
Bel baru saja dibunyikan dan terlihat saat gerbang dibuka, langkah kaki dan suara tawa anak-anak langsung terdengar dibalik gerbang besar itu. Mata tajam itu langsung melihat ke arah gerbang tempat keluarnya anak-anak yang langsung disambut oleh orang tua mereka. Dari sekian anak itu terlihat sosok kecil tampan yang ia cari, senyumannya langsung terbit ketika melihat wajah itu yang langsung ia kenali. Perlahan namun pasti ia melangkahkan kakinya ke gerbang itu tempat sosok kecil itu sedang menunggu dengan menggendong tasnya.
"Hai, sedang menunggu jemputan." Seketika sosok kecil itu langsung mendongak dan ia melihat wajah yang sedang bicara dengannya saat ini.
Sedangkan di kantor, Sashi yang sedang sibuk dengan berkas di mejanya langsung tersentak setelah matanya menangkap jam yang menunjukkan pukul 12 yang menandakan putranya pulang sekolah. "Astaga! Aku harus segera menjemput Max!" Dengan langkah cepat ia keluar meninggalkan ruangannya dan langsung menuju mobil mewahnya. Tanpa banyak kata ia segera melajukan kecepatan mobil itu menuju sekolah putranya. Sekitar 10 menit kemudian, wajah cantik itu segera mengedarkan pandangannya mencari putranya di tempat biasa. Terlihat masih banyak anak-anak yang sedang bicara dan bersenda gurau sambil menunggu jemputan orang tuanya.
"Max, baru saja keluar. Mungkin ia berada di sana." Sashi mempercepat langkahnya dan menuju gerbang di sisi kiri yang berada di bawah pohon rindang dan bangku di sana.
"Max?" Sashi memanggil putranya dan ternyata tidak ada sosok yang ia cari di sana, ia berusaha menetralkan rasa cemasnya dan segera masuk lebih dalam lagi menuju kelas putranya.
"Maaf, apa ada anak di dalam?" Sashi bertanya pada seorang guru yang baru saja keluar dari ruangan.
"Tidak ada anak lagi Bu. Jika mencari anak Ibu. Biasanya akan menunggu di gerbang sepertinya biasa. Kalau di kelas sudah tidak ada lagi."
"Putraku bernama Stefano Maximiliao Malik. Ia kelas satu A." Sashi berujar dengan nada tenang yang terbalut kecemasan.
"Kelas A?" Ulang guru itu.
"Iya, Kelas I A." Sashi mengulangi ucapannya.
"Ini kelas 1 B, Bu. Kelas I A ada di sana." Guru itu menunjuk ruangan yang ada belakang Sashi membuat wanita cantik itu segera menoleh ke sana.
"Astaga, aku lupa. Terima kasih banyak." Sashi segera menuju ke kelas itu dan melihat dari jendela jika putranya sedang duduk di salah satu bangku di sana.
"Permisi, aku sedang mencari putraku bernama Stefano Maximiliao Malik. Apa ia ada di dalam?" Sashi bertanya pada wanita paruh baya yang sedang membereskan barang-barang milik nya. Saat mendengarkan ucapan Sashi ia segera memakainya kacamata miliknya dan melihat wajah cantik yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Nyonya Sashi. Ternyata anda rupanya."
"Iya Bu. Apa anda melihat putraku?"
"Nyonya Sashi. Stefan sudah keluar sejak bel dibunyikan, sekitar 20 menit yang lalu. Stefan pasti akan menunggu anda di tempat biasa Nyonya bukan begitu?"
"Benar, tapi sayangnya ia tidak ada di sana. Aku pikir ia ada di sini, mungkin menunggu di sini."
"Mari Nyonya. Kita bersama, mungkin ia bersama salah satu satpam." Wanita itu segera beranjak bersama Sashi. Dan wanita cantik itu segera mengikuti langkah wanita itu. Mereka langsung sampai di gerbang dan salah satu pos satpam di sana. Pria berkumis itu segera keluar saat melihat kedatangan guru di sana dan wanita cantik bersamanya.
"Iya Bu, ada apa?"
"Apa kau melihat anak ini? Biasanya ia akan menunggu di sini!" Sashi menunjuk bangku di mana putranya akan menunggu dirinya.
"Aaa, aku ingat. Ia aku memang melihatnya di sana Bu." Jawaban itu sontak saja membuat Sashi sedikit merasa lega.
"Maaf, Nyonya adalah ibunya?"
"Iya, aku Mommy nya. Di mana putraku?"
"Apa suami anda tidak memberitahu anda?"
"Apa maksudnya?"
"Maksudnya, putra anda dijemput oleh Ayahnya yaitu suami anda Nyonya. Coba hubungi dia, pasti ia bersama dengan Ayahnya."
__ADS_1
"Maksudmu ada seorang pria yang datang dan membawa putraku?"
"Ia Nyonya. Dan ...."
"Apa kau tidak lihat ia mungkin dipaksa!"
"Tidak Nyonya, saya melihatnya sendiri. Putra anda diam dengan senyuman mengikuti pria itu. Wajahnya tampan dengan kulit putih dan hidungnya yang mancung dan netranya bewarna coklat, tingginya sekitar 185 cm."
"Apa!" Sashi linglung seketika dan tubuhnya hampir jatuh ke lantai. Untung saja ada guru yang yang menyambut dirinya.
"Nyonya anda baik-baik saja?" Sashi masih terdiam dengan pikirannya dan tak lama ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ari!"
"Halo Mbak?"
"Max, dia ...."
"Apa! Mbak tunggu di sana, aku akan segera sampai." Sashi segera menjatuhkan ponselnya dan guru itu segera meminta satpam itu menyambut air untuk Sashi.
"Cepat ambilkan air!"
"Baik Bu."
"Nyonya ...."
__ADS_1
"Tidak mungkin ...."
Bersambung.....