Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Penyemangat ku


__ADS_3

Sashi terbangun saat mendengar bunyi yang cukup keras di bawah, maklum saja kamarnya berada di lantai 2 dan suaranya itu terdengar dari lantai 1. Sashi mencoba perlahan bangkit dan mengumpulkan kesadarannya, saat ia sudah sadar air mata itu kembali mengalir.


"Mas Malik, kenapa kau meninggalkanku sendiri Mas? aku sekarang sendirian... kalau kau pergi aku dengan siapa? aku tidak punya siapapun lagi... kau tega sekali meninggalkanku... hiks... Mas... Bawa aku..."


"Bawa aku Mas!" Sashi berteriak membuat Mbok Tin terkejut dan segera naik ke lantai 2, awalnya ia sedang membuatkan makanan untuk Sashi dan juga kandungannya.


Saat wanita paruh baya itu baru saja membuka pintu, matanya langsung terbelalak melihat pemandangan dihadapannya, yang mana terlihat Sashi ingin gantung diri dan sedang memandang talinya.


"Nyonya!" teriaknya dan ia langsung menghentikan Sashi lebih lanjut.


"Lepaskan Mbok! Aku mau ikut mas Malik! Aku tidak bisa hidup tanpanya Mbok! Lepaskan aku!" Sashi terus berteriak dan memberontak hingga akhirnya Mbok Tin berhasil menghentikan aksi konyol dan berbahaya itu. Tampak Sashi menangis dan terlihat putus asa, ia terus memanggil nama suaminya membuat Mbok Tin memeluknya.


"Kenapa Mbok? Kenapa Mas Malik meninggalkan ku? Aku ingin ikut saja Mbok... tolong... jangan halangi aku..." ujar Sashi lirih.


"Apa Nyonya tega menghilangkan nyawa yang tidak bersalah?" ujar Mbok Tin membuat Sashi terdiam sejenak dan melihat kearah Mbok Tin.


"Apa maksudnya Mbok?" tanya Sashi tidak mengerti.

__ADS_1


"Ada kehidupan kecil di sini..." tunjuk Mbok Tin yang membuat Sashi terpaku.


"Tuan Malik meninggalkan sesuatu untuk Nyonya... apakah Nyonya tega melakukannya?"


"Aku hamil?" tanya Sashi yang masih belum menyangka.


"Iya... sudah 2 minggu, tidakkah Nyonya bahagia karenanya?"


"Mbok tidak bohong kan?" tanya Sashi, jujur saja ia tidak ingin terkena kata-kata bohong lagi.


Sashi termenung sejenak, ia mengingat kapan ia terakhir datang bulan, jika dihitung memang sesuai dengan usia kehamilan nya saat ini. Ia tidak tahu ia harus senang atau menangis, disatu sisi ia senang ada mahkluk kecil yang hidup di rahimnya, dan disisi lain ia menangis karena kehilangan suaminya dan ia tak bisa memberitahukan hal ini karena Malik sudah pergi meninggalkannya.


"Ini adalah peninggalan dari Tuan Malik untuk Nyonya... ia tidak ingin kesedihan melanda karena sebenarnya hidup Nyonya masih panjang, bukankah ini impian Nyonya? Akhirnya sudah terwujud..."


"Hiks... hiks... hiks"


"Apa yang hampir kulakukan? Aku hampir membunuhnya Mbok..." Sashi merasa menyesal dan hampir saja membunuh bayinya yang sedang berkembang di rahimnya.

__ADS_1


"Sekarang tidak lagi... Nyonya sudah sadar bukan."


"Terima kasih Mbok." Sashi memeluk erat tubuh Mbok Tin dan menyalurkan perasaannya yang sedang campur aduk.


"Nyonya akan berjuang kan?"


"Iya Mbok... aku akan berjuang, ada buah cintaku dan Mas Malik disini. Aku harus kuat bukan? Aku akan memberikan semua yang ku punya untuknya," ujar Sashi dengan semangat yang membuat Mbok Tin merasa lega.


"Apa dia baik-baik saja Mbok? Karena aku tidak menjaga kesehatan dengan baik," ujar Sashi dengan khawatir akan keadaan janinnya.


"Keadaan baik, hanya saja sedikit lemah Nyonya, karena itu dokter memberikan vitamin dan obat untuk Nyonya."


"Syukurlah, maafkan Mommy ya sayang... mulai hari ini Mommy akan menjagamu... Mommy mencintaimu sayang, sehat selalu ya, karena kau adalah penyemangat hidup Mommy," ujar Sashi sambil menyentuh perutnya yang masih rata.


Bersambung...


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya, terimakasih semuanya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2