Pengantin SMA

Pengantin SMA
Ngontrak rumah.


__ADS_3

" Sayang , sabarlah dulu Aku akan coba menghubungi Tobi. Siapa tahu dia sudah mendapatkan kos-kosan," ucap Juan padaku.


Aku hanya membalas dengan menganggukkan kepalaku saja


Sudah berkali-kali aku lihat Juan menghubungi Tobi, namun Tobi tidak mengangkat telepon Juan. Sepertinya Tobi sudah tidur, karena saat ini sudah larut malam . Taman ini juga sudah sepi . Saat ini hanya aku dan Juan yang ada di taman ini.


" Sepertinya Tobi sudah tidur . Lalu sekarang kita harus bagaimana ? " tanya Juan padaku.


" Untuk malam ini kita istirahat di sini saja dulu, soalnya sudah larut malam," balasku


" Tapi kamu saat ini sedang sakit. Lebih baik kita ke rumah sakit saja ya ? " ujar Juan dengan wajah khawatir.


" Kalau ke rumah sakit kita akan mengeluarkan uang banyak, sedangkan saat ini kita belum memiliki tempat tinggal ,"


"Kamu memang benar. Kalau begitu kita istirahat di sini dulu," sahut Juan seraya menatapku. Kami lalu memutuskan tidur di taman dengan beralaskan kardus bekas. Juan juga menempelkan plester kompres penurun panas di keningku. Dia berkali-kali bangun untuk mengecek suhu tubuhku.


Jam 03 : 00 ponsel Juan berbunyi. Dengan buru-buru dia lalu mengangkat panggilan masuk yang ada di ponselnya.


📞" Halo ,"sahut Juan


📞" Halo Juan, maaf aku baru tahu kalau kamu menghubungiku. Aku juga baru membaca pesanmu. Lalu kalian sekarang ada di mana ? " tanya Tobi dari seberang telepon.


📞 " Ya tidak apa-apa. Malahan aku yang merasa tidak enak karena mengganggu waktu istirahatmu. Saat ini aku dan Nonik ada di taman kupu-kupu," balas Juan


📞 " Kalau begitu tunggulah di sana. Aku akan segera ke sana," kata Tobi yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Tiga puluh menit kemudian , Tobi akhirnya datang bersama Agus dengan membawa makanan.


"Juan , Nonik , maaf kita baru datang ," ucap Tobi seraya menatap kami.


"Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah menganggu kalian ," balasku pada mereka.


" Nonik, bagaimana keadaanmu ? Apa kamu masih sakit ? " tanya Agus seraya duduk di sampingku.


" Aku sudah sembuh kok. Dan ini semua berkat Juan yang rela bergadang demi merawatku,"

__ADS_1


" Wah...wah...ternyata suamimu itu memang selalu bisa di andalkan ," sahut Tobi tersenyum.


" Kamu bisa aja," balas Juan seraya ikut tersenyum.


" Aku tidak menyangka kalau Neneknya Randy jahat banget. Kalau Randy tahu kelakuan Neneknya, dia pasti akan sangat kecewa dengan Neneknya ," ucap Agus


" Kamu memang benar, tapi lebih baik Randy tidak tahu semuanya. Aku tidak ingin dia membenci Neneknya sendiri," sahutku


" Juan , aku sama sekali tidak mendapatkan kos-kosan. Semuanya penuh. Hanya kos-kosan di tempat Neneknya Kak Fajar saja yang masih kosong, tapi kalian tidak mungkin kembali ke sana kan ? Karena di sana saat ini ada Kak Fajar," terang Tobi pada kami.


" Ternyata susah juga mencari kos-kosan. Apa kita kembali ke kos sebelumnya saja ? " tanyaku pada Juan.


" Aku tidak mau kembali ke sana. Nanti Kak Fajar mengganggumu,"


" Benar kata Juan. Lebih baik tidak usah kembali ke sana," sahut Tobi yang tidak pernah senang jika mendengar nama Kak Fajar


" Bagaimana kalau kalian ngontrak rumah saja. Kebetulan di depan rumahku ada rumah yang di kontrakan," tutur Agus


" Kalau ngotrak rumah pasti mahal sekali," sahut Tobi seraya menatap Agus.


" Benar kata Tobi . Saat ini kami tidak punya uang banyak,'' jawabku


Aku menghela nafas sambil menatap Juan dengan perasaan bingung. Aku bingung kenapa Juan malah ingin mengotrak rumah ? Padahal jelas-jelas kita tidak memiliki uang banyak.Apa dia lupa dengan keadaan kita saat ini ?


" Juan ,mana mungkin kita bisa ngontrak rumah. Kamu kan tahu sendiri bagaimana keadaan kita saat ini," jawabku cemberut.


" Maaf , sayang. Aku baru ingat kalau Nenek Ida pernah memberiku uang saat Tante Riri membawaku ke rumah. Lebih baik kita pakai uang itu untuk mengontrak rumah dan sisanya kita pakai untuk modal usaha. Bagaimana menurutmu ?" tanya Juan seraya menatapku.


" Ide yang bagus. Aku setuju dengan Juan," kata Tobi


" Baiklah aku juga setuju," jawabku seraya tersenyum.


" Kalau begitu lebih baik sekarang kita makan dulu, jam 07 : 00 kita lihat rumahnya," kata Agus seraya memberikan nasi bungkus padaku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sebelum ke rumah itu, Agus terlebih dahulu sudah menghubungi pemilik rumahnya.


" Teman-teman , kita sudah di tunggu sama Pak Alif," ujar Agus seraya menunjuk ke arah seorang Bapak dengan setelan baju kerja.


"Maaf ya adik-adik. Sebenarnya rumah ini bukan milik Bapak , tetapi saudara Bapak. Rumah ini sejak di beli memang belum pernah di tempati, bahkan sudah di renovasi karena adik saya di tugaskan di luar Jawa. Kalau kalian mau menempatinya, kondisinya seperti ini. Seadanya saja. Harga sewanya hanya dua belas juta, hitung-hitung cuma ngerawat saja. Kalau di bayar cash di awal , minta sepuluh juta saja ," terang Pak Alif saat kami sudah masuk rumah.


Dari segi lingkungan, kami sudah cocok karena dekat dengan rumah Agus dan Tobi. Harganya murah, dan bangunannya juga tidak mewah.


Kami juga bisa berjualan di teras depan rumah.


" Cuma, mungkin sebelum di tempati harus manggil tukang , dik. Untuk mengecek ngenteng-ngentengnya ada yang bocor apa tidak, " terang Pak Alif sambil mendongak ke atas. Kami dapat melihat di beberapa pojok, ada eternit yang terlihat basah. Bahkan saat ada cahaya, terlihat langit-langit dari bawah eternit itu.


" Aku sendiri suka tempatnya. Tapi kalau kamu bagaimana ? " bisik Juan padaku


Aku hanya menganggukkan kepala pada Juan .


Tak perlu menunggu waktu lama , kami akhirnya mengambil rumah itu. Barang-barang kami hanya sedikit , karena memang tidak punya perabot. Hanya baju dan beberapa perlengkapan pribadi lainnya yang kami bawa , karena selama ini kami menggunakan fasilitas kosan.


Kami baru sadar, kalau saat ini kami butuh banyak perabot. Terutama kasur untuk tidur, karpet untuk alas duduk, dan lemari untuk merapikan baju. Itu juga belum termasuk peralatan bersih-bersih.


Untungnya kami ke sini pagi-pagi, jadi hari lumayan pajang.


Kami lalu pergi membeli barang yang kami butuhkan. Untung sahabatku selalu setia membantuku.


Selesai belanja ,kami lalu menata barang-barang yang tadi kami beli. Aku mengatur kasur lipat, dua buah bantal dan satu guling. Untungnya , seprei dan selimut sudah punya. Satu buah lemari pakaian akan kami pakai untuk berdua.


Karpet di bentangkan di ruang tamu yang akan sekaligus di gunakan untuk makan.


" Akhirnya selesai juga . Kalau begitu aku keluar sebentar ya ? " ucap Juan seraya melangkah keluar


" Ternyata capek juga, " sahutku.


" Walau capek tapi aku senang banget karena sekarang rumah kita dekat. Jadi aku akan sering ke rumahmu," kata Agus seraya tersenyum


" Benar kata Agus. Kalau kalian jualan nanti biar kita yang datang ke sini untuk membantu," balas Tobi.

__ADS_1


" Terima kasih ya teman-teman. Kalian selalu membantuku," ucapku seraya tersenyum.


Beberapa menit kemudian Juan datang membawa makanan , dan kami lalu makan bersama-sama.


__ADS_2