
Saat kami akan berangkat ke sekolah tanpa sengaja kami bertemu dengan Kak Bayu di depan kosan.
"Pagi , Nonik," sapa Kak Bayu sambil tersenyum dengan lembut padaku.
" Pagi ,Kak," balasku yang juga tersenyum padanya.
Aku lihat wajah Juan langsung berubah cemberut. Aku yakin kalau Juan pasti cemburu pada Kak Bayu. Padahal sudah aku jelaskan kemarin kalau Kak Bayu itu pria lekong. Apalagi sudah terlihat jelas dari caranya dia berjalan.
" Nonik, aku tidak suka kamu berteman dengan Kakak itu." Juan bicara dengan nada yang marah.
" Kamu cemburu dengan Kak Bayu ? " tanyaku sambil menatap Juan.
" Iya aku memang cemburu. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan cowok lain kecuali denganku dan sahabatmu sendiri. Aku cemburu karena aku sangat mencintaimu."
" Juan ,yang benar saja dong ? Masa kamu cemburu dengan Kak Bayu. Dia itu kan pria tidak normal. Kamu lihat saja dari caranya dia berjalan dan juga cara berpakaiannya yang seperti seorang cewek," terangku yang berusaha menjelaskan.
" Dari luar dia memang seperti seorang cewek tapi jenis kelaminnya masih tetap seorang laki-laki. Siapa tahu setelah dekat denganmu dia kembali menjadi pria normal,"
" Iya...iya , aku tidak akan berteman ataupun dekat dengannya. Lagian aku juga akan berhenti bekerja di sana. Jadi kamu tidak perlu cemberut begitu," ucapku yang berusaha merayunya.
Namun Juan tetap saja cemberut.
" Nonik, sepertinya aku meninggalkan sesuatu. Ayo temani aku ke dalam ," kata Juan sambil menarik tanganku.
" Memangnya apa yang ketinggalan ? " tanyaku sambil mengikutinya .
Tapi Juan hanya diam saja , dia tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
" Apa dia marah banget denganku ? Bahkan pertanyaanku tidak di jawab sama sekali," batinku sambil menatap punggung Juan yang ada di depanku.
Setelah berada di dalam kamar kos, Juan menguci pintu kamar itu dari dalam.
" Juan , kenapa malah di kunci ? Bukankah kita harus pergi ke sekolah ?" tanyaku merasa bingung.
Juan tetap diam saja dan hanya menatapku saja.
" Kenapa kamu selalu membuatku cemburu ? " kata Juan dengan mata yang sudah berkabut. Dia meraih tanganku lalu menempelkannya di dadanya agar aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu bagaikan kuda yang sedang lomba lari.
Aku menelan ludah merasakan dada Juan yang naik turun. Seperti ada sebuah aliran listrik yang menyerang titik tertentu dalam tubuhnya.
" Apakah kamu dapat merasakannya ? Setiap kamu dekat dengan seorang pria, hatiku rasanya sakit sekali. Aku takut kehilanganmu dan aku tidak ingin jauh darimu," kata Juan dengan kata-kata yang lembut dan menenangkan.
Mataku terpejam karena tidak kuat terlalu lama beradu pandang dengan Juan dengan jarak yang sangat dekat. Aku hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
" Aku sungguh mencintaimu," bisik Juan sembari menggigit ujung telingaku hingga tubuhku menjadi menegang.
Bibirku hendak terbuka, suaranya belum keluar tapi Juan sudah terlebih dahulu menyerang bibirku secara agresif. Lidahnya memaksa menerobos masuk ke dalam mulutku. Aku tak sanggup lagi menahan lidah Juan yang bergerilya sesuka hati di dalam mulutku.
Juan menekan kepalaku agar tidak beranjak dari serangan bibirnya yang agresif. Juan terus menyerbu bibirku. Merasakan sensasi manis dari bibirku yang sangat menggoda.
Dadaku naik turun, nafasku mulai tersengal-sengal. Oksigen begitu sulit masuk ke dalam paru-paruku karena Juan menciumku tanpa memberikan jeda.
Mata Juan lantas terbuka ketika merasakan nafasku yang sudah tersengal-sengal.Dia lantas menarik tubuhnya.
" Bagaimana rasanya," bisik Juan.
Aku justru tak menjawab pertanyaan Juan. Merasa belum puas, aku menegakkan kepala hingga bibir kami menyatu lagi. Aku bergantian ******* bibir Juan, dan saling bertukar saliva.
" Juan, kita tidak boleh melakukan yang lebih dari ini," ucapku yang langsung menghentikan semuanya.
" Tenang saja, aku juga tidak akan melakukan yang lebih dari ini. Aku akan meminta hakku setelah kita lulus SMA. Akan aku tahan demi masa depan kita," kata Juan yang kemudian mengecup keningku.
" Sudah tidak marah kan ? Kalau begitu ayo kita pergi ke sekolah ? " ajakku sambil berjalan keluar dari kosan.
Saat melewati minimarket milik Nenek Arum, kami tidak sengaja melihat Nenek Arum bersama seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan Om Yudha. Nenek Arum terlihat sedang marah dengan laki-laki itu. Begitu juga sebaliknya, laki-laki itu juga begitu marah pada Nenek Arum sambil menarik tas Nenek Arum dengan paksa. Dia juga mendorong Nenek Arum hingga terjatuh.
Kami lalu menghampiri Nenek Arum karena ingin menolongnya. Aku lalu membantu Nenek Arum untuk bangun.
" Hey anak ingusan, lebih baik kamu pergi ke sekolah dan tidak usah ikut campur dengan urusanku," teriak bapak itu dengan wajah berapi-api.
" Maaf ,Pak. Aku tidak akan pergi sebelum Bapak mengembalikan tas itu," kata Juan sambil menatap dengan tajam Bapak itu.
Kak Abi dan Kak Loli yang mendapat shift pagi juga menonton apa yang terjadi di depan minimarket.
" Juan, biarkan saja dia mengambil uang Nenek," ucap Nenek Arum dengan wajah yang tampak khawatir.
" Maaf Nek, kalau di biarkan besok-besok dia pasti seperti ini lagi,"jawabku
" Sepertinya anak ini perlu diberi pelajaran," ujar Bapak itu yang langsung menyerang Juan. Tapi Juan berhasil menghindari serangan Bapak itu. Dia melawan Bapak itu dengan sangat lincah hingga Bapak itu terjatuh dan kesulitan untuk bangun.
" Juan , biarkan saja dia pergi membawa uang Nenek ," teriak Nenek Arum lagi.
" Dasar anak kurang ajar. Tapi tenagamu lumayan juga ," balas Bapak itu menyeringai.
Aku kira Bapak itu akan menyerah, tetapi dia malah memanggil teman-temannya untuk datang ke sana. Tidak butuh waktu lama teman-temannya sudah ada di sana. Ada enam orang temannya yang datang menghampiri Bapak itu.
" Rio , apa yang akan kamu lakukan pada mereka ? Biarkan dia pergi," kata Nenek Arum pada Bapak itu.
__ADS_1
Aku dan Juan sangat terkejut karena Nenek Arum mengetahui nama Bapak itu.
" Anak itu harus di beri pelajaran. Agar dia tahu siapa aku sebenarnya," kata Bapak itu dengan mata melotot.
Aku menghela nafas dengan kasar sambil menatap jam yang ada di ponselku. Kalau aku tidak membantu Juan maka kami pasti akan terlambat sampai di sekolah.
" Cepat kalian beri dia pelajaran," perintah Bapak itu pada teman-temannya. Mereka kemudian menyerang Juan.
Aku lalu menaruh tasku , karena ingin membantu Juan.
" Nonik, kamu mau ngapain,nak ? Kalau kamu ke sana nanti kamu juga ikut terluka," kata Nenek Arum mencegahku
" Maaf ,Nek . Aku harus membantu Juan , karena sekarang kami hampir terlambat pergi ke sekolah," balasku yang langsung berlari menghampiri Juan.
" Juan, kita hampir terlambat. Kita selesaikan ini sama-sama ya ? " ujarku sambil menatap Juan.
Juan membalas dengan menganggukkan kepalanya.
Aku yang sudah sangat ahli dalam berkelahi , langsung melawan mereka tanpa tersentuh sedikit pun. Dalam hitungan menit aku dan Juan sudah berhasil mengalahkan mereka.
" Nenek , lebih baik Nenek lapor polisi," kataku sambil memberikan tas milik Nenek Arum.
Semua yang ada di sana menatapku terus.
" Jangan, tolong jangan laporkan dia pada polisi," pinta Nenek Arum memohon .
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal karena bingung dengan tingkah Nenek Arum.
" Kenapa begitu ,Nek ? " tanya Juan yang juga terlihat bingung.
" Karena dia adalah putra Nenek. Biar Nenek yang mengurusnya," kata Nenek Arum sambil meneteskan air mata.
" Apa ? " Aku dan Juan begitu terkejut mendengarnya.
Namun tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan kami. Kami kenal dengan pemilik mobil itu. Mobil itu adalah mobil yang sering di pakai Nenek Ida kalau ingin pergi ke suatu tempat. Seorang sopir turun dan membuka pintu untuk Nenek Ida.
" Juan , Nonik ? Kenapa kalian ada di sini ? Apa kalian tidak sekolah ? " tanya Nenek Ida sambari mengahampi kami.
" Nenek ? " ucapku dan Juan.
" Kalian ini memang cucu-cucuku yang sangat nakal. Setiap Nenek menghubungi nomer kalian , tapi kalian tidak pernah mengangkatnya ," kata Nenek Ida sambil menatap kami secara bergantian.
" Maaf , Nek. Kami sibuk terus ," kataku yang kemudian mencium punggung tangan Nenek Ida .
__ADS_1
" Nanti aku hubungi Nek ya ? Sekarang kami lagi buru-buru mau pergi ke sekolah, " ucap Juan meyakinkan Nenek Ida.