
Pov Juan.
Saat Tante Riri memintaku keluar , tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Rasanya aku tidak ingin meninggalkan Nonik bersama dengan Tante Riri.
Sudah satu jam berlalu , tapi Nonik belum juga menemuiku di dapur. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak tenang.
" Juan, kamu bilang cewekmu akan bekerja di sini, tapi kenapa aku lihat dia keluar dari restoran ? " tanya Kak Dimas padaku
" Masa sih , Kak ? Mungkin Kakak salah lihat," ujarku yang merasa tidak percaya dengan apa yang Kak Dimas katakan. Karena mana mungkin Nonik pergi dari sini tanpa mengabari aku terlebih dahulu.
" Tapi aku yakin kalau itu adalah cewekmu. Kalau kamu tidak percaya lebih baik kamu cek ke ruangan Bu Riri," kata Kak Dimas seraya menepuk bahuku.
" Iya,Kak," sahutku yang langsung keluar dari area dapur dan menuju ke ruangan Tante Riri.
" Tok...tok...tok..." aku mengetok pintu ruangan Tante Riri berkali-kali.
" Masuk, " ucap Tante Riri dari dalam ruangan.
Namun , setelah aku berada di ruangan Tante Riri,aku begitu terkejut karena di sana tidak ada Nonik. Di ruangan itu hanya ada Tante Riri yang sedang mengecek laporan.
" Apa Tante Riri menyuruh Nonik untuk membeli sesuatu keluar ? " batinku dengan perasaan yang begitu bingung.
" Tante, Nonik di mana ? " tanyaku pada Tante Riri.
" Juan , duduklah dulu," kata Tante Riri seraya menatapku.
Aku lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Tante Riri.
__ADS_1
"Tante, tolong katakan padaku dimana Nonik saat ini ? " ujarku seraya menatapnya dengan tajam.
" Tante sudah mengusir istrimu itu , dan memintanya untuk menjauhimu. Setelah kamu keluar dari ruangan ini , dia tiba-tiba saja marah pada Tante. Dia bilang karena ide dari Tante dia jadi menikah denganmu. Nonik juga bilang kalau dia sangat membencimu, jadi Tante terpaksa mengusirnya . Lebih baik kamu pulang ke rumah. Buat apa kamu berkorban untuk orang yang tidak pernah mencintaimu ? Jangan membuang waktumu untuk wanita seperti itu," ujar Tante Riri seraya merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya.
Mataku terbelalak lebar mendengar ucapan Tante Riri. Mendadak tubuhku menjadi lemas memikirkan Nonik. Jujur dari hatiku yang paling dalam ,aku tidak percaya dengan ucapan Tante Riri. Aku tahu betul bagaimana sifat Nonik. Dia tidak mungkin membenciku , karena saat aku menyatakan cinta dan saat kami bersama-sama aku selalu melihat ketulusan dari matanya itu. Nonik memang pernah menyuruhku pulang ke rumah , tapi bukan karena membenciku, dia memintaku pulang karena kasihan padaku.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke pintu ruangan itu.
" Juan ,berhenti. Kamu harus ikut dengan Tante pulang ke rumah," teriak Tante Riri padaku.
" Maaf ,Tante. Aku harus mencari Nonik. Sampai kapanpun aku tidak akan pulang ke rumah," kataku dengan wajah merah padam.
" Kamu tidak boleh mencari wanita itu. Kamu tidak pantas menikah dengan gadis seperti dia," teriak Tante Riri seraya berjalan mendekatiku.
Namun aku tidak memperdulikan ucapannya sama sekali. Aku membuka pintu ruangan itu dengan kasar , dan setelah itu ke luar dari restoran begitu saja.
Di depan restoran aku bertemu dengan Kak Dimas . Dia menatapku dengan sangat bingung.
" Maaf Kak , nanti aku ceritain. Saat ini aku sedang buru-buru," ucapku yang langsung berlari menuju ke parkiran.
" Baiklah, hati-hati. Kalau ada masalah hubungi saja aku," teriaknya
" Iya ,Kak. Terimakasih," balasku
Tempat pertama yang harus aku tuju saat ini adalah kosan. Aku harus memastikan dulu apakah Nonik ada di kosan atau tidak. Kalau dia ada di kosan , itu artinya dia tidak akan meninggalkanku. Di perjalanan aku terus berdoa agar Nonik saat ini pulang ke kosan. Jujur aku begitu khawatir dengannya. Bagaimana aku tidak khawatir , saat ini Nonik tidak memiliki uang sedikitpun. Orang tuanya juga tidak pernah peduli dengannya, jadi tidak mungkin dia pulang ke rumahnya.
Sampai di kosan, dengan langkah buru-buru aku langsung menuju ke kamarku. Setelah pintu kamar terbuka, aku tidak melihat ada Nonik di sana.
__ADS_1
" Apa Nonik pergi bersama sahabatnya ? Soalnya dia tidak memiliki uang sedikitpun, jadi pasti Nonik menghubungi Tobi atau Agus agar mereka menjemputnya di restoran," pikirku yang berusaha berpikir positif.
Aku mengambil segelas air putih sembari menatap ke sekeliling ruangan kamar itu. Aku merasa seperti ada yang hilang dari kamarku. Tapi aku binggung apa yang hilang dari kamarku ini ? Aku terus memperhatikan dengan teliti semua isi kamarku. Mataku semakin membulat saat menyadari apa yang hilang dari kamarku ini. Aku lihat buku-buku Nonik yang ada di meja belajar sudah tidak ada. Semua barang Nonik tidak ada di kamar ini, dan itu artinya Nonik telah pergi meninggalkan aku.
" Kira-kira Nonik pergi kemana ? " gumamku seraya mengacak-ngacak rambutku karena merasa frustasi.
Saat ini aku sungguh bingung harus mencari Nonik kemana. Sudah berkali-kali aku menghubungi nomer ponselnya , tapi dia tidak mengangkat panggilan telepon dariku. Aku juga sudah mengirim pesan , tapi dia tidak membalas sama sekali. Aku yakin Nonik juga pasti merasa bingung harus pergi kemana saat ini.
Dengan wajah yang panik , aku mengambil kunci motorku. Aku akan mencari Nonik ke rumah Tobi , pasti dia ada di sana. Mereka bersahabat dari kecil , dan kalau Nonik ada masalah dia selalu curhat atau mencari sahabatnya itu. Kebetulan kemarin aku sempat bertanya pada Tobi dimana tempat tinggalnya , karena menurutku aku harus tahu dimana tempat tinggal sahabat istriku ,agar nanti kalau ada masalah aku bisa bertanya langsung pada mereka.
Tidak menunggu begitu lama aku telah sampai di depan rumah Tobi. Rumah itu tidak terlalu besar , tapi rumah itu terlihat begitu indah dengan adanya banyak tanaman di depannya.
" Ting...tong...ting ...tong..." aku memencet bel rumah Tobi. Tak lama kemudian, keluarlah Tobi dengan pakaian yang terlihat rapi.Aku lihat sepertinya dia akan pergi keluar.
" Juan ? Aku baru saja mau mencarimu ke tempat kerjamu," kata Tobi seraya menatapku.
" Mencariku ? Kenapa kamu ingin mencariku ? " tanyaku bingung.
" Lebih baik masuk dulu, kita bicara di dalam," ucap Tobi padaku. Aku lalu mengikutinya ke dalam.
"Juan, Nonik sekarang dimana ? " tanya Tobi seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Apa dia tidak ada di sini ? Aku juga kesini ingin mencari Nonik," balasku dengan wajah semakin terkejut. Aku tadi begitu yakin kalau Nonik berada di sini, tapi ternyata Nonik juga tidak ada di sini. Atau jangan-jangan dia ada di rumah Agus ? Cuma rumah Agus satu-satunya harapanku saat ini.
" Dia tidak ada di sini. Aku baru saja ingin mencarimu dan bertanya mengenai Nonik, soalnya tadi Nonik sempat menghubungiku," kata Tobi dengan wajah yang tampak serius.
Dia menceritakan semua pembicaraannya antara dirinya dan juga Nonik di telepon. Begitu juga denganku, aku menceritakan semua yang terjadi di restoran.
__ADS_1
" Aku tadi sudah menghubungi Nonik , tapi tidak diangkat. Aku hubungi nomer Agus tapi nomernya tidak aktif . Kalau begitu kita coba ke rumah Agus. Pasti Nonik ada di sana, karena tidak mungkin dia pulang ke rumahnya," ujar Tobi.
" Tuhan ,tolong bantu aku menemukan Nonik. Mudah-mudahan Nonik ada di sana," gumamku dengan wajah semakin panik. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan Nonik.