
Suasana hati Malik sangat bahagia karena pekerjaannya telah selesai. Dengan riang ia mengirim pesan pada istrinya dan Sashi turut bahagia dan tidak sabar menunggu kepulangan suaminya.
"Akhirnya kita selesai juga Mas, aku sudah membereskan barang-barang ku dan Alya sangat senang dan Hans terlihat cerewet dan terus celoteh." Ari datang dengan kopi ditangannya dan memberikan satu pada Malik. Kedua pria itu sama-sama sangat bahagia karena pekerjaan mereka telah selesai dengan begitu mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga kecil mereka.
"Iya kau benar Ari dan terima kasih atas kopinya dan juga bantuan mu selama di sini."
"Itu sudah tugasku Mas, tidak perlu sungkan begitu. Lagipula Mas memang membutuhkannya karena aku tidak sabar ingin segera mendengar dan menggendong keponakan ku."
"Iya, dan aku merasakan mendapat jackpot setelah kita berhasil bekerjasama dengan Tuan yang dikenal garang dan sulit itu."
"Mas benar sekali, aku merasa ada sesuatu yang saat bertemu dengannya tapi semuanya hilang saat lancar dan berakhir dengan baik."
"Iya begitulah, terkadang sesuatu yang kita bayangkan kenyataannya tidak seperti itu." Jam menunjukkan 9 malam dan besok mereka akan pergi meninggalkan kota ini jam 10 dan akan sampai sore hari di rumah. Keduanya langsung tertidur pulas karena tidak sabar menunggu hari esok.
Disisi lain terlihat raut ketakutan dari sesosok pria yang menunggu jawaban dari pria dihadapannya. Ia baru saja menyampaikan sesuatu yang pastinya kabar buruk.
"Jadi, tidak ada cara lain?" tanyanya dengan mata nyalang dengan tangannya yang terkepal kuat.
"Tidak Tuan. Kita tidak punya cara lain, harus segera bertindak cepat. Kalau tidak ...."
"Besok ia pergi bukan? Kau sudah tentu mengawasinya?"
"Sudah Tuan, tapi sepertinya ada perubahan sedikit rencana."
"Tak masalah, yang jelas lakukan dengan rapi. Aku mau dalam sekali tindakan semuanya sudah berada di genggaman ku. Lakukan dengan baik, ia adalah orangnya. Aku tidak ingin ada kegagalan, untuk menggantikan satu nyawa maka aku akan menghabisi nyawa yang lainnya!" Bersamaan dengan itu terdengar suara pecahan dari gelas di tangannya.
__ADS_1
"Baik Tuan, akan segera saya laksanakan. Tuan tidak akan kecewa."
"Aku ingin hasil bukan sekedar kata-kata! Lakukan dengan baik! Pergilah!"
"Baik Tuan, saya permisi." Dengan terbirit-birit ia meninggalkan ruangan itu.
"Apa yang sudah aku targetkan, tidak akan bisa lolos!"
Keesokan harinya tepat jam 8 pagi. Terlihat Ari sudah panik dan dengan cepat ia menemui Malik yang terlihat baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Ada apa Ari? Kau terlihat gelisah, apa yang terjadi?"
"Mas Malik, aku ingin pulang duluan. Alya baru saja mengubungi ku karena Hans sedang sakit. Ia sejak semalam demam tinggi, Alya sudah membawanya ke dokter tapi tidak ada perubahan. Hans sejak tengah malam terus memanggil dan mengigau nama ku Mas." Malik terdiam sesaat, sebenarnya sebelum mereka pulang setelah sarapan, keduanya akan pergi ke tempat gudang untuk melihat barang-barang yang baru datang dan akan segera diangkut.
"Pergilah! Aku bisa sendiri, kau lupa kemampuan ku?"
"Tidak, tapi aku sudah berjanji pada Mbak Sashi akan pulang bersama dengan Mas. Kita pergi bersama dan harus pulang bersama."
"Cepat pulang atau aku akan marah! Hans sangat memerlukan mu, kau ini bagaimana?"
"Aku akan meminta salah satu pegawai menemani Mas, setelah itu aku baru bisa lega. Setelah jam sembilan aku akan menghubungi Mas atau Mas kabari aku ya. Atau Mbak Sashi akan marah dan memukulku."
"Iya, sekarang berangkatlah! Ini oleh-oleh dariku untuk Hans." Malik tampak membawa sebuah bingkisan yang berbetuk lingkaran di tangannya dan membuat Ari yang baru saja selesai mengubungi pegawai sedikit kebingungan.
"Kenapa berikan sekarang Mas? Bukankah nanti kita akan bertemu?"
__ADS_1
"Iya, tapi kau mungkin lupa. Aku akan segera berangkat ke tempat yang indah nanti. Jadi mungkin tidak akan sempat. Dan lebih baik aku berikan sekarang, ini untuk si kecil tampan. Ia pasti akan suka."
"Aku lupa. Mas pasti tidak sabar dan langsung lepas landas nanti." Ari menerima bingkisan itu dan segera berpamitan dengan Malik, tampak wajah tampan tersenyum menghiasi kepergian Ari.
"Hati-hati ya. Dan bilang pada istriku, aku mencintainya dan jaga dia ya! Aku menyayangimu Adik!" Ari sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu, tapi karena tidak jelas. Ia hanya mendengar kata sayang dari Malik dan itu membuat dirinya tersenyum. Memang Malik menyayangi dan menganggap Ari sebagai adiknya, pria itu begitu peduli dan baik kepada dirinya dan juga istrinya serta Hans.
"Dasar Mas Malik, kenapa berteriak seperti itu. Kalau di dengar orang lain pasti akan mengira 🌈."
Mobil pun melaju memecah jalanan itu, saat lampu merah, pandangan Ari terhenti dan menangkap sesosok yang ia kenal. "Bukankah ia Tuan ... Kenapa ia masih di sini? Bukankah ia seharusnya sudah pergi beberapa hari yang lalu? Dan dengan siapa ia bicara?" Begitu banyak pertanyaan di benaknya dan seketika pikiran buruk menghantui nya karena melihat pria itu yang tengah mengobrol dengan beberapa orang berpakaian hitam.
"Jangan berpikiran buruk Ari. Itu semua tidak benar! Pikirkan yang baik saja! Ingat kata Mas Malik." Ari melihat GPS yang ia pasang di ponsel Malik. Pria itu tidak bodoh dan meninggalkan Malik begitu saja tanpa dirinya, hanya untuk berjaga-jaga.
"Sepertinya Mas Malik belum jalan. Aku akan melihatnya dari sini, karena jika bertemu dengan Mbak Sashi ia akan banyak bertanya."
Dret ... Dret ...
"Ya Sayang? Aku sedang di jalan. Aku akan segera sampai siang nanti. Aku mencintaimu"
Tut ... Tut ...
"Hans, ayah datang!"
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
__ADS_1