan kau pikir semuanya akan berakhir Sashi! Kau tidak tahu, sosok yang ada bersamamu saat ini, adalah...."
"Bawa dia!" Sashi menatap kepergian Mahesh dengan beberapa polisi.
"Kalian tidak apa? Max?"
"Paman! Aku sangat takut. Paman kemana saja? Aku sangat rindu. Jangan pergi!" Max memeluk tubuh Lucas dan menangis di sana. Sedangkan Sashi hanya diam melihat. Dirinya bersyukur Lucas datang tepat waktu saat pisau itu hampir merenggut nyawa putranya.
"Terima kasih." Sashi memecah keheningan setelah putranya tertidur pulas.
"Tidak perlu, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Max."
"Kau pergi ke mana?"
"Kau jadi cerewet ya." Bukannya menjawab, Lucas bertanya balik pada Sashi membuat wanita cantik itu terdiam.
"Jawab pertanyaan ku, kau ke mana saja. Max bertanya karenanya."
"Aku ada urusan."
"Lalu ponselmu kenapa tidak aktif?"
__ADS_1
"Aku mematikan nya untuk menyelesaikan urusan ku di sana."
"Lain kali jangan begitu. Aku berpikir kau pergi dan ..."
"Dan apa? Lagipula kita tidak memiliki hubungan apapun, kau lupa? Dan untuk Max itu tidak perlu dikhawatirkan, aku sudah tahu." Keduanya kembali terhening di malam itu.
"Lucas!" Panggil Sashi membuat pria itu terhenti dan menatapnya.
"Ada apa? Sebaiknya kau juga tidur, sudah malam."
"Lucas, jika kau mengatakan dan memecahkan masalahmu kematian mas Malik. Aku akan ...."
"Akan apa?"
"Akan mempertimbangkannya dan ...."
"Jujur saja Tania, aku tidak ingin kau terpaksa karena ini."
"Tidak, tapi aku ingin dan percaya kau bisa membantu ku untuk keluar dari masalah ini Lucas. Bantu aku, jika memang cintamu dapat membuat hatiku kembali mekar dan juga bersemi maka berikanlah padaku." Lucas menatap wajah itu, terlihat kedua netranya menatap balik netra yang penuh dengan kejujuran akan ucapannya.
"Lucas ...."
"Dan melanjutkan pembicaraan ini."
"Selamat malam Lucas."
"Selamat malam juga." Setelah sosok Lucas menghilang, Sashi duduk di samping ranjang putranya dengan memikirkan sesuatu.
"Huff, aku akan menunggunya. Dan aku harap tidak salah. Bukankah semuanya belum terlambat?" Tak lama karena merasa lelah. Sashi akhirnya tertidur pulas.
Matahari keluar dengan malu-malu. Sosok kekar itu datang dan menatap Ibu dan anak itu yang tengah terlelap bersama. Ia duduk di sana dengan pikiran yang menerawang saat semalam. " Tuan anda yakini untuk mengatakannya?"
"Iya, kalau tidak, ia akan mendengar dari orang lain yang mungkin akan menambah masalah nanti. Apapun keputusannya, aku akan menerima dengan catatan aku harus melihatnya agar tak terjadi hal buruk nantinya."
"Baiklah Tuan."
"Paman?"
__ADS_1
"Max sudah sadar? Max ingin apa?" Tanya Lucas disertai memangku Max yang tersenyum kepadanya.
"Aku seneng Paman di sini. Aku ingin minum saja." Ujar Max dengan memeluk tubuh itu.
"Baiklah, ini untuk panther kecil ku." Dengan beberapa tegukan Max menghabiskannya.
"Terima kasih Paman. Paman tampan sekali."
"Max juga." Percakapan keduanya terhenti saat Sashi terbangun.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi Mommy."
"Selamat pagi Tania."
"Max ingin makan apa?" Tanya Sashi pada putranya itu.
"Aku ingin bubur ayam dengan kerupuk yang banyak, tapi aku mau ditemani oleh Paman Lucas."
"Baiklah. Segera meluncur."
"Lihat ini Paman bawakan." Ari baru saja datang dengan beberapa bungkusan bubur di tangannya membuat wajah Max tersenyum bahagia.
Tak lama Max makan dengan lahap ditemani oleh Ari, sedangkan Lucas dan Sashi sedang duduk di ruangan lain dengan kebisuan sesaat.
"Bacalah ini." Lucas memberikan dokumen dan Sashi segera membacanya.
"Keputusan ada padamu. Silahkan kau pikirkan, ini adalah jawaban dari pertanyaan dan misteri dibalik kematian suamimu." Sashi dengan gemetar membaca tulisan di sana dan tak terasah air mata itu mengalir. Lucas pergi meninggalkan Sashi dengan pikirannya dan bukti yang ia berikan.
"Lucas! Aku ....."
Bersambung......
Apakah keputusan Sashi, misteri akan terpecahkan di episode berikutnya ya.
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1