Pengantin SMA

Pengantin SMA
Kak Vivi


__ADS_3

Pak, ini yang namanya Nonik,"terang Kak Fajar.


"Nonik,silahkan duduk, " ujar  Pak Andi sambil menatapku


"Iya Pak, " jawabku yang langsung duduk .


" Fajar, tolong bantu Bapak merapikan buku itu ya ! " kata Pak Andi sambil menunjuk ke sebuah buku yang  ada di sampingnya.


" Iya Pak,"  sahut Kak Fajar yang langsung duduk di kursi sebelahku.


"Nonik, kamu rupanya jago karate ya ? Dan bahkan kamu juga sudah berada di tingkat paling tinggi. Sejak kapan kamu belajar karate ? " tanya Pak Andi dengan alis mata terangkat


" Aku mulai belajar karate dari kelas 1 SD hingga sekarang Pak," ucapku


"Bapak ingin mengajakmu untuk masuk ke eskul karate , apakah kamu mau ? " tanya Pak Andi menatapku


Jujur ,aku merasa bingung harus menjawab apa. Dan sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi Juan melarangku dengan alasan nanti aku kecapean . Karena di luar Sekolah aku juga ikut karate dengan Juan.


" Sepertinya tidak Pak, soalnya saya juga ikut latihan karate di luar Sekolah." Jawabku sambil menatap Pak Andi


"Cobalah pikirkan dulu, karena guru-guru di sini ingin sekali kamu ikut eskul karate," terang Pak Andi.


" Kalau begitu berikan saya sedikit waktu untuk memikirkan semuanya Pak, karena saya juga ingin minta izin dengan keluarga saya,"ujarku


" Baiklah kalau begitu,tapi tolong pikirkan dengan baik tawaran saya ini, " kata Pak Andi tersenyum.


"Iya Pak, " balasku sambil menatapnya


Setelah itu aku keluar dari ruangan Pak Andi. Namun tiba-tiba Kak Fajar memanggilku.


" Nonik, tunggu sebentar , " panggil Kak Fajar ,dan aku langsung menoleh kebelakang.


" Ada apa Kak ? " tanyaku dengan alis mata terangkat.


"Boleh minta nomer ponselmu ? " tanya Kak Fajar sambil menatapku.


"Untuk apa ya Kak ? " aku bertanya dengan raut wajah yang bingung.


"Siapa tahu nanti ada informasi yang sangat penting, jadi aku bisa langsung menghubungimu," kata Kak Fajar . Akan tetapi aku melihat dia seperti sedang berbohong denganku. Tetapi aku tetap menjauhkan pikiran burukku ini. Aku lalu memberikan nomer ponselku kepadanya. Setelah itu aku mencari sahabatku lagi.

__ADS_1


" Maaf ya, kalian jadi menungguku terlalu lama," ucapku sambil duduk di samping sahabatku.


"Santai saja, Agus juga baru keluar dari kelasnya,"sahut Tobi


"Oh iya Nik, kenapa kamu di panggil sama Pak Andi ?  Apa ada masalah ?" Tanya Agus dan Tobi  begitu penasaran. Sahabatku ini orangnya begitu penasaran sekali, jadi aku selalu berhati-hati dengan mereka, apalagi sekarang ini dia belum tahu mengenai pernikahanku dengan Juan.


"Cuma diajakin eskul karate," jawabku


" Ohh.. masalah eskul. Tadi gue mengira kalau kamu di panggil karena masalah biaya Sekolah."ujar Tobi.


" Aku paling males ikut begituan ," ucap Agus


" Ya gue juga, buang-buang tenaga saja." Kata Tobi ikut membalas.


" Ya sudah ,kita ke kantin saja yuk ! Gue laper banget nih," balas Agus yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


Aku lalu berjalan di tengah mereka. Namun tiba-tiba ,Agus tidak sengaja menabrak seseorang.


Brukkk


"Aww! "


" Apa lo tidak punya mata ? Makanya kalau jalan itu pakai mata , jangan pakai kaki." Ucap Kakak itu yang bicara sambil melotot tajam .


"M-maaf Kak! Aku benar-benar tidak sengaja," jawab Agus yang sudah tampak ketakutan dan gemetar.


"Kak , tolong maafkan teman saya . Dia benar-benar tidak sengaja," ucapku yang merasa kasihan melihat Agus seperti itu.


" Vi , ini bukannya anak cewek itu ya ? " tanya Kak Lili sambil menatapku tidak suka.


"Iya kamu benar Li, dia memang cewek itu."


Setelah itu dia menatapku terus, dan aku merasa bingung dengan arti tatapannya itu.


Dan Tobi juga merasa bingung dengan tatapan Kakak itu . "Apa Kakak mengenal temanku ini," tanya Tobi.


" Siapa yang tidak tahu wanita ini, dan bahkan semua anak di Sekolah ini membicarakannya. Asal kalian tahu ya , gara- gara temanmu ini aku jadi putus dengan cowokku."kata Vivi sambil menunjuk ke arahku dengan matanya yang melotot.


" Kalau kamu kesini ingin belajar, maka jangan pernah tebar pesona di Sekolah ini. Dan mulai besok kamu harus berpenampilan cupu , jika kamu tidak menuruti ucapan kita maka bersiaplah menerima balasan dari kita,"ucap Kakak itu dengan wajahnya yang merah padam

__ADS_1


" Maaf ya Kak aku tidak pernah tebar pesona di Sekolah ini, dan aku juga tidak kenal dengan cowok Kakak. Dan satu lagi , memangnya Kakak itu siapaku sampai mengatur penampilanku ?"aku bertanya sambil melipat kedua tanganku di dada. "Lebih baik Kakak perbaiki make up Kakak itu. Make up Kakak itu sepertinya kurang tebal , sehingga cowok Kakak mutusin Kakak." aku berbisik di telinga Kak Vivi hingga wajahnya terlihat begitu marah.


Aku kemudian berjalan meninggalkannya dan di ikuti oleh kedua sahabatku


Namun tiba-tiba Kak Vivi ingin menyiramku menggunakan minuman yang di bawa oleh temannya


"Nonik awas !" Teriak Tobi dan Agus bersamaan.


Aku menoleh ke belakang ,dan setelah itu langsung menendang gelas minuman yang ada di tangan Kak Vivi hingga mengenai kepalanya


" Tes..tes...tes.." minuman itu menetes mengenai wajah dan bajunya.


" Ahh..! " teriaknya dengan wajah marah


" Ops maaf, " sambil menutup mulutku dengan tangan kananku dan pura-pura terkejut. Dan aku juga tersenyum polos seperti tidak melakukan apa-apa.


Dia menatapku dengan tatapan berapi-api. "Berani sekali kamu denganku." Tangan kanannya menunjukku sedangkan tangan kirinya mengepal dengan penuh kemarahan.


" Aku tidak pernah takut tuh , apalagi dengan wanita seperti kalian."balasku dan kemudian meninggalkannya.


" Argh sial ! Dasar wanita kurang ajar ," teriak Kak Vivi yang langsung pergi.


Aku melihat dari jauh kalau Juan tersenyum denganku, sedangkan anak-anak yang lain bertepuk tangan kepadaku.


" Dia memang aneh sekali , tadi pagi bersikap dingin ,sekarang tersenyum. Rasanya aku tidak akan pernah bisa mengerti dia ," gumamku di hati dengan wajah yang kesal.


Kami lalu pergi ke kantin.


" Agus , kamu tidak apa-apa kan ? " tanyaku sambil mengaduk-ngaduk bakso.


"Ya gue baik-baik saja kok. Terima kasih ya Nik ! Selama ini kamu selalu menolongku. " balas Agus


" Ya sama-sama , tapi lain kali kamu tidak boleh takut dengan orang seperti mereka. Kamu itu seorang laki-laki jadi harus kuat dan berani."


" Ya Nonik benar, lain kali lo orang berani melawan orang seperti mereka," balas Tobi sambil menatap Agus.


Agus menunduk sambil mengaduk-ngaduk baksonya yang belum di makan sama sekali. " Iya deh! Tapi yang tadi itu beneran salahanku , jadi wajar dia marah. Oh iya Nik, kalau dengan orang lain kamu selalu berani dan tidak pernah takut ,tapi kenapa dulu saat Bapakmu memukul kamu tidak pernah melawannya ? " tanya Agus menatapku.


" Aku tidak melawan bukan berarti aku takut, aku tidak melawan mereka karena dia adalah orang tua. Nenekku bilang kita itu tidak boleh melawan orang tua, karena dosanya sangatlah besar. Seburuk-buruknya orang tuaku, mereka tetaplah orang yang menyebabkan aku ada di dunia ini. Kalau perbuatan mereka salah, biar Tuhan yang membalasnya."balasku dan setelah itu kami mulai makan.

__ADS_1


__ADS_2