
Ruangan yang tadinya rapi, sekarang menjadi kacau dan barang-barang berserakan di mana-mana. Semua orang tidak berani bicara dan hanya tertunduk diam dalam kemarahan pria itu.
"Sial! Gagal lagi!"
"Tenanglah Yah, aku akan ...."
"Akan apa? Hah? Kau tidak lihat kegagalan ini? Ternyata mereka benar-benar tidak bisa diremehkan! Bahkan anak kecil itu, lebih pintar darimu!"
"Ayah, aku sudah melenyapkan wanita itu setidaknya sebelum ia bicara."
"Benar, tapi permasalahannya belum selesai begitu saja. Jika begini terus maka ...."
"Sayang, jangan marah seperti itu. Tidak baik untuk kesehatan jantung mu Sayang." Suara lembut itu datang dan menghentikan amukan pria itu.
"Kalian pergilah!" Wanita itu melambaikan tangannya dan semua pelayan meninggalkan ruangan itu.
"Duduk dulu sayang, tidak baik marah begitu." Tangan lentik itu mengusap dada pria itu.
"Kau tidak mengerti? Kita gagal!"
"Aku mengerti, tapi kegagalan adalah bukanlah akhir dari segalanya. Jika kita hari ini gagal maka kita akan mencoba lagi sampai berhasil." Wanita itu dengan senyumannya membujuk pria itu.
"Lagipula ini bukanlah suamiku, penuh amarah dan kekalahan. Kita pikirkan cara lain, jika cara itu belum berhasil, kita gunakan cara yang lain."
"Sudah ...."
"Aku tau, tapi terkadang kita perlu waktu yang tepat untuk menyerang. Jika saat ini tidak bisa, maka kita cari waktu yang tepat. Sayang jika kita terus menerus menyerang dirinya. Tidakkah ia akan tau dan semakin waspada?"
"Iya, dia pasti tau."
"Itulah yang ku maksud, sayang jika terus menyerangnya maka ia akan tau pergerakan kita dan mencegahnya berbagai cara, tapi jika kita menyerangnya di saat tidak terduga maka itu akan menjadi ledakan yang besar!"
"Kau mengerti Sayang?" tanyanya sambil mengelus pipi tirus itu. Seketika wajah yang tadinya penuh dengan amarah, sekarang berubah menjadi senyumannya menyeringai dan tawa.
"Kau pintar Sayang." Pria itu mengecup pipi wanita itu sebagai ungkapan terima kasihnya.
"Tentu saja, istri siapa dulu."
__ADS_1
"Tentu saja istri ku!"
"Dan kau Mahesh, tentu sudah mengerti apa yang harus dilakukan bukan?"
"Tentu Bu, aku mengerti. Sangat mengerti!" Balasnya dengan senyuman seringainya.
"Kalau begitu, kita biarkan mereka menikmati waktu bahagia mereka. Dan saat mereka lengah, kita bom mereka dan kebahagiaan itu akan menjadi kesedihan. Persis seperti kematian Malik!"
"Aku jadi merindukan putraku itu, bukan begitu Mahesh?"
"Tentu saja Ayah, aku merindukan kakak ku itu. Terutama merindukan keluguan dirinya."
"Dia itu memang sangat persis seperti dirinya bukan? Kau pasti ingat dengan itu." Wanita itu bangkit dan memberikan minuman kepada suaminya.
"Sangat, dia selalu memenuhi pikiran dan kehidupan ku." Pria itu menerima minuman dari istrinya dengan menggenggam gelas itu begitu erat.
"Dan sekarang, masih saja ada keturunannya yang tersisa yang setelah perjuangan ku hampir 25 tahun."
"Jangan khawatir, kita akan segera melenyapkan semuanya."
"Dan Ayah, ingat perjanjian nya kan?" Mahesh bersuara mengingatkan Ayahnya.
"Ayah harus menepatinya karena aku sangat menginginkan dirinya." Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Dia sepertinya tergila-gila sekali dengan wanita itu."
"Iya, bahkan sejak Malik masih hidup."
"Cinta tak terbalas rupanya."
"Iya, aku akui wanita itu memiliki sesuatu yang membuat pria tertarik padanya."
"Apa aku tidak begitu?" Wanita itu duduk dipangkuan nya.
"Tentu saja, kau yang tercantik dan berikan aku ciuman panas." Pria itu merengkuh tubuh wanitanya dan ruangan itu penuh dengan decapan dan suara lainnya.
Di ruangan putih itu, terlihat wajah semua orang yang tadinya penuh dengan kecemasan berganti dengan kebahagiaan saat melihat sosok yang terbaring beberapa hari itu, sekarang telah sadar.
__ADS_1
"Apa ada yang sakit Mbok?"
"Tidak Nak, sudah baikan. Mbok merasa sangat baik."
"Aku cemas sekali, aku khawatir Mbok."
"Maafkan Mbok, membuat mu dan yang lainnya cemas."
"Tidak Mbok, aku justru tidak sanggup jika terjadi sesuatu dengan Mbok."
"Bagaimana dengan cucuku?"
"Dia ada di sini." Terlihat Ari dan istrinya beserta Hans yang tampan mendorong stroller bayi Max yang terlihat begitu anteng di dalamnya.
"Oh, cucuku yang tampan." Mendengar suara itu, di kecil Max perlahan terbangun dan tersenyum melihat Mbok Tin yang mengajaknya bicara.
"Apa semuanya sudah selesai?"
"Iya Mbok, semuanya telah selesai."
"Jadi, siapa orangnya?"
"Dia ...."
Bersambung.....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
__ADS_1
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?