
Jam 12 : 05 perutku terasa begitu lapar .Mau makan tapi bahan makanan sudah habis semua. Uangku juga sudah habis. Jujur ,aku bingung harus bagaimana ?
" Drrrŕtttt...drrrtt...drrrrt ..." ponselku yang ada di atas nakas bergetar dan aku lihat ada panggilan masuk dari Juan.
Aku menggeser icon telepon yang berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk dari Juan.
📞" Halo , Nonik. Kamu di mana ? " tanya Juan dari seberang telepon.
📞" Aku ada di kosan. Memangnya ada apa ? " tanyaku balik.
📞" Kamu pasti lapar ya ? Soalnya tadi aku lihat stok bahan makanan kita sudah habis .Uangku juga sudah habis. Saat ini aku hanya punya uang untuk membeli bensin motor saja. Maafkan aku ya ? Aku belum bisa membahagiakanmu. Sekarang lebih baik kamu ambil saja jam tanganku yang ada di lemari , setelah itu kamu jual. Uangnya kamu pakai untuk membeli makan siang , lalu sisanya kamu simpan ," ucap Juan yang terdengar sangat khawatir.
📞" Bukankah jam itu sangat berarti untukmu ? Kamu juga pernah bilang padaku kalau jam tangan itu pemberian dari almarhum Mama dan Papamu ? Aku tidak mau menjualnya, kasihan," balasku
📞 " Jual saja. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula jam itu hanya titipan dari Tuhan, jadi aku tidak berhak memilikinya selama-lamanya. Karena aku juga punya kewajiban sebagai seorang suami untuk menafkahi istriku. Aku tidak mungkin diam saja melihatmu belum makan seperti sekarang,"
📞" Tidak usah. Lagian tadi pagi aku sudah sarapan nasi goreng buatanmu , jadi sekarang aku tidak terlalu lapar," balasku berbohong. Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin Juan menjual jam tangan itu ,karena aku tahu kalau jam tangan itu sangat berarti bagi Juan.
📞" Baiklah kalau begitu. Nanti sepulang dari bekerja aku akan membawakanmu makanan. Aku mau kembali bekerja dulu. Jaga dirimu," kata Juan yang langsung menutup sambungan teleponnya.
Aku yakin kalau Juan juga belum makan saat ini. Karena tadi dia bilang akan membawa makanan sepulang dari bekerja. Itu berarti jatah makanan yang dia dapat dari restoran akan di bawa pulang olehnya.
Aku lalu memutuskan untuk banyak meminum air putih agar rasa laparku hilang.
Jam 14 : 30 aku sudah sampai di minimarket milik Nenek Arum. Aku juga sudah berkenalan dengan Kakak senior yang ada di sana.
__ADS_1
" Nonik , kamu cek tanggal kedaluarsa roti ini ya ? Kalau ada roti yang mau kedaluarsa besok kamu tarik saja dan taruh di keranjang ini," ucak Kak Bayu padaku.
" Iya ,Kak," jawabku yang langsung mengerjakannya.
" Roti ini harus di cek setiap hari , soalnya makanan sejenis roti hanya bisa bertahan beberapa hari saja. Jangan sampai para customer menemukan ada roti kedaluarsa di sini. Kalau sampai ada customer komplain dan Nenek Arum mengetahui semuanya , maka kamu pasti akan di marahi habis-habisan sama dia. Bahkan kemarin temanku ada yang sampai di pecat sama Nenek Arum," tutur Kak Bayu sambil membantuku mengecek roti.
" Masa sih Kak sampai di pecat ? Padahal cuma masalah seperti itu ," ujarku seraya menaikkan sebelah alisku.
" Kamu pasti tidak percaya dengan ucapanku. Nenek Arum kelihatannya saja baik , padahal aslinya kayak Nenek lampir. Kalau mampir ke sini dia pasti marah-marah. Dia juga sangat licik . Aku saja sekarang berencana mau berhenti kerja di sini karena tidak kuat ,"bisik Kak Bayu.
" Licik kenapa ,Kak ? " tanyaku lagi . Padahal aku baru saja mulai bekerja di sini , tapi malah mendengar hal-hal yang seperti ini.
" Nanti aku ceritain setelah jam istirahat . Oh iya , kamu ngekos di tempatnya Nenek Arum ? " tanya Kak Bayu seraya membersihkan debu yang ada di meja kasir.
" Aku tahu dari Nenek Arum , dia yang menceritakannya. Dia bilang pada kami , kalau karyawan barunya ngekos di tempatnya dia ," balasnya.
" Oh , aku kira Kakak pernah melihatku sebelumnya ," jawabku.
Ternyata mulut Kak Bayu seperti mulut emak-emak juga, dari tadi dia bicara terus. Padahal aku tidak suka bekerja sambil mengobrol . Karena itu hanya memperlambat pekerjaan.
Selesai mengecek roti , Kak Bayu lalu mengajariku cara mendisplay minuman.
" Nonik , kalau minuman yang baru datang taruh di belakang minuman yang lama ya ? Soalnya kalau di taruh di depan minuman lama nanti yang lama keburu expired," terang Kak Bayu sambil memberi contoh padaku.
Sesekali aku melirik Kak Bayu yang sedang berdiri di sampingku. Aku lihat sepertinya Kak Bayu pria lekong. Dari caranya berjalan yang lemah gemulai seperti seorang wanita , berbeda dengan Kak Abi.
__ADS_1
Kak Abi yang saat ini berada di area kasir selalu menatap ke arahku . Dari baru aku datang hingga sekarang pandangan matanya selalu tertuju padaku.
Ketika aku membersihkan rak gondola bersama Kak Bayu , tiba-tiba Kak Abi memanggilku. Dengan langkah cepat aku lalu menghampirinya.
Saat ini Kak Abi berjaga di area kasir bersama seorang wanita yang bernama Kak Loli.
" Nonik, kalau bekerja di sini jangan mengobrol terus," ucap Kak Loli dengan tatapan mata dingin. Dari pertama aku melihatnya, dia terlihat tidak suka padaku. Aku sendiri juga bingung kenapa dia seperti itu.
" Loli , kamu ajari Nonik cara melayani customer dan cara menggunakan mesin kasir ya ? " ujar Kak Abi menyuruh Kak Loli yang sedang berdiri di depan komputer.
" Buat apa sih mesti di ajari ? Kalau dia benar- benar berniat bekerja di sini maka biarkan saja dia belajar sendiri ," ucap Kak Loli sambil menatapku dengan sinis.
" Ya, Tuhan , apa salahku padanya ?" batinku sambil menunduk.
" Kalau begitu kamu bersihkan rak gondola yang ada di depan meja kasir ya ? " suruh Kak Abi sambil melihat ke arah ponselnya.
Jujur aku tidak suka sama Kak Loli dan Kak Abi. Kalau tidak ada customer mereka hanya duduk di area kasir. Berbeda dengan Kak Bayu, walaupun Kak Bayu bekerja sambil mengobrol tapi dia terus bekerja hingga semuanya terlihat bersih. Kalau ada customer dia juga ikut membantu Kak Abi dan Kak Loli.
Kalau Kak Bayu yang mengajariku, dia langsung memberi contoh dan ikut membantu. Berbeda dengan Kak Abi, dia hanya menyuruh saja sedangkan dia hanya duduk saja sambil memegang ponselnya.
Ketika sedang membersihkan rak gondola yang ada di depan meja kasir , tiba-tiba Kak Bayu menghampiri.
" Jangan terlalu di masukkan ke hati ucapan Kak Loli ya ? Dia memang seperti itu ," bisik Kak Bayu. Dia lalu membantuku membersihkan rak gondala itu.
Aku tidak menanggapi ucapan Kak Bayu ,karena takut di bilang mengobrol terus. Kak Abi juga dari tadi menatapku dengan tatapan mata yang sangat tajam . Aku bukannya takut pada mereka , tapi aku sadar akan posisiku saat ini, jadi aku memilih untuk diam saja.
__ADS_1