Pengantin SMA

Pengantin SMA
Di manfaatkan


__ADS_3

" Nonik, pulangnya bareng aku saja ya ?" tanya Randy menawarkan diri ketika akan keluar dari kelas.


"Nggak usah Ran , aku pulang sama Tobi saja ," tolakku dengan sopan.


" Kenapa harus pulang sama Tobi ? Bukankan arah rumah kita berbeda ? " tanya Randy lagi.


" Nonik, ayo naik ! " seru Tobi padaku


" Tobi, kamu duluan saja . Nonik biar pulang bareng aku saja," kata Randy pada Tobi.


" Ya ,Bi. Aku pulang sama Randy saja," balasku seraya tersenyum pada Tobi.


" Baiklah. Kalau begitu aku dan Agus duluan ya ? " ujar Tobi


" Iya,hati-hati ." Sahutku


Aku lalu pulang sama Randy sedangkan Juan mengikuti kami di belakang.


Setelah sampai rumah aku langsung pergi ke kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Hari ini tubuhku begitu lelah . Kakiku juga terasa pegal sekali . Mataku juga mengantuk karena setiap hari harus bangun jam setengah empat pagi untuk menyiapkan dagangan Nenek Ami. Awalnya Nenek Ami ikut bangun jam setengah empat , tapi ke esokkannya dia hanya bangun jam lima pagi. Sedangkan Randy bangun jam enam pagi. Selama ini Randy tidak tahu kalau selama ini aku selalu bangun jam segitu.


Untung saja Juan selalu ikut bangun jam setengah empat pagi dan membantuku. Walaupun aku melarangnya tapi dia tetap bangun dan membantuku.


Kalau ada pesanan , maka aku harus bangun jam tiga pagi dan menyiapkan semuanya. Ketika Nenek Ani bangun , semuanya sudah beres dan tinggal membawanya ke warung. Kalau dulu saat aku dan Juan belum ada di sini , yang menyiapkan semuanya adalah karyawannya, dan Nenek Ami.


" Sayang, kamu kenapa ? " tanya Juan seraya duduk di pinggir tempat tidur dan menatapku.


" Aku tidak apa-apa kok. Hanya capek saja," balasku


" Aku pijitin ya ? " ujarnya


" Tidak usah ," tolakku. Namun Juan tidak mendengarkan ucapanku. Dia langsung memijat kakiku.

__ADS_1


" Tok...tok...tok..." tiba-tiba pintu kamar kami di ketuk dari luar. Aku dan Juan langsung menoleh ke arah pintu .


" Nonik , Juan . Ayo cepat ganti baju, lalu makan. Setelah itu siapkan dagangan untuk nanti sore," ucap Nenek Ami dari balik pintu.


" Iya ,Nek,"sahutku yang langsung bangkit dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi.


" Nonik,kalau kamu capek lebih baik hari ini tidak usah membantu Nenek Ami. Nanti kamu sakit. Biar aku yang menyelesaikan semua pekerjaanmu," kata Juan dengan khawatir.


" Aku tidak apa-apa kok . Lagian tidak enak sama Nenek Ami ," balasku pada Juan


" Nonik, bagaimana kalau kita ngekos saja ? Karena tidak mungkin kita terus - menerus menumpang di sini. Tinggal di sini rasanya mau ngapain saja canggung di tambah kita selalu di atur-atur. Mau ngapain aja rasanya tidak enak," terang Juan seraya menatapku


" Tapi aku khawatir dengan keselamatanmu. Bagaimana kalau Tante Riri datang lagi ke kos seperti waktu itu ? " tanyaku dengan alis mata terangkat.


" Kalau dia datang , kita hadapi sama-sama."


" Tok...tok...tok..." pintu kamar kami di ketuk lagi.


" Nonik ...Juan..." teriak Nenek Ami lagi.


Aku lihat Juan menghela nafas dengan kasar. Pasti dia benar-benar tidak tahan tinggal di sini.


" Juan, lebih baik kita keluar sekarang. Kita bicarakan masalah ini nanti malam saja," ucapku yang langsung buru-buru keluar.


" Baiklah," sahut Juan seraya tersenyum.


Seberat apapun masalah yang kita hadapi ,dan secapek apapun Juan, dia tidak pernah marah-marah padaku. Dia selalu tersenyum di depanku.


Sebenarnya aku juga tidak nyaman tinggal di sini. Mau ngapain aja rasanya kikuk. Contohnya seperti mencuci baju dan mandi,Nenek Ami selalu menyuruhku agar irit memakai air.


Kami lalu membuka pintu kamar, namun kami begitu terkejut karena ternyata Nenek Ami menunggu kami di depan kamar .

__ADS_1


" Nonik , Juan , tolong bantu Nenek sebentar di dapur ya ? Setelah itu baru kalian makan. Randy saat ini sedang mengantar adiknya ke rumah Ibunya. Sedangkan Kakek sedang menjaga warung," terangnya pada kami.


" Iya ,Nek ." Sahut kami bersamaan. Padahal tadi dia menyuruh kami makan dulu tapi sekarang dia malah menyuruh kami bekerja dulu.


" Oh iya, jam lima Nenek mau ke salon sama teman-teman Nenek, jadi tolong jaga warung dengan baik ya ? "


" Iya ,Nek," balasku sembari memotong sayur-sayuran . Nenek Ami biasanya tiap minggu tiga kali ke salon. Di rumah juga dia rajin sekali perawatan. Makanya dia terlihat awet muda, berbeda dengan Nenek Ida yang tidak suka pergi ke salon.


Awalnya aku tidak percaya kalau Nenek Ida dan Nenek Ami berteman. Soalnya Nenek Ida terlihat begitu tua di bandingkan Nenek Ami.


Selesai membantunya di dapur, Nenek Ami baru menyuruh kami makan. Setelah selesai makan kami memutuskan untuk pergi ke warung, namun kami tiba-tiba mendengar percakapan Nenek Ami dengan anaknya di telepon. Dan ternyata dia sedang membicarakan aku dan Juan.


Terpaksa aku dan Juan menguping pembicaraannya, karena ingin tahu apa yang sedang dia bicarakan.


" Kamu tahu, Ibu sangat senang karena Nonik dan Juan ada di sini. Penjualan Ibu jadi bertambah derastis semenjak ada mereka. Ibu juga hanya memberinya upah seratus ribu untuk mereka berdua. Padahal dulu waktu Ibu mengajak karyawan , Ibu memberinya upah seratus lima puluh ribu untuk satu orang dan warung Ibu juga dulu tutup sampai jam delapan , berbeda dengan sekarang, buka sampai jam sepuluh malam dan kadang sampai jam sebelas malam. Makanya Ibu jadi mendapatkan untung banyak. Semenjak ada mereka Ibu juga tidak pernah bangun jam tiga atau setengah empat pagi. Di tambah lagi , Nenek mereka juga sebenarnya memberi uang pada Ibu untuk biaya mereka selama tinggal di sini, tapi mereka tidak tahu mengetahui semua itu. Randy juga tidak tahu kalau selama ini kami memperlakukan mereka seperti itu," ucap Nenek Ami pada seseorang yang dia hubungi.


Aku dan Juan begitu terkejut mendengarnya. Aku lihat wajah Juan merah padam mendengar semua itu. Ternyata Nenek Ami selama ini hanya memanfaatkan kami. Dia hanya baik di depan kami saja.


Aku genggam tangannya agar dia bisa menahan amarahnya. Kami memilih pergi ke dapur saja, dan menyiapkan nasi bungkus untuk nanti sore.


" Juan, Nonik, kalian sudah makan ? " tanya Randy pada kami. Aku lihat dia baru saja datang dari mengantar adiknya.


" Sudah , baru saja selesai," jawabku


" Lebih baik kalian istirahat sebentar. Aku yakin kalian pasti capek karena baru pulang sekolah sudah langsung bekerja. Apalagi Juan tidak terbiasa bekerja keras," kata Randy pada kami


Dan sepertinya yang baik pada kami di rumah ini hanya Randy.


" Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa bekerja keras. Begitu juga dengan Juan. Dulu Juan sepulang sekolah selalu bekerja di restoran hingga pulang jam sebelas malam, " terangku. Aku mengatakan semua itu pada Randy agar dia tahu kalau suamiku adalah pria yang hebat.


" Tapi itu kan berbeda. Dia bekerja di restorannya sendiri . Pasti kerjaannya di sana tidak berat,"

__ADS_1


" Tenang saja ,aku tidak apa-apa kok. Saat ini aku sudah memiliki istri , jadi aku harus belajar bekerja keras," sahut Juan seraya melanjutkan pekerjaannya.


Sebenarnya aku ingin sekali istirahat sebentar, tapi kalau aku istirahat maka Nenek Ami pasti mencariku ke kamar lagi.


__ADS_2