
Ari baru saja sampai di kotanya dan dengan segera ia menuju rumah sakit. Mata pria itu menangkap sosok yang ia rindukan dan terlihat Alya di sana dengan tatapan cemas ke arah pintu perawatan. "Sayang!" Sontak saja membuat ia segera melihat ke sana dan terlihat pria yang ia rindukan beberapa hari itu. Dengan cepat ia berlari dan memeluk tubuh Ari.
"Mas! Akhirnya kau pulang juga. Aku sangat khawatir, putra kita Hans, dia."
"Semuanya akan baik-baik saja, aku sudah datang. Jangan menangis lagi." Ari menghapus air mata yang menganggu di wajah istrinya.
"Iya, dokter sedang memeriksa nya." Percakapan keduanya terhenti saat melihat Dokter yang baru saja keluar.
"Dengan orang tua pasien."
"Kami Dok!" Keduanya langsung mendekat dengan cepat dan menunggu penjelasan dari sosok berjas putih itu.
Sekitar pukul 12 siang, Ari melihat dari GPS kabar bahwa Malik pergi ke tol yang sebenarnya bukan jalan dan jauh dari jalan pulang. "Kenapa Mas Malik ke sana? Bukankah itu bukan jalan ke gudang atau pulang?" Merasakan ada sesuatu ia segera menghubungi Malik. Dengan perasaan cemas ia menunggu panggilan itu terjawab dan benar saja tak lama ia mendengar suara dari sana.
"Ya Ari, ada apa?"
"Mas, kau di mana?" Ari tentu tidak mengatakan apa-apa sebelum pria itu bicara dan mengetes kejujurannya.
"Ah, aku masih diperjalanan. Maksudnya aku sedang berada di jalan xxx untuk membeli sesuatu untuk Sashi. Aku lupa mengabarimu dan jangan katakan pada Sashi karena ini kejutan."
"Ah, begitu rupanya. Apa sudah selesai?"
"Sudah, kadonya baru saja dibungkus dengan indah. Aku pulang sekarang, Hans bagaimana?"
"Alhamdulillah baik Mas, dia sudah baikan. Kalau begitu hati-hati Mas."
"Iya, aku jalan dulu."
__ADS_1
"Syukurlah Mas Malik tidak berbohong. Aku sedikit cemas karenanya." Ari meletakkan ponselnya dan pergi menuju ruangan putranya dan juga istrinya.
Beberapa waktu kemudian, Ari dibuat tegang dan cemas berbalut ketakutan saat mendengar kabar kecelakaan yang dialami oleh Malik di perbatasan. Pria itu segera menuju ke sana dan terlihat mobil yang dikendarai oleh Malik sudah tidak terbentuk.
"Di mana korban?" tanya Ari dengan cepat.
"Sudah di bawa ke rumah sakit, anda terlalu lama kami tidak bisa menunggu."
"Apa penyebabnya? Kenapa bisa kecelakaan?"
"Kami sedang menyelidikinya dan akan kami beritahukan nanti. Untuk sementara karena rem blong."
"Rem blong?" Tidak percaya dan aneh itulah yang dirasakan dan dipikirkan oleh Ari. Dengan menahan sakit karena ada kecelakaan kecil yang menimpanya saat menuju ke mari, dan manik serta tangan pria itu dengan perlahan melihat dan mengambil sesuatu yang ada di kursi mobil yang sudah tak terbentuk itu.
"Ini?"
"Apa yang anda lakukan?" Suara itu membuat Ari segera menyembunyikan apa yang ia temukan.
"Ayo, kami antarkan ke rumah sakit dan ada sesuatu yang ingin kami bicarakan nanti."
"Iya." Dengan segera ia berdoa dan berharap Malik tidak apa-apa meskipun mobilnya mengalami ringsek seperti itu.
"Pak, korban tidak terluka parah kan?"
"Tidak, hanya beberapa luka di wajah karena goresan aspal, sepertinya ia melompat sebelum mobil itu ringsek." Ada kelegaan sejenak yang dirasakan pria itu, sebelum Sashi menyadarinya dia harus segera mengantisipasi.
Setelah sampai di rumah sakit, terlihat beberapa dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan tempat Malik di rawat dan membuat Ari heran karenanya. "Permisi, saya mau menjenguk korban atas nama Malik Darmanendra, bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Anda siapanya?"
"Saya adiknya. Bagaimana keadaan kakak saya?"
"Maaf korban sudah meninggal beberapa menit yang lalu?" Sontak saja membuat Ari terpaku dibuatnya. Apa yang didengarnya pasti salah, padahal tadi kata polisi tidak ada yang fatal sepertinya.
"Apa maksudnya? Kakakku hanya mengalami luka saja, tidak ada yang serius. Lalu bagaimana bisa?" Karena tidak mendapat jawaban, ia segera menerobos masuk dan terlihat Malik sudah terbaring dengan pucat di sana.
"Mas Malik?" Hanya luka yang menghiasi wajahnya tidak terlihat apapun yang parah, lalu bagaimana bisa ia dinyatakan meninggal. Dengan cepat tangan itu mengambil tangan pucat itu dan tidak adanya denyut nadi di sana.
"Hei, anda tidak bisa masuk begitu saja!". Terlihat seorang dokter datang dan menghentikan Ari.
"Katakan! Apa yang terjadi! Kenapa bisa meninggal? Aku tidak melihat ada yang serius di sana! Jawab!"
"Korban mengalami masalah pada jantungnya saat berada di sini setelah kecelakaan."
"Aku ingin dengar sendiri dan lihat!"
"Hentikan dia! Bawa dia ke luar!" Ari langsung dihadang dan dipegang oleh kedua perawat yang membuat ia bertanya.
"Lepaskan! Aku ingin melihat kakak ku! Apa maksudnya ini?"
"Maaf, tapi kami harus melakukan sesuatu sebelum diantarkan ke keluarga. Anda belum bisa menemuinya." Ari dibawa ke luar dengan penuh tanda tanya besar.
"Apa yang terjadi?" Ujarnya sambil melihat pintu itu tertutup.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Dengan cara like komen dan vote serta hadiahnya ya terimakasih banyak.