
Perlahan Nadira membuka matanya setelah tidur kurang lebih 8 jam. Berat rasanya untuk membuka mata dan menyambut hari baru, pasti di sekolah banyak siswa baru yang menjadi anak didik baru di tahun ini. Tempat tidur ini terlalu nyaman, membuatnya malas untuk beranjak.
Tapi, ada yang aneh. Sesuatu yang hangat seperti melingkar di pinggangnya. Ia pun langsung melihat ke arah bawah, ternyata ada tangan yang memeluknya dari belakang. Gadis itu langsung teriak dan tangan itu ia singkirkan.
“Aaa..! Apa yang kamu lakukan padaku?!” teriaknya sambil memukul orang yang tidur disampingnya.
Dia bangun karena terusik dengan pukulan bantal dari gadis berambut panjang itu, dasar nyebelin! Kenapa dia bisa ada di tempat tidurku? Nadira langsung mengecek pakaiannya, takut kalau-kalau laki-laki itu sudah melakukan yang tidak-tidak.
“Duh, kamu ini kenapa sih? Teriak pagi-pagi, kenceng pula. Ganggu tidurku tau gak?!” protesnya.
Nadira mengernyit heran, kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang marah karena dia sudah berani masuk dan tidur di kamar anak gadis seperti ku. Siapa dia berani masuk tanpa seijinku? Lancang sekali. Pikir Nadira tanpa menyadari bahwa itu adalah Dave, suaminya.
“Kamu siapa? Ngapain kamu ada di kamarku?” tanya Nadira kesal.
“Kamarmu? Hei! Ini kamarku, kamu yang tidur di kamarku tadi malam. Kamu lupa?”
Hah? Kenapa aku bisa tidur di kamar om-om? Ia jadi makin bingung. ia memperhatikan setiap sudut ruangan ini, memang benar ini bukan kamar nya. Jadi aku tidur bersama laki-laki ini? Ya ampun, aku belum bangun. Pasti ini mimpi buruk. Pikirannya melayang jauh seolah ini adalah mimpi.
“Aduh, aku mimpi buruk. Ayo bangun!” ucapnya pada diri sendiri. Sambil memejamkan mata dan kembali tidur, ia berusaha bangun dari mimpi ini. Ayo bangun! Katanya dalam hati. Tapi kok gak bangun-bangun, sih? Dave hanya tertawa melihat tingkah absurd istrinya itu, dia pikir ini mimpi? Sadarlah wahai putri tidur! Ini kenyataan.
“Heh, nona! Ini bukan mimpi. Ini kenyataan, aku suamimu!” katanya.
“Hah?! Suami? Jangan ngaco kamu! Aku ini masih sekolah, gak mungkin aku udah punya suami kaya kamu,” Nadira berpikir bahwa laki-laki itu ingin menjebaknya dalam mimpi buruk ini.
“Kamu lupa? Kita kan udah nikah kemarin, masa kamu gak ingat?”
Ngomong apa sih dia? Kok gak masuk akal gini? Mata Nadira membulat saat Dave membuka selimut yang dari tadi menutupi tubuhnya. Dia ... tidak pakai baju! Oh, akhirnya Nadira ingat sekarang, dia adalah Dave, anak konglomerat yang baru menjadi suaminya kemarin siang. Dan apa yang ia lakukan? Tidur seranjang dengan Dave? Tepok jidat.
__ADS_1
Nadira langsung berdiri dan lari ke kamar mandi. Duh! Kenapa bisa kecolongan sih? Apa dia udah nyentuh aku ya? Ia mengecek dada dan lehernya, terlihat baik-baik saja. Tidak ada noda merah atau ungu seperti yang ibunya bilang waktu itu. Ia kembali membuka celana. Tidak ada yang aneh, syukurlah sepertinya Dave belum melakukan sesuatu padanya.
Berhubung sudah berada di kamar mandi, ia langsung saja mandi sekalian. Sebentar lagi juga berangkat ke sekolah kan. Beda rasanya mandi di kamar mandi yang besarnya sama dengan kamar tidur miliknya, luas. Kayaknya bisa di pakai main petak umpet ni kamar mandi, pikirnya. Ia bahkan sempat berpikir ini kamar mandi atau kamar tidur? Luas banget.
Sementara itu, Dave kelihatan terkekeh melihat tingkah Nadira yang kelihatan panik banget. Mungkin takut disentuh kali ya? Kalau soal tidur sih, Dave udah biasa tidur bertelanjang dada seperti ini. Udah kebiasaan dari kecil. Mungkin ini pertama kalinya bagi Nadira melihat laki-laki satu ranjang dengannya, dia sampai kaget begitu. Lucu sekali wajahnya.
Ah, segarnya. Selesai mandi, waktunya pakai baju dan dandan ke sekolah. Tunggu, ia lupa membawa handuk! Ah, Nadira terlalu panik sampai-sampai ia lupa dengan handuknya. Aduh, aku harus gimana sekarang? Keadaan tubuh sudah bersih tanpa baju, bagaimana bisa ia keluar dengan keadaan seperti ini? Yang ada ia malah di tertawakan oleh Dave.
“Udah belum? Aku juga mau mandi nih,” ucap Dave di balik pintu.
Duh, bagaimana ini? Ia mana bisa keluar tanpa sehelai benangpun seperti ini. Atau ... ia minta di ambilkan handuk saja pada Dave? Tapi Nadira takut kalau Dave malah curi-curi kesempatan menikmati tubuhnya. Haduh! Kenapa aku jadi begini sih? Dia kan suamiku, gak masalah dong kalau aku minta bantuan sama dia?
“Nad, kamu masih lama gak? Aku juga kebelet ni,”
“I—iya! Sebentar lagi!”
Gimana nih? Aku harus segera keluar, tapi Dave ada di depan pintu. Nadira benar-benar mati kutu. Ya sudah, dari pada terjebak di kamar mandi, akhirnya ia beranikan diri untuk minta tolong pada Dave. Semoga, dia gak macem-macem.
“Minta tolong apa?”
“T—tolong ambilin handukku, didalam koper warna merah!” teriaknya berusaha tenang, tapi tetap aja ada gagapnya.
Terdengar Dave melangkah menjauhi pintu. Sepertinyanya dia mau mengambilkan handuk untuk sang istri. Berhubung pakaiannya memang belum di masukkan ke lemari, ya jadi handuknya juga masih di dalam koper.
“Dimana? Kok gak ada?”
Duh, dia nyari di koper atau di toko sih? Masa iya nyari handuk didalam koper aja gak ketemu. Jelas-jelas Nadira menaruh handuk kesayangannnya di dalam koper warna merah, bersamaan dengan pakaian dalamnya. Masa iya nyari gituan aja gak ketemu.
__ADS_1
“Di dalam koper merah Dave! Cari baik-baik!”
Tunggu, koper merah berisi handuk dan pakaian dalamnya? Oh, tidak! Dia bisa melihat semua koleksi bra yang Nadira punya. Matilah aku, gimana nih? Ah, kenapa dia bisa ceroboh begini sih? Apa yang kira-kira akan Dave pikirkan tentangnya?
Agak lama juga menunggu tuan muda itu mengobrak-abrik isi koper miliknya. Hah, jangan bilang dia lagi bermain dengan pakaian dalamku. Awas kau nanti!
“Ini! Buka pintunya,”
Meski agak sedikit takut, Nadira tetap membuka pintu. Tahan malu ... tahan malu, jangan sampai dia tergoda, do’anya dalam hati. Ia membuka pintu perlahan-lahan dan menjulurkan tangannya keluar. Hanya tangan saja, tidak lebih. Dave langsung memberikan handuk merah kesayangannya dan langsung ditarik kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat.
Saat sudah selesai baru ia kembali keluar dengan handuk merah yang membungkus tubuhnya.
“Apa liat-liat?” tanya gadis itu sewot saat Dave melihatnya dengan tatapan aneh sambil menahan tawa.
Dia hanya menggeleng sebagai jawaban. Ya sudah, ia pikir semuanya baik-baik saja sampai ia melihat seluruh isi koper merahnya sudah berantakan di atas kasur. Seluruh celana dalam, bra dan bahkan pakaian seksinya sudah berserakan semua. Mulutnya menganga tak percaya. Jadi ... dari tadi Dave lama mengambil handuknya karena ini? Karena pakaian dalam ini? Ah, kurang ajar. Dasar suami menyebalkan. Pasti dia sedang tertawa di dalam kamar mandi. Ih! Dasar nyebelin!
“Dave..!” teriaknya kesal.
Ia dengar Dave yang tertawa puas yang suaranya begitu keras. Mau taruh di mana mukaku? Huft, dengan kesal ia segera membereskan semua pakaian itu dan memasukkannya lagi ke dalam koper. Ia takut ada salah satu pelayan istana ini datang tiba-tiba, kan malu.
Masih dengan wajah ditekuk gadis dengan usia belum genap 19 tahun itu berganti pakaian dan berdandan. Ia melihat pantulan wajahnya jelek sekali di pantulan cermin. Sungguh, perusak mood yang sangat ampuh Dave itu. Disaat ia sibuk menyisir rambut, terlihat Dave sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk putih menutupi pinggang sampai lututnya.
Gleg! Melihat dadanya yang uwaw itu, membuat Nadira cukup deg-deg an juga. Tapi mengingat kelakuannya tadi, bikin hati dongkol. Langsung ia alihkan pandangannya dengan cuek.
“Untuk yang tadi, aku minta maaf ya,” ucapnya masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Nadira berdiri sambil berkacak pinggang, niat hati mau memarahi dia, eh Dave malah mengatakan sesuatu yang membuatnya makin malu.
__ADS_1
“Ciee ... CD nya warna pink,”
“Dave..!”