
Malam sunyi yang sunyi masih belum membuat wanita cantik itu terlelap. Ia masih senantiasa dengan pikirannya saat ini. Jujur saja ketakutan, kecemasan dan praduga begitu banyak berseliweran di benaknya setelah kejadian itu. Bertanya pada putranya malah membuat semuanya runyam, setelah putranya tertidur. Sashi dengan segera menghubungi Ari dan saling membicarakan kejadian ini.
"Jadi Mbak akan melakukannya?"
"Iya Ari, aku akan mulai dari sana."
"Baiklah Mbak. Aku akan mengawasinya juga."
"Iya Ari." Setelah itu Sashi segera memutuskan sambungan dan segera berbaring memejamkan matanya dari semua beban pikiran itu sejenak.
"Aku akan menemukan mu Red."
Keesokan harinya seperti biasa Sashi membuat makanan untuk sarapan putranya dan mengantarkan Max ke sekolah seperti biasanya. Setelan melihat sang anak telah menghilang dari pandangannya, Sashi segera melajukan mobilnya dan pergi dari sana.
Siangnya menjelang pulang sekolah, terlihat mobil mewah hitam itu melaju menuju gerbang di mana terlihat Max sedang duduk di sana. Pintu terbuka dan menampakkan pria dengan pakaian hitam kasual nya dan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Melihat seseorang yang menuju ke arahnya Max segera menoleh dan saat ia akan bicara terlihat tangan lain yang membalikkan paksa tubuh pria itu dan sepasang kedua mata itu saling memandang.
"Kau!" Sashi berfikir sejenak tentang wajah yang ada dihadapannya saat ini dan tak lama ia segera berucap.
__ADS_1
"Tuan Lucas, anda?"
"Nyonya Sashi, sudah lama tidak bertemu." Dengan santainya ia menjawab dengan senyuman khasnya yang tak lama langsung berubah kembali seperti semula.
"Anda bisa menjelaskannya? Paman Red?" Ucapan itu dibalas dengan senyuman dan satu tangannya mengelus rambut Max membuat anak itu diam menurut.
"Mari Nyonya, kita perlu tempat yang nyaman untuk bicara." Sashi dengan segera mengikuti langkah pria itu dan masuk ke mobilnya.
"Ari, bawa mobilnya. Aku akan ke kantor nanti."
"Baik Mbak." Setelah memastikan Sashi pergi. Ari dengan segera melajukan mobilnya menuju kantor dengan tenang, karena ia yakin akan Sashi.
"Kita berhenti di restoran itu Pak."
"Baik Tuan." Mobil mewah itu menepi dan Lucas disertai Sashi dan Max langsung turun dan memasuki restoran Italia itu.
"Mau pesan apa?" Tapi tidak ada jawaban dari wanita cantik itu selain tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Aku mau spaghetti bolognese!" Jawaban itu membuat Sashi menoleh padanya putranya dan Lucas hanya tersenyum mengangguk.
"Mommy?"
"Jus Jeruk!" Lagi-lagi Sashi memandangi putranya dengan sedikit tajam, tapi sayangnya putranya itu malah bersikaplah pura-pura tidak tahu.
"Mommy suka jus jeruk, pesankan itu saja Paman."
"Kami pesan itu ditambah dengan jus Lemon dan kentang goreng." Lucas berujar kepada pelayan restoran itu.
"Baik Tuan, ditunggu ya." Setelah mengucapkan nya ia segera berlalu meninggalkan ketiga orang yang seperti keluarga bahagia itu.
"Jadi Tuan Lucas, tidak perlu bertele-tele lagi. Aku ingin jawaban, bagaimana kau tahu tentang putraku bahkan spesifiknya. Bukankah kita pertama dan terakhir bertemu saat aku hamil? Dan jika dilihat kau mempunyai ciri-ciri yang tidak sama dengan yang aku dengar dari satpam sekolah saat itu." Sashi memandangi pria yang ada dihadapannya ini dengan tatapan memicing.
"Aku akan menjawabnya. Sebenarnya ...."
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️
Terima kasih semuanya 😘