Pendamping Hidup Mommy Sashi

Pendamping Hidup Mommy Sashi
Sel mata empat


__ADS_3

Mata itu terlihat memicing dengan tajam, mendengar pernyataan pria yang berada dihadapannya membuat ia tak memalingkan wajahnya sedikit pun dari wajah tegas nan tampan itu. "Apa yang bisa kau buktikan untuk membuatku bisa percaya dengan ucapan mu itu?"


"Ingat dengan pria yang memakai kacamata dengan rambut gondrong dan dijuluki sel mata empat di sekolah xxxxx. Atau mungkin kau ingat dengan pria yang kau tolong saat lomba olimpiade matematika di kelas 2?" Sashi memicingkan matanya dengan tajam dan melihat dengan seksama wajah itu.


"Kau Saverio?" Kalimat itu langsung terlontar dari bibir ceri nya dan membuat wajah dihadapannya tersenyum tipis dan mengangguk. Sedangkan Max hanya diam menikmati makanan dihadapannya sejak tadi.


Mendengar jawaban Sashi seketika senyum itu semakin lebar terpampang di wajahnya. "Aku senang kau masih mengingatnya Tania."


"Baiklah anggap saja reunian kita. Tapi pertanyaan berikutnya belum kau jawab. Bagaimana kau tahu mengenai putraku?"


"Aku rasa kau tahu jawabannya, lagipula itu bukan hal sulit bagiku." Jawabnya dengan enteng dambaan meminum jus dihadapannya.


"Apa maksudmu? Kau tahu aku tidak mudah percaya dengan orang lain."


"Aku tahu, tapi aku yakin dalam pikiranmu aku tidak seburuk itu bukan? Lagipula kita cukup kenal satu sama lain saat di sekolah."


"Memang, tapi siapa yang tahu, waktu bisa merubah segalanya."


"Aku akui kau benar-benar berubah. Tidak seperti Tania yang ku kenal atau Sashi."


"Panggil saja Tania. Hanya suamiku yang berhak memanggil itu."


"Ok, baiklah. Ngomong-ngomong masalah putramu. Aku datang menemuinya anggap saja sebagai kunjungan karena sejak ia lahir aku belum bertemu dengannya hingga ia menjelma menjadi tampan seperti ini." Lucas memandangi wajah Max yang tengah asyik mengunyah.

__ADS_1


"Itu karena aku tampannya seperti Daddy!" Sahutnya dengan cepat disela-sela makannya.


"Max, apa yang Mommy katakan?"


"Tidak boleh bicara saat makan, dan aku melakukannya. Maaf Mommy."


"Dia pintar sekali seperti Mommy nya."


"Kau belum menjawab pertanyaan yang terakhir."


"Tentang ciri-ciri itu?"


"Hmmmm."


"Iya Paman Red."


"Dengarkan?"


"Habiskan makanannya segera sayang. Karena Mommy ada urusan di kantor."


"Iya Mommy." Merasakan tenggorokan yang sudah kering sejak tadi, minuman yang awalnya ia angguri tiba-tiba ia minum untuk melepas dahaganya dan hal itu tak luput dari pandangan Lucas.


"Kau tidak bertanya tentang pertanyaan terakhir?" Sontak Sashi menghentikan acara sedot menyedotnya.

__ADS_1


"Tentang Paman Red?" Dan diangguki oleh Lucas.


"Aku sudah tau, pasti karena kau berikan ia kue Red Velvet? Karena kau sudah pasti tau hal seperti itu." Jawaban Sashi membuat Lucas terkekeh seketika.


"Seratus untuk siswi Tania dari kelas 2 IPA."


"Ini bukan olimpiade lagi. Kau seperti anak-anak saja."


"Aku masih anak-anak, kaulah yang jadi seorang Ibu dengan penampilan yang masih terlihat seperti anak remaja yang cantik seperti dulu." Ucapan itu membuat mata Sashi melotot tajam.


"Kau ...."


"Aku bicara benarkan. Apa masalahnya? Bukan begitu Max?"


"Iya. Mommy ku sangat cantik."


"Berhenti bicara seperti itu, kau salah mengatakan itu pada wanita yang sudah mempunyai seorang putra."


"Aku hanya mengatakan apa adanya, kalau kau tidak merasa bersalah sudah lupakan saja kalau begitu." Sashi akhirnya terdiam dan berpaling dari Lucas dan lebar memilih melihat jalanan disampingnya.


Bersambung....


Jangan lupa untuk dukungan nya biar author makin semangat ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih semuanya


__ADS_2