Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Awasi terus!


__ADS_3

Kepanikan dan tangisan menjadi satu saat itu, terlihat Alya menggendong putranya yang telah bersimbah darah di paha kanannya membuat Mbok Tin yang melihatnya langsung menuju ke sana. Sashi yang baru saja selesai dari toilet dibuat kebingungan dengan orang-orang yang berkerumun. "Ada apa ini?" tanya Sashi pada salah satu pengunjung.


"Itu, ada salah satu pengunjung taman yang terluka. Dan lebih parahnya itu anak kecil yang ...." Tanpa memperdulikan ucapan orang itu, dengan segera Sashi menuju tempat putranya tadi bermain. Perasaannya jadi tak menentu dan terselimuti kekhawatiran, bagaimana jika itu adalah putranya. Saat sampai di sana matanya langsung disambut dengan pemandangan Alya yang tengah menangis membawa Hans di gendongannya.


"Hans!"


"Mbak ... putraku. Tolong!" Alya berderai air mata sambil membawa putranya menuju parkiran diiringi Sashi dan yang lainnya, mereka benar-benar panik karena luka itu terus-menerus mengeluarkan darah.


"I-ibu." Panggil Hans dengan lemah, Alya terus mendekap erat putranya.


"Bertahanlah sayang, semuanya akan baik-baik saja. Ibu ada di sini, sayang." Seolah mengerti yang terjadi, tangisan keras itu turut mengisi mobil yang melaju kencang itu menuju rumah sakit.


"Huaa! Tatak!" Max terus menangis membuat Mbok Tin kewalahan menghadapi si kecil itu yang semakin menjadi. Sashi berusaha agar konsentrasinya tidak pecah dengan apa yang terjadi.


Deringan ponsel menambah kepanikan, nama yang tertera di sana langsung membuat Alya menekan nomornya dan langsung disambut dengan tangisan. "Mas!"


"Alya ada apa sayang?" terdengar kebingungan di sebrang sana.


"Hans ... di-dia."


"Ada apa, apa yang terjadi? Kau di mana?"


"Hans, dia terluka ada yang menusuk dirinya. Putra kita terluka, kami sedang menuju rumah sakit saat ini."


"A-aku ...."


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan segera menyusul, jangan menangis sayang." Sambungan itu langsung terputus dan tak lama mereka telah sampai di rumah sakit. Dengan segera, Alya membawa putranya dan memanggil dokter untuk segera mengobati putranya. Sedangkan Ari, pria itu dengan segera bergegas pergi setelah mendapatkan kabar mengenai putranya.


"Aku yakin ini ulah mereka lagi! Jika terjadi sesuatu pada putraku, aku akan membalasnya! Aaaaghhhhhh!" Ari mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Pikirannya saat ini hanya terlintas putranya saja.


Langkah besar itu segera menuju ruangan fi mana putranya di rawat, saat sampai di sana terlihat wajah sembab istrinya dan tanpa kata, wanita itu segera memeluk suaminya dengan cepat Ari membalas dan memberikan ruang untuk istrinya menumpahkan air matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."


"Orang tua pasien?"


"Iya, saya bagaimana dengan putra kami?"


"Lukanya cukup dalam, tapi jangan khawatir kami sudah membersihkan dan menjahitnya. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Untuk lebih jelasnya kita akan lihat setelah pasien sadar." Dokter itu menjelaskan kondisi Hans membuat semua orang di sana merasa lega.


"Apa kami bisa menemui nya?"


"Boleh, tapi hanya satu orang saja ya. Karena pasien butuh istirahat setelah jahitan yang diterimanya.


"Terima kasih Dokter."


"Ari, Alya maaf."


"Kenapa Mbak meminta maaf?" tanya Ari berserta Alya.


"Mbak tidak perlu meminta maaf. Kami sudah mengatakannya bukan, lagipula Hans baik-baik saja sekarang. Ia anak laki-laki jadi luka seperti itu akan dialaminya nanti."


"Benar Mbak, lagipula itu musibah. Tidak ada yang tau, aku tidak menyalahkan siapapun. Aku hanya ...."


"Iya, aku mengerti. Ngomong-ngomong aku harus segera pulang, karena Max sudah tertidur. Rumah sakit kurang baik untuknya."


"Iya Mbak, aku akan mengantarkan Mbak pulang."


"Tidak perlu, Alya dan Hans membutuhkan mu. Aku bisa sendiri, jangan khawatir. Mereka tidak akan menyerang secara bersamaan lagi bukan?"


"Iya."


Di sisi lain terlihat beberapa orang sedang kocar-kacir untuk segera melarikan diri. "Ayo! Kita harus segera pergi, sebelum polisi datang menangkap kita."

__ADS_1


"Iya, selain itu pasti juga Boss akan marah besar karena kita salah target!'


"Itu karena kebodohan mu!"


"Maaf ketua, tapi aku pikir itu adalah anaknya."


"Dasar bodoh!" Sekarang ayo cepat, kita pergi! Aku tidak mau masuk penjara!" Mereka segera pergi dari tempat gelap itu seiring dengan malam yang gelap. Saat mereka akan melajukan mobil mereka. Tanpa di sadari ada tembakan di sana dan membuat mereka semua tewas seketika.


"Lapor Tuan, tugas selesai!" ujar salah seorang dari kegelapan yang mengubungi seseorang.


"Bagus! Ini pertama kalinya aku menerima kecolongan ini. Jika nanti terulang lagi, kau akan menyusul mereka!"


"Baik Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi. Dan keadaan anak itu aman, ia tidak tersentuh karena kebodohan orang-orang itu."


"Awasi terus!"


"Siap Tuan!"


Bersambung.....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya teman author cerita nya seru lho!



Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.


Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.


Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?

__ADS_1


__ADS_2