
Hari pernikahan seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi mereka yang merayakannya. Tapi nggak denganku, siapa sangka aku harus menikah diusia yang masih cukup muda? Bukan, bukan cukup muda, tapi memang masih muda! Aku gak pernah ngebayangin sebelumnya kalau hari ini aku bakalan nikah sama orang yang sama sekali gak kukenal. Aneh kan?
Pernikahan gak diinginkan ini terjadi karena orang tuaku. Sebagai anak yang baik aku harus nurut, begitu kata mereka. Padahal, kalau aja aku boleh milih, mana mau aku duduk di kursi rias sambil memakai gaun yang entah bagaimana bentuknya. Aneh banget! Lengannya selalu turun-turun, bikin gak nyaman. Tapi kata mbak yang meriasku, itu sudah modelnya. Model apaan? Gaun kok kurang bahan begini.
Seorang wanita terlihat berdiri diambang pintu sambil bersedekap dada. Riasan yang melekat pada dirinya juga tidak kalah heboh. Itu adalah ibuku, namanya Ibu Emma.
“Udah selesai? Yuk kita ke pelaminan!”
Aku menatap Ibu dengan kesal. Masa depanku hancur sudah. Masa remaja yang seharunya aku nikmati bersama teman-teman udah lenyap. Sedih rasanya, apalagi ini pernikahan diam-diam, hanya dihadiri oleh keluarga inti aja.
“Jangan cemberut gitu, ah! Nanti cantiknya ilang lho,”
“Biarin, biar cowok itu gak suka sama aku,” dengusku kesal.
Ibu membawaku ke altar yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mewah, ada banyak karangan bunga dan berbagai pernak-pernik yang aku sama sekali gak tau namanya apa. Ibu selalu berbisik sepanjang jalan nyuruh aku buat senyum, katanya biar kelihatan anggun. Hah, namaku Nadira, bukan Anggun!
Sekarang aku berdiri di samping laki-laki yang aku sendiri gak kenal. Cuma kenal nama doang, kalau gak salah, waktu itu Ibu pernah bilang namanya Dave. Putra tertua dari keluarga konglomerat. Dia yang melirik ke arahku Cuma tersenyum, aku jelas buang muka biar dia gak suka.
Pendeta bersiap untuk menikahkan kami. Aku yang sama sekali gak tau apa-apa ngikutin alur aja. Kami disuruh bersumpah janji ngikutin ucapan pendeta itu bahwa kami akan terus saling mencintai sampai maut memisahkan. Padahal dalam hati udah muluk-muluk pengen lari, gak tahan diliatin banyak orang.
“Sekarang kalian boleh berciuman untuk mengesahkan ikatan pernikahan,”
Tunggu, aku gak salah dengar kan? Ciuman?! Didepan umum? Harus ciuman ya? Huft, kayaknya saking gak pedulinya aku sama upacara pernikahan ini, aku sampai gak sadar kalau upacara udah mau selesai dan diakhiri dengan proses ciuman.
Aih, geli rasanya. Aku berhadapan sama dia yang kelihatannya puas banget karena udah berhasil nikahin aku. Awas kamu nanti!
__ADS_1
Dia mulai nyosor saat pendeta bilang mulai, aku yang geli sama bibir nya langsung mundur dong, gak rela rasanya memberikan bibir unyuku ini sama dia. Tapi dia berbisik kalau ini harus dilakuin supaya upacara cepat selesai. Dengan berat hati yang kayaknya udah berat banget kaya ngangkat batu, aku memejamkan mata bersiap untuk dicium.
Satu detik, dua detik, gak ada apa-apa. Pas aku buka mata dia cuma senyum aneh. Karena ketutupan kain putih yang menutupi kepalaku ini, aku juga gak tau namanya apa. Jadi orang gak bisa lihat kalau aku ciuman sama dia.
“Aku gak akan nyium kamu sekarang, nanti aja nunggu ada cinta yang hadir baru aku cium kamu,” kata Dave dengan senyum menyeringai yang bikin aku ilfil abis.
Oke, lupakan kejadian nyebelin ini. Setelah upacara selesai aku diminta untuk ganti baju. Syukur deh, soalnya udah risih banget sama gaun pengantin yang gak jelas bentuknya ini. Karena ini acara sederhana yang cuma dihadiri sama keluarga inti, jadi gak ada yang namanya resepsi.
Setelah ganti baju, aku duduk santai di depan meja rias sambil menghapus make up.
“Gimana? Enak gak?” tanya Ibu yang tiba-tiba masuk gitu aja.
“Enak apaan, sih Bu? “ gak ngerti sama maksudnya sedikitpun.
“Ciuman sama anak konglomerat, enak nggak?”
“Jangan sampe ketagihan, kamu masih sekolah. Nanti kalo udah lulus baru kamu boleh minta nafkah, oke?”
Tuh, maksudnya apa coba? Ketagihan apa? Duh, begini lah nasibnya jadi anak polos, gak tau apa-apa soal pernikahan. Lalu soal nafkah? Tentu aku tau itu. Dan udah seharusnya aku sebagai istri dapat nafkah toh? Sebelum lulus juga harus udah dapat, itu kan kewajiban suami memberi nafkah pada istrinya. Benar kan?
Malamnya, aku membereskan pakaianku untuk ikut suami ke rumahnya. Ah, aku bahkan belum siap menyebut dia sebagai suami. Aku masih sekolah tau! Aku baru aja ujian kenaikan kelas tiga SMA kemarin. Dan sekarang aku udah nikah. Sulit dibayangkan.
Aku keluar kamar dengan tiga koper besar berisi barang-barang keperluanku. Susah sih bawanya, tapi aku usahakan supaya gak ngerepotin orang lain dengan membawanya sendiri.
“Kamu yakin mau bawa tiga koper?”
__ADS_1
Suami, eh maksudnya Dave malah nanya. Memangnya salah kalau aku bawa tiga koper? Ini isinya pakaianku semua. Eh, ada satu koper yang isinya boneka.
“Memangnya kenapa? Ada masalah?” tanyaku sebal.
“Nggak, kok sayang. Kamu boleh bawa sebanyak yang kamu mau,” sela wanita yang usianya hampir sama dengan ibuku. Aku dengar itu Mamanya Dave, tapi aku gak tau namanya siapa.
“Tapi, Ma itu banyak banget, besar-besar lagi. Apa muat dimasukin ke bagasi?” kata Dave, kayaknya dia keberatan.
Duh! Protes mulu deh. Tinggal sewa orang untuk bawa barang aja kan gampang, kok ribet banget sih?
“Kita ada mobil khusus untuk ngangkut barangnya Nadira, kamu gak perlu khawatir,”
Fuih, untung mama mertua pengertian. Gak kaya suami yang gak tau diri ini. Masih untung aku mau nikahin dia, malah banyak protes.
“Ayo, Dira. Kita berangkat sekarang, nanti kemalaman,”
Mama mertua langsung merangkul aku setelah aku sungkeman sama Ibu dan Ayah. Baik banget nih Mama mertua, gak kaya anaknya. Setelah pamit, aku yang masih di rangkul sama mama mertua langsung jalan menuju mobil, ada Papa mertua juga yang ngikutin di belakang. Dan paling belakang ada Dave yang ngikutin sambil bawa ketiga koper besar milikku.
Aku begitu terkesima dengan pemandangan didepan mata yang kelihatan mewah. Ternyata Ibu gak bohong, rumah Dave besar banget. Aku sampai bingung ini rumah atau istana. Aku di ajak masuk sama kedua mertuaku, Dave ngikutin di belakang dan kali ini barang ku udah ada yang bawain.
“Selamat datang!”
Aku disambut dengan taburan bunga mawar yang jatuh dari langit. Seperti adegan saat di film-film. Aku merasa jadi tamu istimewa di istana super megah ini. Ada banyak pelayan yang standbay disekeliling kami. Benar-benar luar biasa.
Aku tersenyum membayangkan kehidupan yang akan kujalani setelah hari ini. Apa aku akan dinobatkan menjadi permaisuri kerjaan? Atau aku akan hidup mewah dengan pangeran bagai seorang putri?
__ADS_1
Entah lah, yang jelas aku akan memulai hidup baruku bersama dengan keluarga konglomerat ini. Bagaimana kehidupan yang akan kujalani? Mari simak kisahku.