
Hujan menyertai air mata di wajah mulus itu. Tulisan yang tertulis di kertas putih itu membuat isak tangis Sashi tak berhenti.
Hai Sayang, beberapa hari tidak bertemu membuat ku sangat rindu. Kau tau sejak datang kemari, aku sangat merindukan semuanya tentang dirimu. Mulai bangun pagi dan mendapatkan ciuman selamat pagi, memasang dasi dan ocehan sebelum tidur, aku merindukan semuanya. Akhirnya selama hampir seminggu aku telah menyelesaikan tugas di sini. Dan aku tidak sabar, untuk pulang dan bertemu denganmu, tapi kau tahu, aku bermimpi bahwa aku melihat sosok mungil yang tersenyum padaku, wajahnya persis seperti ku. Dan kau menjadi kesal karenanya, tapi saat bangun aku hanya sendiri. Mungkin itu pertanda baik dari keinginan ku selama ini, dan aku harap memang begitu. Tapi sayangnya, sebuah kejadian kecil membuat ku terhenti dan tertidur sesaat sayang. Ada beberapa luka yang menghiasi ku dan juga rasa gigitan semut di sekujur tubuhku. Aku ingat menyembuhkannya dulu, karena itu aku tidak menghubungi mu sesuai janjiku. Sayang, beberapa jam setelahnya para semut itu kembali menghantui ku dan sekarang mereka berjalan di paru paru ku. Aku merasa mungkin sudah waktunya untuk piknik yang jauh, tapi hatiku berkata akan segera mendapatkan kabar yang baik. Karena itu aku menitipkan detak jantungku pada seseorang, karena dengan begitu aku bisa merasakannya. Aku berharap selama aku pergi, kau bisa menjaga diri dengan baik dari semuanya, meskipun aku mengawasi mu Sayang. Jika sosok kecil itu tumbuh aku harap ia jagoan agar bisa menjaga mu. Lihat sekarang tulisan ku mulai menari tak jelas, aku harap kau masih mau membacanya. Aku memberikan sebuah kotak indah yang aku yakin kau akan menyukainya, karena aku tidak mau membuat mu kecewa dengan tulisan dan juga rekaman tak jelas dari wajah jelekku nanti. Satu hal yang harus kau tau, aku sangat mencintaimu Sashi Tania.
Tulisan itu berakhir dengan tetesan air yang mengalir sehingga membuat tulisan itu mengabur karenanya. Sashi memeluk erat kertas itu yang merupakan rangkaian kata-kata dari suaminya.
"Ternyata, putra kita sudah bertemu denganmu ya. Kau benar, dia seperti dirimu. Persis seperti mu, tidak ada yang ia warisi dariku. Aku benar benar kesal karenanya, tapi ia menjaga ku dengan baik." Meksipun dadanya sesak, ia tetap bicara pada pigura yang ada dihadapannya saat ini.
Tangan itu kembali terulur melihat kotak persegi yang berhiaskan pita merah di sana, dan juga terdapat kaset rekaman di sana. Rekaman di mulai, terlihat kegelapan yang menyelimuti hingga akhirnya sekitar satu menit kemudian, terlihat wajah itu tersenyum meskipun pucat dan juga perban yang menghiasi wajahnya.
"Aku tidak punya banyak kata, kau tau sayang. Aku sangat gugup saat ini, mungkin karena wajah ku sedang jelek sekarang, dan juga beberapa pita ini di tubuhku. Tapi, ketahuilah aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku minta maaf tidak bisa pulang tepat waktu, aku tau kau marah tapi aku memberikan sebuah hadiah istimewa untukmu sebagai imbalannya. Sashi sungguh di menit napasku yang terakhir aku hanya mencintai mu dan jika ia sudah tumbuh dan besar nanti. Katakan padanya bahwa Daddy nya sangat mencintai dirinya." Rekaman itu berakhir dengan cepat, tiga menit yang berharga bagi Sashi, ia melihat wajah suaminya sebelum pria itu pergi meninggalkan nya.
Selanjutnya kotak itu perlahan ia buka dan mata itu kembali mengalirkan air mata dan menyebabkan pipi itu kembali basah. Sebuah gelang berukiran nama nya dan juga nama Malik di sisi luarnya. Sashi teringat akan permintaan nya saat itu, di musim gugur. Sepasang kekasih itu sedang menikmati festival di sebuah mall besar dan ternama. Kilauan emas itu menarik wanita cantik itu untuk mendekat dan mengajak sang pria tampan di sebelahnya ikut serta.
__ADS_1
"Sayang, lihat! Ini bagus sekali ya." Sashi berujar sambil matanya menatap sepasang gelang yang dipajang di sana.
"Iya, sangat bagus. Desain nya juga sangat indah."
"Hmmm, aku ingin ada namamu dan namaku di sini, agar semua orang tahu bahwa kau adalah milikku dan aku akan selalu melekat di sana bersamaan dengan kilauan cinta kita."
"Berapa harganya?" Tiba tiba saja, Malik bertanya pada sang penjaga toko.
"Aaa, begitu ya. Terima kasih."
"Sama-sama Tuan."
"Apa yang kau tanyakan sayang?" Sashi kembali menatap gelang itu yang ternyata sudah dibeli oleh sepasang kekasih.
__ADS_1
"Gelang nya sudah dibeli. Tidak apa, kita bisa mencari yang lain nanti. Lagipula, setiap tahun pasti ada fashion baru kan?" Malik bersuara membuka percakapan kepada kekasihnya yang masih menatap sepasang kekasih itu.
"Iya, kau benar. Kita bisa melihat dan membeli dengan desain yang lebih baik nanti." Malik tersenyum melihat ketulusan dari kekasihnya.
'Aku berjanji sayang. Aku akan membelikan nya untukmu.'
"Dan kau menepatinya, terima kasih Sayang." Tak lama mata sembab itu perlahan tertidur setelah menangis hampir tiga jam setelah putranya tertidur pulas.
Bersambung......
Maaf ya, author kemarin libur. Tapi sebagai gantinya, author panjangin bab nya semoga suka ya.
Dan jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️❤️ Terimakasih semuanya
__ADS_1