
" Randy ? "teriak Nenek Ami
" Iya Nek, ada apa ? " tanya Randy dengan wajah penasaran .
" Tadi Ibumu menghubungi Nenek. Katanya Sindi menangis . Lebih baik kamu jemput adikmu. Ibumu memang sangat keterlaluan sekali. Sudah tahu anaknya tidak mau menginap di sana , tapi masih saja meminta Sindi menginap di sana. Apa dia tidak bisa datang kemari untuk menjenguk anak-anaknya ? " omel Nenek Ami.
" Tapi Nek ? Kalau aku pergi , siapa yang menjaga warung ? " tanya Randy dengan wajah bingung.
" Di rumah kan ada Kakek . Juan dan Nonik juga sudah mau selesai memasak," terang Nenek Ami
" Baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu,setelah itu baru ke sana," kata Randy yang langsung menuju ke kamarnya.
Empat jam kemudian badanku terasa panas dan menggigil. Kepalaku juga terasa nyeri.
" Sayang, tanganmu panas sekali," ucap Juan ketika tangannya menyentuh tanganku . Dia lalu menyentuh dahiku.
" Aku tidak apa-apa kok," sahutku pada Juan.
" Tidak apa-apa bagaimana ? Badanmu panas begini . Lebih baik kamu istirahat,"ucap Juan dengan wajah begitu khawatir.
" Tapi pekerjaan kita masih banyak. Aku juga belum menyiapkan bahan-bahan untuk jualan besok. Randy juga belum pulang," balasku dengan tubuh yang begitu lemas.
" Biar aku yang mengerjakan semuanya. Kalau begitu kamu tunggu di sini, aku akan mencari Nenek Ami sebentar," terang Juan yang langsung meninggalkanku
Tak berselang lama , Juan datang bersama Nenek Ami.
" Nonik, kamu istirahat sebentar ya ? Sepertinya kamu kecapean , palingan istirahat sebentar sudah sembuh," ucap Nenek Ami padaku.
" Iya ,Nek," sahutku yang langsung bangkit dari tempat dudukku.
Juan mengantarku ke kamar. Sampai di kamar dia memberiku obat penurun panas , dan mengompres dahiku.
" Sayang, lebih baik kita ngekos saja . Kamu bahkan sampai sakit begini," ucap Juan padaku.
" Kalau tinggal di sini kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk bayar kos. Makan juga di kasih ,"
__ADS_1
" Sayang , tinggal di sini kita setiap hari harus bangun jam tiga pagi atau setengah empat pagi. Apa kamu kuat melakukan semua itu ? Apalagi kita seorang pelajar. Terkadang setelah tutup warung kita juga harus melanjutkan belajar . Jam dua belas malam kita baru selesai belajar, sedangkan besoknya kita harus bangun jam tiga pagi atau setengah empat pagi. Kita juga tidak pernah tidur siang. Pulang sekolah, belum ganti baju sudah di panggil dan di suruh bekerja. Kita tidak bisa terus- menerus seperti ini. Buktinya kamu sampai sakit seperti ini. Lebih baik kita nyari kerja di tempat lain. Kalau kita bekerja berdua di tempat lain, kita juga bisa menabung. Aku tidak ingin kamu seperti ini. Bagaimana ,apa kamu setuju ? " tanya Juan sembari memijat kakiku.
" Iya aku setuju," balasku seraya menganggukkan kepala.
Tiga puluh menit kemudian pintu kamar kami di ketuk.
" Nonik , Juan, " panggil Nenek Ami .
Juan lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi membuka pintu.
" Iya Nek, ada apa ? " tanya Juan seraya menatap Nenek Ami.
" Pekerjaan kita masih banyak. Randy juga hari ini tidak pulang, karena dia diminta oleh Ibunya untuk menginap di sana. Jadi kalian harus kembali bekerja. Soalnya Nenek sama Kakek sangat capek, jadi mau tidur duluan," ujar Nenek Ami
Padahal ini baru jam tujuh malam, tumben-tumbenan mereka tidur jam segini, biasanya kemarin-kemarin kalau jam segini mereka menonton tv.
" Tapi Nonik saat ini masih sakit ,Nek . Kalau begitu biar aku saja yang jaga warung dan mengerjakan semua," terang Juan
" Kalau kamu mengerjakan semuanya sendiri, mungkin besok baru selesai. Lebih baik kerjakan bersama Nonik,"kata Nenek Ami seraya menatap Juan
" Tapi Nonik sekarang sedang sakit , jadi mana mungkin dia bisa bekerja," ujar Juan dengan bingung.
" Nenek keterlaluan sekali . Dia seperti itu karena kelelahan, seharusnya Nenek membiarkan dia istirahat , tapi Nenek malah menyuruhnya bekerja," balas Juan dengan wajah merah padam.
" Lalu siapa yang harus bekerja ? Kalian berada di sini untuk bekerja. Makan Nenek kasih , mandi juga di sini, dan setiap hari juga kalian menerima uang. Lalu kurang apa lagi ? Kalau kalian berada di luar , memangnya masih bisa hidup enak seperti di sini ? Palingàn kalian jadi pengemis di luar,"
" Nek , kami sudah tahu semuanya. Selama ini Nenek Ida memberikan uang pada Nenek untuk biaya hidup kami selama di sini, tetapi Nenek tidak pernah memberitahu siapapun mengenai masalah ini," sahut Juan dengan amarah menggebu-gebu.
" Dari mana kalian tahu mengenai masalah itu ? " tanya Nenek Ami dengan wajah panik.
Aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dengan tubuh yang masih lemah, lalu menghampiri mereka.
" Juan , aku tidak apa-apa kok. Lebih baik sekarang kita lanjut bekerja, " kataku yang sudah berdiri di samping Juan.
" Nonik, kamu saat ini sedang sakit. Kalau kamu memaksa bekerja , nanti keadaanmu bertambah parah," ucap Juan dengan wajah yang begitu khawatir.
__ADS_1
" Maaf , Nek. Sepertinya saya dan Nonik akan ngekos saja. Kami tidak kuat seperti ini. Apalagi kami seorang pelajar," terang Juan seraya menatap Nenek Ami dengan tajam.
" Kalian tidak bisa pergi dari sini, karena Nenekmu sudah menitipkan kalian padaku,"
" Nenek tenang saja. Biar saya yang menjelaskan pada Nenek Ida," balas Juan seraya menarik tanganku.
" Juan, Nonik, kalian tidak bisa pergi dari sini," teriak Nenek Ami. Namun kami tidak memperdulikan ucapannya.
"Nonik, kamu duduk di sini dulu. Aku akan memasukkan semua barang-barang kita," kata Juan seraya memasukkan bajuku dan bajunya ke dalam tas.
" Kalau kalian pergi dari sini , maka aku akan membongkar pernikahan kalian," ancam Nenek Ami.
" Nek , aku tidak takut kalau Nenek ingin menyebarkan pernikahan kami. Kalau Nenek menyebarkan pernikahan kami , maka aku juga akan menyebarkan vidio ini . Kalau Randy sampai tahu mengenai vidio ini, maka dia pasti akan membenci Neneknya sendiri. Dan mungkin warung Nenek juga akan menjadi sepi," balasku sembari memutar vidio yang tadi aku rekam.
Tadi ketika aku berbaring di tempat tidur, aku diam-diam merekam mereka bicara. Itu semua aku lakukan hanya untuk berjaga-jaga. Dan ternyata dugaanku benar.
Saat Nenek Ami bicara dengan seseorang di telepon , aku juga diam-diam merekam pembicaraannya.
Wajah Nenek Ami langsung pucat pasi. Dia tidak berani menatap dan membalas ucapan kami.
Setelah selesai memasukkan semuanya, kami langsung keluar dari rumah itu.
" Juan ,sekarang kita harus pergi ke mana ? " tanyaku padanya.
" Maafkan aku, sebenarnya aku juga tidak tahu harus pergi kemana," balas Juan seraya memelukku.
" Lebih baik kita pergi ke taman . Nanti kita bicarakan semuanya di sana,"
Kami lalu pergi ke taman dan membicarakan semuanya di sana.
" Sebenarnya dari tadi pagi aku sudah mencari kos-kosan bersama Tobi , tapi kami belum menemukannya," terang Juan padaku
Aku menaikkan sebelah alisku saat mendengar nama Tobi." Kenapa Tobi bisa membantumu ?" tanyaku dengan wajah penasaran.
" Waktu di sekolah dia tidak sengaja melihatku sedang mencari kos-kosan. Apa badanmu masih panas ? " tanya Juan seraya menempelkan telapak tangannya di dahiku.
__ADS_1
" Aku sudah tidak apa-apa kok," sahutku
" Tidak apa-apa bagaimana ? Tubuhmu saja masih panas begini," gerutu Juan padaku