Pengantin SMA

Pengantin SMA
Mencari Nonik


__ADS_3

Kami lalu pergi menuju ke rumah Agus. Rumah Agus berada tidak jauh dari rumah Tobi . Setelah sampai di sana, Agus mengatakan kalau di sana tidak ada Nonik dan bahkan Nonik tidak menghubunginya sama sekali. Tubuhku langsung mendadak lemas. Padahal rumah Agus satu-satunya harapanku , tapi ternyata Nonik tidak ada di sana juga. Tobi lalu menceritakan semuanya pada Agus apa yang telah terjadi.


" Kira-kira sekarang Nonik ada di mana ya ? Gue jadi khawatir dengannya," ucap Agus dengan wajah yang terlihat tidak tenang.


" Apa mungkin dia ke rumah orang tuanya ? " tanyaku seraya menatap mereka berdua.


" Sepertinya tidak mungkin deh. Tapi apa salahnya kalau kita coba kesana ," kata Tobi


" Kalau tidak ada di rumah orang tuanya kita coba ke rumah Kakek dan Neneknya," sahutku memberi pendapat.


" Kamu benar. Kakek dan Neneknya sangat menyayangi Nonik , dan sepertinya dia ada di sana," sahut Agus seraya menatapku


" Kalau begitu kita ke rumah orang tuanya dulu, setelah itu baru kita ke rumah kakek dan neneknya, tapi kamu tidak boleh ikut masuk ke dalam , karena nanti mereka bisa tahu kalau kamu sedang ada masalah dengan Nonik," kata Tobi padaku. Yang di katakan oleh Tobi memang benar . Kalau aku masuk ke dalam dan menanyakan keberadaan Nonik, maka mereka pasti akan curiga karena aku adalah suaminya.


" Baiklah kalau begitu. Lebih baik kita pergi sekarang juga," balasku yang langsung beranjak dari tempat dudukku.


Kami lalu pergi ke rumah orang tua Nonik. Setelah sampai di sana Tobi dan Agus langsung masuk ke dalam sedangkan aku menunggu di depan rumahnya sambil menatap rumah itu yang sudah banyak ada perubahan. Di depan rumahnya telah di buka sebuah laundry yang cukup besar. Yang aku dengar dari Nonik kalau laundry ini dibuka menggunakan uang yang kemarin aku berikan pada keluarga Nonik.Kalau aku pikir-pikir ,mereka seperti menjual putri mereka sendiri.


Aku sungguh kasihan pada Nonik. Memiliki orang tua yang tidak pernah menyayanginya. Tapi untung Nonik sudah keluar dari rumah ini. Andai Nonik masih tinggal di rumah ini, pasti dia akan dipukul terus oleh Bapaknya yang kejam itu.


Nonik memang tidak seberuntung diriku. Dari kecil hingga dewasa almarhum orang tuaku tidak pernah memukulku. Jangankan memukulku, memarahiku saja mereka tidak pernah. Namun Nonik, entah sudah berapa pukulan yang mengenai tubuhnya itu .


Tapi aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan membahagiakan istriku itu. Walaupun nanti dia terus menjauhiku, tapi aku akan terus mendekatinya dan akan tetap setia dengannya sampai kapanpun.


Tak berselang lama, Tobi dan Agus keluar dari rumah orang tua Nonik.

__ADS_1


" Juan , Nonik tidak ada di sini," kata Tobi seraya naik ke atas motornya.


" Orang tuanya Nonik sungguh galak banget. Padahal kita datang dan bertanya dengan baik-baik, tapi Bapak dan Ibunya malah marah-marah. Mereka bilang kalau mereka tidak memiliki seorang anak perempuan," tutur Agus dengan wajah yang kesal.


" Kalau begitu sekarang lebih baik kita pergi ke rumah Kakek dan Neneknya. Aku yakin kalau Nonik pasti ada di sana," ucapku begitu yakin. Karena hanya rumah Kakek dan Neneknya yang belum aku datangi , sedangkan semua tempat sudah aku datangi.


" Aku juga begitu yakin kalau Nonik pasti ada di sana," sahut Tobi yang langsung menghidupkan motornya.


Jarak rumah orang tua Nonik dengan rumah Kakek dan Neneknya hanya memakan waktu satu setengah saja. Ketika kami telah sampai di depan rumah mereka, kami lihat rumah itu begitu kotor dan gelap seperti tidak ada yang menepati.


" Apa ini benar rumahnya ? Kok seperti tidak ada yang tinggal di sini ? " tanyaku pada Tobi dan Agus.


" Tapi memang benar ini kok rumahnya, soalnya kita pernah mengantar Nonik ke sini ," terang Agus seraya menatap rumah itu.


Tobi lalu mengetuk pintu rumah itu. Sudah berkali-kali Tobi mengetuk pintu, tapi tidak ada yang kunjung membuka pintu. Tiba-tiba tetangga sebelah rumahnya datang menghampiri kami.


" Kami ingin mencari orang yang tinggal di rumah ini ," jawab Tobi menjelaskan pada Ibu itu.


" Kalian mencari Kakek Ali dan Nenek Mirna ? " tanya ibu itu seraya menatap kami secara bergantian.


" Iya ,Bu. Kira-kira mereka pergi ke mana ya ? Soalnya sudah dari tadi pintu rumahnya kami ketuk tetapi tidak ada yang membuka pintu," balasku.


Aku lihat ibu itu menghela nafas dengan pelan seraya menatap kami.


" Memangnya kalian ini siapanya Kakek Ali ? " tanya Ibu itu seraya menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


" Kami adalah teman dari cucunya Kakek Ali. Kami ke sini hanya ingin bertanya sesuatu."


" Kakek Ali dan Nenek Mirna sudah meninggal sekitar dua minggu yang lalu. Mereka meninggal karena kecelakaan di depan rumahnya ini," terang Ibu itu


" Apa ?" sahutku dan yang lainnya dengan mata membulat. Aku sungguh tidak percaya dengan semua yang Ibu ini katakan. Karena aku dan Nonik tidak tahu kalau mereka telah meninggal.


" Iya ,Dek. Kalau ada masalah penting kalian pergi saja ke rumah anaknya. Kalau begitu Ibu permisi dulu," sahut Ibu tersebut


" Iya ,Bu. Terima kasih," ucapku seraya menatap kepergian Ibu itu.


Tubuhku semakin lemas mendengar semuanya. Padahal harapan terakhirku hanya rumah ini, tapi dia tidak ada di sini.


" Kenapa orang tuanya tidak memberitahu Nonik kalau Kakek Ali dan Nenek Mirna meninggal ? Mereka sungguh keterlaluan sekali, seharusnya mereka mengabari Nonik. Kalau Nonik tahu,dia pasti akan sangat sedih," ucap Agus


" Kita nyari Nonik ke mana lagi ya ? Aku kasihan padanya? Dia adalah sahabat yang sangat baik ,dan sering membantu kita dari kecil," ujar Tobi dengan raut wajah yang begitu sedih.


Aku hanya diam saja. Rasanya tubuhku lemas dan kepalaku juga terasa berat.


Aku menghela nafas dengan kasar seraya mengacak-ngacak rambutku sendiri. Kita lalu melanjutkan mencari Nonik lagi . Tapi hingga larut malam kami tidak juga menemukan Nonik. Ponselnya juga tidak aktif. Beberapa menit kemudian , tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponselku .Mataku membulat dan hatiku sedikit senang saat melihat ada pesan masuk dari Nonik. Dengan buru-buru aku membuka pesan itu.


📱" Juan, tolong lupakan aku dan tidak usah mencariku. Lebih baik kamu pulang ke rumahmu.Dan satu lagi, selama ini aku tidak pernah mencintaimu , jadi tolong lupakan aku,"


Hatiku terasa sakit melihat pesan itu. Aku yakin kalau Nonik pasti berbohong. Aku lalu menghubungi nomer Nonik, tapi nomernya tidak aktif. Aku lalu membalas pesan itu, karena aku yakin Nonik pasti membacanya nanti.


📱" Aku mungkin bisa bersabar, sabar menahan cemburu, kuat menahan cobaan , tapi aku tidak pernah bisa kuat kalau jauh darimu. Aku sangat mencintaimu. Hanya kamu penyemangat hidupku.Pulanglah sayang ! "

__ADS_1


" Juan,lebih baik sekarang kita pulang. Wajahmu terlihat pucat sekali. Aku yakin besok Nonik pasti sekolah ," kata Tobi seraya menepuk bahuku.


" Baiklah, terima kasih karena kalian sudah membantuku ," balasku seraya naik ke atas motorku.


__ADS_2