
Karena tidak menemukan Randy dan Juan , aku akhirnya memilih pulang ke rumah , karena siapa tahu mereka sudah pulang ke rumah.
Ketika telah sampai di depan rumah Nenek Ami , aku mendengar suara motor Randy di belakangku. Aku langsung menoleh ke belakang dan ternyata itu memang benar Randy.
" Nonik, kamu dari mana saja ? Aku tadi mencarimu kemana-kemana ," ujar Randy seraya menatapku dengan wajah cemas.
" Aku tadi keluar mencari kalian. Aku dan Nenek sangat khawatir dengan kalian. Sebenarnya kalian dari mana sih ? Lalu Juan di mana ? "
" Lebih baik kita masuk dulu. Kita bicara di dalam saja,"
Aku lalu masuk ke dalam di ikuti oleh Randy.
" Nonik , tadi di perjalanan ada orang yang ingin menculik Juan. Tapi untung aku segera mengetahuinya," terang Randy sembari duduk di teras.
" Menculik ? " tanyaku dengan mata yang terbelalak lebar. Aku begitu terkejut mendengar semuanya. Kira-kira siapa yang ingin menculik Juan ? Pasti ini semua adalah perbuatan Tante Riri dan Om Yuda. Kalau benar ini semua perbuatan mereka berarti Juan saat ini dalam bahaya.
" Iya ,benar. Setelah mengantar pesanan, kami mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli cemilan. Aku masuk ke dalam sendirian, sedangkan Juan menunggu di depan minimarket , namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil berhenti tidak jauh dari motorku. Lalu ada empat orang pria turun dari mobil itu dan mendekati Juan. Tapi Juan tidak menyadari kedatangan mereka karena sibuk dengan ponselnya. Kemudian salah satu dari mereka membekap mulut Juan hingga pingsan. Aku yang melihatnya langsung berlari keluar menolong Juan,"
" Lalu sekarang Juan dimana ? " tanyaku dengan wajah khawatir.
" Saat ini Juan aku suruh istirahat di kamarnya, soalnya kepalanya masih terasa pusing," terang Randy
" Kalau begitu aku ingin melihat Juan sebentar,"
" Temuilah dia. Dari tadi dia menanyakanmu terus.Kalau begitu aku ke warung dulu," balas Randy seraya beranjak dari tempat duduknya.
" Kalau begitu nanti aku susul ke sana ," ujarku seraya menatapnya
" Tidak usah , warungnya juga akan tutup kok. Aku kesana mau bantuin Nenek tutup warung. Lebih baik kamu temani Juan, "
" Terima kasih ,Rand . Kamu memang sahabat yang sangat baik."
" Sama-sama," jawabnya seraya tersenyum.
Aku lalu pergi mencari Juan di kamarnya. Aku lihat dia sedang berbaring sambil memijat kepalanya sendiri.
" Juan , bagaimana keadaanmu ? " tanyaku sembari menatapnya.
" Sayang ? Untung kamu sudah pulang. Perasaanku tidak tenang saat tahu kamu keluar mencariku ."
__ADS_1
" Tadi aku dan Nenek sangat khawatir karena kalian tidak juga pulang, jadi terpaksa aku keluar mencari kalian ," ucapku seraya melepas jaket yang masih melekat di tubuhku.
" Maaf ,karena membuat kalian khawatir. Tadi ada orang yang ingin menculikku , tapi untung saja Randy segera menolongku. Kalau tidak ada dia entah bagaimana nasibku,"
" Sepertinya yang ingin menculikmu adalah Tante Riri dan juga Om Yuda. Pasti mereka sedang merencakan sesuatu saat ini," ucapku seraya duduk di pinggir tempat tidur.
" Kamu benar. Mereka memang orang suruhan Tante Riri dan Om Yuda. Mereka pernah datang ke kosan bersama Tante Riri,"
" Mulai besok kamu harus lebih berhati-hati. Mereka pasti tidak akan menyerah sebelum tujuannya tercapai," kataku seraya menggenggam tangan Juan
" Ya tenang saja. Aku akan selalu berhati-hati. Jujur, aku tidak menyangka kalau mereka begitu tega padaku. Padahal aku keponakannya sendiri. Almarhum Mama pasti sangat sedih melihat saudaranya yang seperti itu,"
" Bagaimana kalau besok kita temui Tante Riri ? " ujarku seraya merebahkan tubuhku di samping Juan.
" Ide yang bagus. Kalau begitu ayo kita tidur, karena ini sudah sangat malam,"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besoknya, kami ke Sekolah seperti biasa.
" Hai Nonik , kamu sudah makan atau belum ? " tanya Kak Fajar seraya duduk di sampingku.
" Setiap gue mau bicara sama Nonik, lo pasti ikut campur. Bikin emosi saja," sahut Kak Fajar dengan cemberut.
" Lebih baik Kakak pergi dari sini, mengganggu saja," ujar Agus
" Ini lagi si banci , ikut-ikutan saja. Lebih baik lo diam , karena gue mau bicara penting sama Nonik."kata Kak Fajar seraya mengalihkan pandangannya ke arahku.
" Memangnya Kakak mau bicara apa ? " tanyaku seraya menaikkan sebelah alisku.
" Apa kamu dan Juan bersaudara ? " tanya Kak Fajar seraya menatapku.
"Bersaudara ? Maksud Kakak apa ? Aku tidak mengerti, " ujarku dengan bingung.
"Begini, saat ini aku tinggal di rumah Nenekku. Nama Nenekku adalah Nenek Arum. Dia memiliki kosan dan juga minimarket. Kemarin Nenek bilang kalau sebelumnya pernah ada anak SMA ngekos di tempat Nenekku. Kata Nenek, mereka adalah Kakak adik dan berasal dari sekolah ini. Nenek juga bilang kalau namanya adalah Nonik dan Juan. Di sekolah ini yang namanya Nonik dan Juan hanya kalian," terang Kak Fajar seraya menatapku
Aku langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Kak Fajar. Begitu pula dengan yang lainnya.
Aku bingung harus jawab apa. Aku takut salah jawab dan terjadi masalah.
__ADS_1
" Ya , kamu benar. Kami memang bersaudara," balas Juan yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangku.
" Jadi kalian benar- benar bersaudara ? Tadinya gue sempat cemburu melihat kedekatan lo sama Nonik , tapi ternyata kalian bersaudara. Akhirnya perasaan gue jadi sedikit lega," ucap Kak Fajar seraya tersenyum.
" Nonik, kalau begitu aku ke kelas dulu," balas Kak Fajar setelah mendengar bel masuk kelas.
Aku menghela nafas dengan lega setelah Kak Fajar pergi.
" Kalian harus lebih berhati- hati ," kata Tobi berbisik
" Kamu memang benar ," jawabku seraya bangkit dari tempat dudukku dan kemudian masuk ke kelas .
Ketika bel pulang sekolah telah berbunyi, semua anak-anak langsung keluar dari kelasnya. Walaupun Kak Fajar mengira aku dan Juan bersaudara, tapi aku tetap tidak berani pulang bersama Juan. Aku takut jika nanti teman-temanku yang ada di dekat rumahku melihat kedekatan kami. Kalau mereka sampai tahu, maka mereka pasti akan langsung bergosip. Aku memilih pulang sama Agus dan Tobi, karena mereka sudah tahu kalau kami bersahabat dari kecil.
Saat motor Tobi keluar dari halaman sekolah , aku begitu terkejut melihat Kak Putra dan Kak Bagas berada di depan Sekolahku.
" Kenapa mereka ada di sini ? " tanya Tobi seraya menoleh ke belakang.
" Aku juga tidak tahu," jawabku dengan perasaan yang tidak tenang.
" Nonik, Kakak ingin bicara denganmu ," teriak Kak Bagas .
"Ya ,Tuhan . Bagaimana kalau Kak Fajar dan teman sekelasku melihat ? " gumamku dengan suara yang cukup pelan
Dengan cepat kami lalu menghapiri mereka.
" Kenapa kalian ada di sini ? " tanyaku seraya menatap mereka dengan tajam.
" Kami ingin bicara denganmu," ucap Kak Bagas seraya menatapku.
" Kalau begitu kita bicara di tempat lain saja," ajakku
Kami lalu pergi ke Cafe yang ada di dekat Sekolahku. Setelah sampai di sana , kami langsung mencari tempat duduk dan memesan minuman. Tidak menunggu waktu lama minuman yang kami pesan akhirnya datang.
" Ada apa ? Kenapa Kakak mencariku ke Sekolah ? " ujarku yang langsung bertanya pada mereka. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan kedua kakakku. Dia juga tidak pernah mau menganggapku adiknya, dengan alasan malu memiliki adik sepertiku.
"Kami ke sini karena ingin minta maaf denganmu. Maafkan kami, karena selama ini kami sangat jahat denganmu," ucap Kak Bagas seraya menatapku.
" Ya ,dek . Maafkan Kakak karena selama ini Kakak sangat jahat denganmu," kata Kak Putra .
__ADS_1
Mataku terbelalak lebar mendengar ucapan mereka. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang mereka katakan. Dari dulu mereka sangat licik dan hanya memikirkan dirinya sendiri.