
Pagi ini seperti biasa Sashi berada di perusahaan. Semua karyawan melihat pemimpin mereka itu dalam keadaan cemas karena perut buncit itu akan segera melahirkan. Tak terasa saja, waktu berlalu dan sekarang kandungan Sashi berusia 9 bulan.
"Mbak, kenapa masih datang?" tanya Ari saat melihat wanita hamil itu di ruangannya.
"Ini hari terakhir ku Ari, kebetulan ada yang harus ku urus sebentar jadi tanggung rasanya. Jadi aku datang saja, aku mengerti kekhawatiran mu. Mbok tin juga mengatakan agar aku tidak kekantor, tapi aku hanya sebentar, siang ini aku pulang."
"Baiklah Mbak, tapi benar ya, setelah ini pulang."
"Iya, aku janji."
"Kalau begitu aku keluar sebentar Mbak, ada berkas yang harus ku ambil."
"Iya, tidak masalah. Pergilah!" Ari langsung pergi dengan segera dan meninggalkan Sashi yang berada di ruangannya beberapa kali wanita hamil itu mengganti posisinya, beberapa menit berlalu Sashi sedang asyik menikmati sandwich yang ia minta pada salah satu OB. Dan saat asyik mengunyah ia dikejutkan dengan langkah kaki seseorang yang membuatnya berpikir itu adalah Ari.
"Sudah selesai Ari?" tanyanya tanpa melihat ke arah pintu.
"Hai, Kaka Ipar." Mendengar suara itu langsung saja raut wajah Sashi berubah dan ia menatap tajam sosok di hadapannya saat ini.
"Beraninya kau datang kemari!"
"Kenapa? Aku hanya ingin bertemu dengan Kakak ipar ku, apa itu salah?" jawabnya dengan enteng dan perlahan mendekat ke arah Sashi.
"Keluar dari sini! Aku tidak sudi kau datang dan menginjakkan kakimu ke sini!" Emosi wanita hamil itu tampaknya tak terkendali karena ulah sosok dihadapannya saat ini.
"Kakak Ipar, tidak baik wanita hamil marah seperti itu, tidakkah kau tahu itu akan mempengaruhi bayimu?"
"Lagipula aku ingin membantu dirimu mengelola perusahaan, pasti sangat berat rasanya, apalagi kau akan melahirkan sebentar lagi." Sashi merasa jijik melihat tatapan mata itu padanya.
"Kau tetap saja cantik saat hamil Kakak ipar ku." Sosok itu mencobanya menyentuh wajah Sashi membuat wanita hamil itu marah.
__ADS_1
"Jauhkan tanganmu dariku Mahesh! Beraninya kau!" Wajah cantik itu telah memerah seiring dengan kemarahan yang ia luapkan saat ini.
Tapi pria itu malah tertawa seolah tidak merasa bersalah. Ia adalah Mahesh Darmanendra adik dari Malik suami Sashi. Entah darimana datangnya pria itu yang kembali menginjakkan kakinya ke perusahaan.
"Ayolah Kakak Ipar, aku hanya merasa kasihan dengan wanita cantik seperti mu yang belum cukup satu tahun menikah sudah menjadi janda." Mahesh semakin mendekati dan memojokkan wanita hamil itu.
"Kau!"
"Aku tau semua ini sangat berat untukmu, lagipula kak Malik meminta ku menjagamu." Ingin sekali rasanya Sashi muntah mendengar ucapan pria ular dihadapannya saat ini.
"Kau bahkan tidak pantas menyebut nama suamiku!"
"Ka...."
"Mbak!" Suara itu menghentikan aktivitas keduanya dan Sashi merasa lega melihat kedatangan Ari yang tepat waktu, sedangkan Mahesh wajahnya langsung berubah tidak suka melihatnya.
"Beraninya kau datang kemari!" Ari langsung murka melihat posisi pria itu yang mendekati Sashi yang terpojok.
"Memangnya kau siapa? Yang beraninya berkata seperti itu padaku adik pemilik perusahaan ini!"
"Seharusnya kau yang berkaca! Apa pantas dirimu disebut seorang adik? Kau bahkan tidak datang ke pemakaman!"
"Mulutmu sebagai sekretaris sepertinya harus ku jahit!"
"Minggir! aku ingin bicara dengan kakak ipar ku!" Mahesh mencoba kembali mendekat dan menyentuh tangan Sashi.
"Pergi darisini! Sashi langsung menghentakkan tangannya agar tidak tersentuh oleh tangan Mahesh.
"Ahhhh!" Sashi merasakan perut kram dan membuat kekhawatiran dari Ari.
__ADS_1
"Mbak!"
"Keamanan! Cepat bawa pria ini dan jangan biarkan di datang lagi!" Ari memerintahkan keamanan untuk mengatasi Mahesh dan ia membantu Sashi yang terlihat kesakitan.
"Baik Pak Ari!"
"Ayo, ikut kami!" Keduanya langsung mencengkal tangan Mahesh dan langsung disertai penolakan dari pria itu.
"Beraninya kalian! Kalian tidak tahu aku?"
"Bawa dia!"
"Aku akan datang kembali! Awas kau!" terlihat mata tajam itu melihat ke arah Ari dengan kebencian.
"Ahhhh!"
"Mbak, ayo duduk di sini, aku akan panggilkan dokter!"
Bersambung....
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!
Ditinggalkan oleh sang ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka, yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang ayah menorehkan pilu dalam dada sang ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang ayah telah menceraikan ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang ibu tak berdaya. Di sisi lain, sang ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang ayah berakhir dengan sebuah pertemuan?
__ADS_1