Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Ruby Merah


__ADS_3

Di pagi hari, di taman yang dikelilingi oleh bunga dan sinar matahari yang baik untuk perkembangan putranya, Ibu cantik itu sedang duduk sambil menjemur putranya.


"Vitamin D nya akan sangat bagus untukmu sayang." Sashi tersenyum saat melihat putranya mengerjapkan matanya berulang kali seolah mengerti apa yang ibunya bicarakan.


"Wah, cucu Nenek sedang berjemur ya?" Mbok Tin datang dengan minuman herbal untuk Sashi.


"Iya Nek, agar aku sehat." Sashi membalasnya dengan ucapan kecil.


"Ini Nak, minum dulu." Sashi menerima secangkir minuman itu.


"Terima kasih Mbok."


"Apa ia rewel semalam?"


"Tidak Mbok, ia hanya menangis karena lapar atau popoknya penuh."


"Syukurlah, cucu Nenek ini memang luar biasa."


"Nyonya!" Panggilan itu membuat Sashi dan Mbok Tin melihat dan ternyata salah satu pelayan yang datang.


"Ada apa An?"


"Ada Tuan Ari di luar."


"Kenapa tidak disuruh masuk?"


"Itu .... "


"Adik!" terdengar suara nyaring dari kejauhan, dan terlihat sosok kecil itu berlari sambil memegang balon ditangannya.


"Sayang jangan teriak!" terdengar sahutan dari Alya yang geleng kepala melihat tingkah putranya.


"Adik kenapa dijemur?" tanyanya dengan polos.


"Itu supaya tulang adiknya kuat dan nanti bisa berlari seperti kakak Hans." Sashi berujar mendekati Hans yang mendengarkan ucapannya.


"Kalau begitu ayo jemur lama-lama. Karena aku ingin adik cepat besar!" ucapannya membuat semua di sana hanya tersenyum menggeleng.


"Adik dijemur hanya beberapa menit saja sayang, kalau tidak nanti jadi bahaya." Sashi memberikan pengertian pada Hans.


"Berapa menit?"


"S ... " Belum sempat Sashi berupa, terdengar suara dari stop watch.


"Apa itu artinya sudah selesai?"


"Iya, sudah selesai lihat hanya boleh sekitar 10-15 menit saja." Sashi mulai melangkah ke dalam sambil menggendong putranya, diikuti oleh di kecil Hans dan yang lainnya.


"Itu artinya sama seperti saat ke sekolah? Seperti jam istirahat!" ujar Hans mengikuti langkah Sashi.

__ADS_1


"Iya, seperti itu." Setelah sampai di kamar, Sashi segera menyusui putranya dan hal itu tak luput dari pandangan Hans.


"Adik lapar sekali ya."


"Iya, jadi adik makan dulu." Alya hanya diam dan tersenyum kepada Sashi karena tingkah cerewet putranya.


"Maaf ya Mbak,Hans memang begitu."


"Tidak apa, aku senang. Lagipula usia seperti itu memang selalu ingin tau."


"Ngomong-ngomong dimana Nak Ari?" Mbok Tin bertanya karena tak melihat pria itu.


"Ia tadi sedang menerima panggilan Mbok, mungkin saat ini di ruang tamu." Alya menjawab pertanyaan Mbok Tin yang mungkin kebingungan tidak melihat suaminya.


"Apa ada masalah di perusahaan?" tanya Sashi.


"Tidak Mbak!" Ari datang tapi membelakangi mereka semua karena Sashi yang masih menyusui putranya.


"Kalau begitu aku tunggu di ruang tamu ya Mbak." Alya yang mengerti pergi pamit kepada Sashi.


"Iya, aku akan ke sana nanti."


"Ayo Hans, adiknya akan tidur, kita tunggu di luar ya." Ajak Alya pada putranya dan mendapat anggukan dari Hans.


"Dah Adik." Hans melambaikan tangannya dan dibalas oleh Sashi hingga tidak terlihat lagi.


"Mbok akan menyiapkan cemilan untuk mereka."


"Selamat tidur sayang." Sashi memastikan jendela kamarnya sudah tertutup, karena ia tidak ingin lengah sedikitpun. Meskipun sudah ada penjaga di luar rumahnya, siapa yang tau nanti.


Setelah melangkah ke ruang tamu, terlihat semuanya sedang menikmati cemilan yang disediakan, bahkan mulut kecil itu tak berhenti mengunyah sambil memegangi balon miliknya.


"Ada apa Ari?" tanya Sashi lalu duduk di sofa.


"Begini Mbak, masalah yang hampir membuat kita kehilangan investor waktu itu, yang menyelesaikan bukanlah dari pihak kita Mbak."


"Maksudnya ada pihak lain?" tanya Sashi.


"Benar Mbak, dan saat ditelusuri semua jejaknya langsung hilang dan hanya ada surat yang kosong dengan tanda batu Ruby berwarna merah. Ari memberikan Ipad-nya pada Sashi dan wanita itu melihatnya dengan baik.


"Menurut ku, sepertinya ia bukan pihak musuh Mbak, mungkin saja ada dari salah satu yang mengenal perusahaan kita atau lebih tepatnya Mas Malik yang membantu kita." Alya mencoba mengeluarkan pendapatnya dari kejadian ini.


Maaf Mbak, karena aku tidak mengatakannya lebih awal, karena ingin memastikan perihal sosok itu."


"Batu Ruby ...." Sashi memandangi tanda itu yang rasanya ia seperti mengenalnya.


"Perkuat saja sistem keamanan kita Ari, karena aku yakin mereka akan kembali bertindak. Dan mengenai tanda ini, aku harap kita tak berhubungan dengan nya. Karena aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi. Bisa saja orang yang kita angkat membantu nanti akan membunuh kita."


"Baik Mbak. Oh ya Mbak, aku baru saja mendapatkan kabar tadi, kalau Tuan Lucas mengirimkan kepercayaan perusahaannya untuk proyek kerjasama kita. Karena ia akan segera pergi ke negaranya."

__ADS_1


"Hmmm, tak masalah. Lakukan saja seperti yang sudah kita sepakati, tidak masalah orangnya siapapun."


"Baik Mbak."


"Mbok!" panggil Sashi.


"Iya Nak?"


"Mbok, besok-besok aku ingin hanya Mbok saja yang berada di rumah seperti biasa. Untuk pelayan yang lain sampai jam 4 saja, dan katakan pada penjaga untuk tidak membuka pintu atau menari siapapun tanpa sepengetahuanku."


"Baik Nak." Mbok Tin mengerti kekhawatiran Sashi yang pastinya berasal dari keluarga suaminya.


"Aku juga sudah menambahkan penjagaan Mbak." Ari mengerti dengan situasi.


"Iya, terima kasih. Aku hanya mencegah segala sesuatu yang mungkin terjadi. Dan untuk Hans ada baiknya juga dijaga dengan ketat. Karena kemarin Mahesh sepertinya sangat marah padamu Ari."


"Aku sudah menduganya Mbak, mereka mungkin akan memulai dari siapapun di antara kita."


"Maaf, karena ku kalian mungkin akan terlibat." Ada rasa bersalah dalam dirinya.


"Tidak Mbak, bukankah sejak dulu kita sudah mengetahuinya dan saat aku menerima pekerjaan ini maka saat itu juga aku siap dengan konsekuensinya. Lagipula Mas Malik sudah berjasa dalam hidup kami Mbak."


"Iya Mbak, jangan merasa bersalah. Kita hadapi mereka agar mereka tau bahwa kita tidak mudah dikalahkan. Orang seperti mereka harus diberi pelajaran!" Alya tampak geram saat ini, bahkan ia sudah memegang pisau buah.


"Kalau perlu, aku potong sumber kehidupan mereka itu dengan keahlian ku!" Seketika Ari merasa ngeri dengan perkataan istrinya itu.


"Sudah sayang, letakkan kembali. Lihat Hans nanti menirunya."


"Aku akan bantu Ibu dengan keahlian pedangku! Karena aku samurai yang hebat!" Hans melepaskan balonnya dan mengambil pisang sambil melayangkannya seperti pedang membuat suasana penuh tawa karena tingkahnya.


"Hahahaha."


"Lihat! Samurai Hans akan menghabisi musuhnya." Hans menyerang ayahnya dengan pisang itu membuat Ari membalas kejahilan putranya itu. Saat suasana sedang penuh tawa tiba-tiba mereka dikejutkan dengan...


Doorrr!


Bersambung....


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!



Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya. Perlahan dia melepaskan tangan kekar yang membelit perutnya. Sevia membalikkan badannya dan mendapati Dave yang sedang tertidur pulas.


Bagaimana nanti jika aku punya anak, apa dia akan bertanggung jawab? batin Sevia.


"Jangan melihatku terus, nanti kamu terjebak dalam pesonaku!" Dave langsung membuka matanya dan mendapati Sevia sedang menatapnya dengan tatapan kosong. "Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."


"Kamu bicara seperti itu setelah mendapatkan semuanya dariku? Aku tidak keberatan jika kamu menceraikan aku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri." Sevia langsung bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Hatinya hancur berkeping-keping mendengar apa yang suaminya katakan. Meskipun benar tidak ada cinta di antara mereka, apa seharusnya Dave mengatakan hal itu setelah dia mengambil harta yang paling berharga dalam hidupnya.


Tidak Sevia! Kamu tidak boleh lemah! Sudah cukup kamu dipermainkan oleh lelaki! Apapun yang terjadi dengan Dave jangan pernah memakai perasaan. Anggap saja semua itu sebagai kewajiban kamu sebagai seorang istri," batin Sevia


__ADS_2