
Sashi menikmati waktu perkembangan emas putranya, yang semakin aktif dan pintar. Max sedang bermain bola bersama Mbok Tin karena Hans tidak bisa datang karena sudah memasuki ujian. Semakin tumbuh dan berkembangnya putranya itu semakin terlihat wajah Malik di sana.
Deringan ponsel menghentikan pandangan Sashi dan beralih melihat nama yang tertera di sana. "Ari?" Dengan segera ia mengangkat panggilan itu dan terdengar suara Ari di sana.
"Halo Mbak."
"Ada apa Ari?"
"Mbak besok kita ada pertemuan dengan salah satu investor asal Malaysia Mbak. Dan sesuai kesepakatan mereka akan datang dan bertemu dengan Mbak."
"Ah iya, aku hampir saja lupa. Terima kasih Ari."
"Sama-sama Mbak."
"Mommy!" Terdengar suara manis itu saat bola miliknya menggelinding ke arah Sashi.
"Bolanya!" Dengan senyuman Sashi segera menendang bola itu hingga ke arah putranya dan
__ADS_1
Gol! Gol!
Max tampak tertawa senang melihat bola yang ia tendang berhasil masuk ke gawang dan mencetak gol. Baik Mbok Tin serta pelayan kepercayaan di sana melihat kegembiraan dan turut bahagia di buat si kecil tampan itu.
"Aku hebat kan Mommy?"
"Yes, putra Mommy yang terbaik dan juga hebat!" Sashi memeluk dan tak lupa memberikan ciuman kepada jantung hatinya itu.
Setelah makan malam terlihat mata bulat itu mulai terkantuk-kantuk dan beberapa kali hampir terjatuh di sofa membuat Sashi yang baru saja selesai dari dapur langsung memangku putranya itu, dan benar saja tubuh kecil itu langsung tersandar dan memeluk dirinya.
"Ayo sayang kita tidur." Sashi menggendong putranya menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Saat pintu terbuka mata telah dihiasi oleh pemandangan ranjang berwarna biru tua dengan campuran abu-abu dan beberapa hiasan dan stiker kesukaan Max. Dan tak lupa di dinding terdapat pigura besar sosok Malik di sana. Sehingga saat akan tidur dan bangun Max merasa Daddy nya selalu melihat dan menyambutnya.
Tak lama kemudian, benar saja putranya itu sudah tertidur pulas dan Sashi mengelus rambut putranya dengan sayang. "Mas, dia sudah berusia 3 tahun sekarang. Aku tidak menyangka bisa membesarkan dirinya tanpamu."
Dentingan jam menunjukkan pukul 11 malam, Sashi yang baru saja menyelesaikan dokumen ya harus ia tanda tangani dan juga beberapa perjanjian untuk besok. Langkah kaki itu mulai menuju lantai atas tapi saat berada di lorong, pandangannya terhenti di sebuah pintu. Senyuman mengembang saat membuka ruangan itu di mana di sana adalah kenangan manis Malik dengan dirinya saat pertama menginjakkan kaki ke rumah ini. Jika orang-orang akan melihat kamar terlebih dahulu saat melihat rumah mereka, maka tidak dengan pasangan Sashi dan Malik, keduanya terlebih dahulu melihat ruangan gym saat pertama kali kemari.
"Ruangannya pas sekali. Perfect!" ujar Malik saat membuka pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Aku rasa mereka perlu diberikan beberapa lembar lagi. Karena hasil rancangannya sangat indah dan tertata rapi, belum lagi barang-barangnya diletakkan dengan rapi."
"Dengan begini, aku tidak akan perlu keluar lagi dan membiarkan mu dilihat oleh mata jelalatan semua orang di gym." Malik merengkuh tubuh ramping itu dan membuat Sashi tersenyum mendengarnya.
"Dan aku juga tidak perlu berbagi tubuhmu itu dengan wanita jelalatan di luar sana. Karena kau hanya milikku! Tuan Malik." Sashi membalas pelukan suaminya dengan erat dan tak lama keduanya saling berciuman di ruangan kebugaran itu.
Senyuman Sashi masih terkembang saat melihat dan menyentuh beberapa alat kebugaran di dalam sana yang masih tertata dengan rapi dan baik. "Sepertinya sudah cukup lama, aku tidak kemari. Lihatlah, baru naik tangga saja aku sudah kelelahan, biasanya kita akan latihan dan olahraga bersama." Sashi terduduk di salah satu alat dan memandanginya, begitu banyak kenangan yang ada dirumah ini. Wanita itu tidak akan melupakannya begitu saja, di manapun dirinya berdiri akan selalu ada kenangan manis di sana.
Sashi membuka pintu yang menghadap ke pemandangan luar yang dihiasi dengan lampu kota dan rumah di sekelilingnya. Biasanya mereka berdua akan duduk setelah olahraga sambil bersenda gurau dan bermesraan setelah pekerjaan yang berat yang mereka lewati.
"Jika boleh jujur, aku sangat merindukanmu sayang. Sangat ...." Mata itu memandangi pemandangan malam dengan angin yang menerpa dirinya yang begitu dingin.
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Episode berikutnya akan tayang malam ini 😘
__ADS_1