
Sepulang dari bekerja aku lihat Juan langsung mengambil bukunya karena ingin mengerjakan tugas sekolah. Aku yang melihat hal itu merasa kasihan pada Juan. Aku lalu duduk di sofa menemani Juan mengerjakan tugas sekolah. Aku lihat Juan berkali-kali menguap tapi dia tetap mengerjakan tugas-tugasnya. Begitu juga denganku , karena sudah larut malam tanpa sadar aku malah ketiduran di sofa.
Saat tubuhku di angkat , aku tetap memejamkan mataku karena mataku terasa begitu berat untuk di buka . Aku kira Juan memindahkanku ke tempat tidur , tapi saat aku membuka mata aku melihat sekeliling ruangan yang serba putih. Langit-langit kamarnya juga berbeda dari kamar kosanku.
Aku begitu bingung saat melihat Juan yang terlihat begitu panik.
Saat aku menyadari kalau diriku sekarang sedang berada di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Aku merasa bingung kenapa aku berada di rumah sakit.
Saat seorang Dokter wanita bertanya padaku apakah aku hamil, aku semakin di buat bingung.
Setelah mendengar jawaban dari Juan , aku akhirnya mengerti semuanya. Juan mengira kalau aku hamil dan pendarahan , padahal itu hanya datang bulan .
Kami saja belum pernah berhubungan suami istri, tapi bisa-bisanya dia mengira aku hamil.
Aku menepuk dahiku begitu pelan. Sungguh aku sangat malu pada Dokter Lia akibat kelakuan Juan yang sudah kelewatan batas. Bagaimana bisa dia tidak membangunkanku ? Bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi padaku.
Tapi semua itu juga akibat dari salahku sendiri karena tidur seperti orang pingsan.
Setelah Juan meminta maaf padaku dan aku langsung memaafkannya karena aku juga bersalah dalam hal ini.
Saat aku menyuruh Juan untuk membeli pembalut , sebenarnya aku merasa tidak enak padanya karena dia seorang pria . Tapi aku juga bingung harus minta tolong pada siapa lagi . Jadi terpaksa aku minta tolong padanya.
Aku menunggu Juan yang masih membeli pembalut . Sesekali aku mengusap wajahku sambil tertawa kecil mengingat apa yang di lakukan Juan hari ini. Pria itu terlalu panik sampai-sampai menduga kalau diriku pendarahan akibat janin yang aku kandung.
Padahal kita saja belum pernah melakukan hubungan suami istri. Tapi sepertinya Juan melupakan hal itu karena terlalu panik.
" Juan , kenapa kamu sangat menggemaskan sekali," ujarku seraya menggelengkan kepalaku.
" Kenapa Juan lama sekali ? " gumamku lagi
Aku lalu menunggu Juan dengan duduk di tepian ranjang sambil menyangga kepalaku dengan sebelah tangan. Jika mengingat tentang kejadian tadi, rasanya aku tidak bisa berhenti untuk tidak tertawa.
" Ya ampun , Juan. Ternyata di balik sikapmu itu, kamu terlalu polos," gumamku sembari menggelengkan kepalaku dengan pelan.
__ADS_1
Ceklek...
Tidak berselang lama akhirnya Juan datang. Pria itu masuk dengan perasaan sedikit canggung.
" Nonik , ini barang yang kamu inginkan,"ujar Juan seraya mengulurkan kantong plastik padaku.
Aku menerimanya lalu mengintipnya terlebih dahulu untuk memastikan tidak salah beli. Aku menghela nafas lega , karena aku pikir Juan akan kesulitan mendapatkannya.
" Terima kasih , aku jadi tidak enak hati padamu, karena tidak semua pria melakukannya," ucapku seraya menyunggingkan senyumku.
" Jangan berpikir begitu, aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu. Ini juga salahku karena sudah bertindak gegabah. Tapi apa kamu sudah mengerti bagaimana caranya memakai pembalut ini ? " tanya Juan sambil menatapku.
" Hmmm, belum ," balasku sambil menggelengkan kepala.
" Kalau begitu biar aku ajari bagaimana cara memakainya. Yang pertama kamu tarik lapisan pembungkus pembalut sampai lepas dari perekatnya. Taruh sisi pembalut yang berperekat pada bagian tengah ****** *****. Pastikan pembalut menempel semuanya pada celana dari ujung ke ujung. Kalau yang aku pakai contoh ini namanya pembalut bersayap. Jika kamu pakai pembalut bersayap, lepaskan lapisan pelindung perekat yang ada pada sayap pembalut.Lalu lipat sayap ke sisi luar dan tempelkan ke samping bawah bagian tengah celana dalammu. Bagaimana apa kamu sudah mengerti ?" tanya Juan yang sudah selesai memberi contoh pada Nonik.
" Iya aku sudah mengerti , tapi kenapa kamu mengerti masalah seperti ini ? Bahkan aku saja baru tahu dari kamu ," ujarku penasaran.
" Aku juga baru tahu dari google," sahut Juan tersenyum.
Cup...
Tanpa sungkan aku mendaratkan kecupan singkat di pipi Juan.
" Itu sebagai ucapan terima kasih," ucapku seraya tersenyum lebar.
" Kenapa diam ? Apakah masih kurang ?" tanyaku karena tidak kunjung mendapatkan respon. Aku kembali mendaratkan bibirku di pipinya.
Seketika wajah Juan tampak berbinar.
" Mungkin lain kali aku harus melakukan kesalahan lagi," ujar Juan.
Aku mencubit pelan pinggang Juan hingga membuat pria itu bergerak mundur.
__ADS_1
" Kamu keluarlah dulu , aku ingin ke kamar mandi memakai pembalut ini," kataku seraya mendorong tubuh Juan agar menjauh dariku.
Aku lalu masuk ke dalam kamar mandi , sedangkan Juan tetap setia menungguku di sana.
Setelah beberapa saat , aku melongokkan kepalaku keluar dari kamar mandi sambil menggigit bibir bawahku. Aku tidak mungkin keluar dengan celana yang kotor.
" Sudah selesai ? " tanya Juan
" Juan, bagaimana ini ? Celanaku kotor ?" tanyaku dengan perasaan yang sudah tidak nyaman.
Aku lihat Juan sedang membuka kemeja yang melekat pada tubuhnya lalu memberikannya padaku.
" Gunakan ini untuk menutupinya," kata Juan
" Lalu bagaimana denganmu ? " tanyaku seraya mengamati tubuh Juan yang bertelanjang dada .
" Tidak apa-apa. Kamu jauh lebih penting." Juan meyakinkanku kalau aku jauh lebih penting darinya.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku memang sangat beruntung memiliki suami pengertian seperti Juan. Meskipun terkadang responnya memang sedikit agak berlebihan .
Kami berjalan di lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan. Sesekali aku memandang Juan yang memasang wajah datar. Melihat wajahnya aku jadi teringat raut wajahnya saat panik tadi.
" Tertawa saja ,aku tahu kamu pasti ingin menertawakanku," kata Juan dengan pasrah.
" Kenapa kamu tadi tidak membangunkanku terlebih dahulu? Seharusnya kamu memastikannya sebelum membawaku ke rumah sakit," ujarku sambil menahan tawa yang keluar dari bibirku
Semalam aku baru saja selesai membuat tugas lalu melihatmu dengan kondisi seperti itu. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan selain kamu pendarahan. Tapi ternyata aku salah,"sahut Juan seraya menghela nafas pelan.
" Terima kasih karena kamu sudah jadi suami yang baik untukku . Sedangkan aku hanya bisa menjadi wanita yang selalu saja merepotkanmu," balasku seraya menyandarkan kepalaku di bahu Juan.
" Itu tidak benar. Kamu adalah wanita yang paling baik. Aku masih jauh dari kata sempurna,"kata Juan seraya merengkuh pinggangku.
Aku menghirup aroma maskulin tubuh Juan yang sangat menyegarkan indra penciumanku.
__ADS_1
Kami pulang dengan naik taksi . Sampai di kosan aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku yang sangat kotor.
" Nonik, ayo tidur," ucap Juan sambil menaruh guling pembantas di tengah-tengah tempat tidur. Walaupun kami sudah berstatus sepasang suami istri tapi kami masih ingat akan umur dan status kami yang masih sebagai seorang pelajar.