Pengantin SMA

Pengantin SMA
Menemui Tante Riri dan Om Yudha


__ADS_3

" Kau bukankah Nonik yang kemarin ikut kejuaraan karate kan ? " tanya seorang polisi.


" Iya ,Pak," sahutku sembari menatapnya


" Apakah mereka ingin menculik mu ?" tanya Pak Rudi sembari menatapku dengan wajah serius.


" Iya ,Pak. Mereka ingin membunuhku, tapi untung saja aku bisa melawan mereka," balasku. Aku menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir.


" Apa kau tidak apa-apa ? Tubuhmu penuh dengan luka cambukan. Biar kami yang mengantarmu ke rumah sakit," ucap Pak Rudi sembari menatap bekas cambukan yang ada di tubuhku. Sedangkan polisi yang lainnya sedang mengurus para penjahat itu.


" Tidak usah ,Pak. Aku tidak apa-apa. Nanti akan aku obati sendiri di rumah, " sahutku. Sebenarnya luka cambukan ini rasanya sakit dan perih, tapi aku berusaha menahannya karena aku harus pergi ke suatu tempat setelah ini.


" Apa kau tahu siapa yang menyuruh mereka melakukan ini ? " tanya Pak Rudi seraya menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya aku curiga dengan Tante Riri dan Om Yudha, tapi aku ingin memastikannya dulu.


" Untuk saat ini aku belum tahu ,Pak. Aku ingin menyelidiki semuanya dulu," sahutku sembari menatapnya .


" Baiklah. Jika kau sudah mengetahui siapa pelakunya , kau bisa langsung menghubungi nomer ponselku .Nanti Bapak juga akan coba bicara pada para penjahat itu. Mudah-mudahan mereka mau memberi tahu siapa yang menyuruhnya," ucap Pak Rudi sembari memberikan kartu namanya padaku.


" Iya ,Pak. Terima kasih," ucapku dengan sopan.


Aku langsung mengambil kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam dompetku.


" Kalau begitu biar saya antar kamu pulang ya ? " ujar Pak Rudi.


" Iya , Pak," sahutku. Namun aku meminta Pak Rudi agar mengantarku ke rumah Nenek Ida. Aku harus pergi ke sana dan mencari Tante Riri. Aku ingin semua masalah ini selesai malam ini.


Ada sekitar sepuluh panggilan dari Juan sengaja aku abaikan. Aku tidak ingin bicara dengannya dulu. Kalau Juan tahu aku pergi ke rumah Nenek Ida malam-malam begini , mungkin dia akan melarangku.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, aku akhirnya sampai di rumah Nenek Ida.


" Terima kasih ,Pak," ucapku pada Pak Rudi.


Setelah Pak Rudi pergi, aku langsung membuka pintu gerbang itu. Awalnya Pak Rudi ingin bertemu keluargaku, namun aku berusaha mencari alasan agar dia langsung pulang.


"Ting...tong...ting...tong..." Aku memencet bel rumah Nenek Ida terus-menerus hingga membuat kebisingan.


Aku memang sengaja datang ke rumah Nenek Ida , karena yang aku dengar dari Nenek Ida kalau Tante Riri saat ini tinggal di sana. Semenjak suaminya menikah lagi , dia memutuskan tinggal di sana. Sedangkan Om Yudha sudah lama bercerai. Aku sangat yakin kalau saat ini mereka pasti belum tidur karena menunggu kabar dari para penjahat itu.


Beberapa menit kemudian pintu rumah itu akhirnya terbuka. Dan ternyata yang membuka pintu adalah Nenek Ida. Dia tampak terkejut melihatku yang penuh dengan luka cambukan.


" Nonik ? Kenapa kamu terluka ,nak ? Tadi Juan menghubungi Nenek dan mengatakan kalau kamu di culik. Lalu kenapa kamu bisa ada di sini ? " ujar Nenek Ida sambil menatapku dengan raut wajah sedih.


" Nenek , aku ingin bertemu dengan Tante Riri dan Om Yudha," ucapku sambil menatapnya.


Namun aku tidak menghiraukannya. Aku langsung masuk ke dalam begitu saja.


" Tante Riri, Om Yudha , keluar kalian. Aku yakin kalian saat ini belum tidur , " teriakku dengan amarah yang sulit aku kendalikan.


" Nonik, ada apa ini nak ? " tanya Nenek Ida dengan raut wajah yang terlihat semakin bingung.


Tak berselang lama Tante Riri dan


Om Yudha keluar dari kamar mereka. Wajah mereka terlihat sangat terkejut saat melihatku.


" No_Nonik, kenapa kau ada di sini ? " tanya Tante Riri dengan mata membulat.

__ADS_1


" Kenapa ? Apa kalian terkejut melihatku karena aku belum mati ? " ujarku sembari tertawa.


" Apa maksudmu bicara seperti itu ? ," tanya Tante Riri padaku. Dia masih pura-pura tidak tahu. Dia kira aku bodoh.


" Sepertinya dia sudah gila . Seharusnya Juan tidak menikah dengan wanita gila seperti dia," ucap Om Yudha sembari menatapku .


" Yang gila adalah kalian. Kalian seperti iblis. Kalian cocok menjadi penghuni Neraka, karena kalian selalu ingin membunuhku dan juga Juan," balasku dengan suara yang cukup lantang. Diam-diam aku hubungi nomer ponsel Om Yudha menggunakan ponsel milik salah satu para penjahat tadi. Aku sengaja belum memberikan ponsel ini pada polisi karena ingin melihat sendiri ekspresi Om Yudha dan Tante Riri. Aku lihat Om Yudha langsung mengangkat panggilan telepon itu. Aku pun langsung mendekatkan ponsel itu ke telingaku.


" Halo Om Yuda, rencanamu kali ini gagal lagi , " ucapku menatapnya sembari tertawa cukup keras.


" Om Yudha dan Tante Riri langsung menoleh ke arahku.


" Kalau mereka tidak bisa membunuhmu , maka aku yang akan membunuhmu ," ucap Om Yudha dengan raut wajah yang terlihat marah.


" Yudha , Riri, kalian memang sangat keterlaluan. Aku sungguh kecewa memiliki anak seperti kalian," ucap Nenek Ida dengan raut wajah sedih.


" Ibu, lebih baik Ibu pergi ke kamar dan tidak usah ikut campur," usir Tante Riri.


Om Yudha menghampiriku dengan membawa sebuah pisau.


" Yudha ,jangan lakukan itu ," teriak Nenek Ida sembari meneteskan air matanya.


Tante Riri langsung membawa Nenek Ida ke kamarnya agar dia tidak melihat semuanya.


Apa dia bodoh ? Dia ingin membunuhku dengan tangannya sendiri ? Para penjahat yang berjumlah banyak saja tidak berhasil membunuhku , tapi dia ingin membunuhku dengan tangannya sendiri ? Aku akui dia cukup berani.


Saat Om Yudha sudah ada di depanku. Aku langsung menendangnya. Aku melawannya hingga dia tidak sadarkan diri. Setelah itu aku lalu menghubungi Pak Rudi dan memberitahu beliau kalau aku sudah menangkap pelakunya.

__ADS_1


Ketika Tante Riri telah keluar dari kamar Nenek Ida. Dia begitu terkejut melihat Om Yudha yang sudah babak belur. Dia ingin kabur, tapi aku langsung mencambuknya beberapa kali hingga dia jatuh pingsan.


__ADS_2