
Hampir dua jam lamanya wajah itu menunggu dengan hati yang gelisah dan cemas. Sejak tadi, ia tidak tenang dan terus mencari putranya bersama Ari, dari keterangan satpam itu membuat kebingungan sekaligus kecemasan yang besar di benak Sashi. "Mbak, jangan khawatir. rekaman CCTV menunjukkan Max pergi ke arah taman kota. Mungkin ia ikut dengan salah satu orang tua murid yang merupakan temannya. Mari kita ke sana Mbak, jangan berpikir yang buruk." Ari membantu Sashi berdiri dan dengan pelan menuntunnya ke mobil.
"Tenanglah Mbak." Ari memberikan minum pada wanita itu yang berada di sebelahnya.
"Aku hanya cemas, bagaimana jika orang dari mereka. Aku tidak bisa membayangkannya." Mata itu terus menatap jalanan yang ramai. Seling beberapa saat, keduanya sampai dan dari pantauan CCTV dapat dilihat plat nomor kendaraan yang membawa Max. Dengan langkah cepat Sashi segera keluar dan mencarinya plat kendaraan yang yang terparkir di taman. "Max!" Sashi berlari dan mencari anaknya yang berada di kerumunan itu.
Setelah mencari dengan kecemasan. Sashi terduduk saat tak menemukan putranya dan kendaraan yang dimaksud pun tidak terlihat seorang pun di sana. Kaki itu lunglai dan air matanya segera jatuh. Sashi terduduk dengan air matanya dengan Ari yang berada di samping dengan alat penghubung di telinganya.
"Cari terus! Jangan berhenti dan laporkan segera!"
"Mbak ...."
"Max! Di mana putraku? Ma-Max ...."
"Mommy!" Suara itu langsung membuat Sashi berbalik dan dengan segera ia berlari mengejar putranya. Max yang melihat Mommy nya menangis langsung melepaskan balon yang berada di tangannya dan bergegas memeluk tubuh itu.
"Max!" Dapat Max rasakan eratnya pelukan wanita yang melahirkannya itu.
"Mommy ...."
__ADS_1
"Jangan bilang apapun, jantung Mommy rasanya berhenti berdetak saat tidak melihatmu Sayang. Biarkan Mommy memelukmu, Mommy sangat takut kehilanganmu sayang." Mulut Max terkunci dan ia membiarkan Mommy nya memeluk dirinya dengan sayang.
Ari tersenyum melihatnya, ia membiarkan interaksi antara Ibu dan anak itu. Setelah beberapa saat, Sashi terlihat tenang dan ia mengecup kening, pipi putranya dengan sayang dan rasa cinta yang besar.
"Mommy maaf, jangan menangis." Max menghapus air mata yang mengalir di wajah cantik Mommy nya dengan tangan kecil itu, merasakan hal itu Sashi menggenggam dan mengecup tangan itu berulang kali.
"Max tidak apa-apa kan? Ada yang luka atau ...."Sashi memutar tubuh putranya jika ada sesuatu.
"Mommy aku tidak apa-apa." Sashi merasa lega mendengar ucapan putranya.
"Max dari mana? Kenapa pergi dari sekolah sebelum Mommy datang, jangan pergi ke mana-mana dan pergi bersama orang asing."Sashi menyentuh kedua pipi anaknya dengan pelan sambil bicara.
"Maaf Mommy, tapi Max tadi pergi dengan Paman Red. Max tidak lupa apakah yang Mommy bilang hanya saja saat bersama dengan Paman Red perasaan Max sangat tenang dan Max selalu ingin dekat dekatnya. Sama seperti Mommy, bukankah Mommy bilang perasaan tidak pernah salah? Ia selalu tau apa yang benar dan tidak." Perkataan Max membuat Sashi terdiam.
"Paman Red nya sudah pergi, tadi saat kami pergi. Aku sudah bilang kalau harus beritahu Mommy dulu, dan Paman bilang Mommy tidak akan marah. Dan ia menunjuk hati Max dan bertanya apa Max merasa dia jahat?"
"Lalu Max bilang apa?"
"Max bilang tidak. Dan saat Max bertanya dari mana ia tau dan mengenal Max. Dia menjawab ...."
__ADS_1
"Apa? Apa jawabannya?" Sashi sungguh penasaran dengan ucapan putranya begitu juga dengan Ari yang mendengar ucapan Max untuk menebak pria yang membawa keponakannya itu.
"Dia bilang ia sudah tahu karena Max berada di hatinya dan saat dekat dengan ku ia berdetak dengan kencang dan membuat dirinya sangat bahagia. Max juga merasakan itu Mommy."
"Max suka dengan Paman Red. Max mau bertemu dengannya lagi. Mommy tidak marahkan?" Ucapan itu langsung keluar dari mulut putranya membuat Sashi diliputi dengan berbagai macam pikiran saat ini. Tentang siapa pria yang dimaksud dan apa tujuannya.
"Mommy?"
"Max, ada telfon dari Kakak Hans." Langsung saja hal itu membuat wajah itu berubah girang seketika dan dengan segera ia mengambil benda persegi pipih itu.
"Kakak!" Setelah diarahkan oleh Ari ke dalam mobil. Pria itu mendekati Sashi dan menepuk pundaknya membuat wanita itu tersadar.
"Ari!"
"Mbak jangan banyak pikiran, aku akan mencari taunya."
"Tapi sepertinya ia bukan orang sembarangan. Kita biarkan dulu, aku punya rencana sendiri untuk mengetahui dirinya dan apa tujuannya. Hanya bermodalkan ciri-ciri dari ucapan satpam itu tidak akan membuat ku lengah!"
"Baik Mbak."
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️😘