
" Nona , apakah kamu sedang hamil ? " tanya dokter Lia seraya menyingkap piyama Nonik untuk memeriksanya.
Aku tatap wajah Nonik. Wajah Nonik tidak terlihat seperti seorang wanita yang sedang menahan rasa sakit akibat pendarahan.
" Tidak , " sahut Nonik dengan raut wajah bingung.
" Apakah perutmu sakit ? " tanya dokter Lia kembali.
" Sedikit," sahut Nonik dengan wajah polosnya.
" Dokter, kenapa kamu lambat sekali ? Cepat berikan penangan yang tepat untuk istriku," desakku dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
" Juan , apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa aku harus di tangani ?" tanya Nonik sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
" Juan , kenapa diam ? Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa aku di bawa ke rumah sakit ? " tanya Nonik lagi.
" Nonik , sepertinya kamu pendarahan. Aku tadi melihat bercak darah cukup banyak di celanamu ,"terangku dengan nafas memburu.
" Hah ? " Nonik dan dokter Lia berpandangan hingga beberapa saat.
" Tenanglah, tidak usah terlalu cemas. Sepertinya bercak darah yang kamu lihat adalah akibat dari tamu bulanan istrimu . Karena saya tidak menemukan ada janin di dalam perutnya," terang dokter Lia padaku sambil tersenyum.
" Apa ? Datang bulan ? " ujarku dengan polos. Seperti ada reruntuhan kaca yang mengenai kepalaku.
Nonik menepuk dahinya pelan.
" Ya, itu hal yang wajar bagi seorang wanita mengalami datang bulan . Tidak usah cemas , tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya," terang dokter Lia seraya mengulum senyum.
" Baru kali ini saya menemukan ada seorang pria yang membawa istrinya ke rumah sakit gara-gara datang bulan," ucap dokter Lia yang masih tersenyum.
" Ya ampun , Juan," gumam Nonik seraya mencubit ujung pelipisnya.
" Kalau begitu saya tinggal dulu, jika butuh bantuan bisa hubungi saya lagi," pamit dokter Lia sembari tersenyum penuh arti.
" Nona, kamu beruntung memiliki suami seperti dia,"kata dokter Lia kembali pada Nonik.
" Terima kasih ,Dok,"sahut Nonik sambil meringis dengan rona pipi memerah.
Aku hanya diam saja setelah mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Nonik tanpa bisa berkata-kata. Aku tetap berdiri di tempatku tanpa berani menegakkan kepalaku. Akibat kecerobohanku, aku sudah mempermalukan diriku sendiri dan Nonik. Bersiaplah sebentar lagi akan mendapatkan omelan.
Nonik memeriksa bokongnya , baru menyadari kalau ternyata ada bercak darah di celananya.
__ADS_1
" Aku baru pertama kali datang bulan. Bahkan aku tidak memiliki pembalut. Cara memakainya juga aku tidak tahu," gumam Nonik melamun.
" Kamu tenang saja . Aku akan mencari tahu bagaimana cara memakai pembalut ," sahutku berusaha menghiburnya.
" Juan, sebaiknya kita pulang,"ujar Nonik.
" Nonik, aku minta maaf. Aku tadi panik sehingga tidak sampai kepikiran mengenai datang bulan,"terangku dengan wajah memelas .
Nonik menghela nafas pelan.
" Hmm ,di maafkan. Aku juga salah karena tidur seperti orang pingsan. Tapi lain kali jangan seperti ini . Pastikan dulu padaku," tukas Nonik.
" Baik , aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti ini," aku tetap menundukkan kepala. Baru kali ini aku merasa sangat malu pada Nonik.
" Lagian kamu juga aneh. Kita belum pernah melakukan hubungan suami istri , jadi mana mungkin aku hamil,"
" Maaf. Aku kira saat tidur pernah tanpa sengaja melakukannya ," jawabku
Nonik menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi merasa ragu.
" Ayo kita pulang," ajakku
" Juan,bisakah kamu membelikanku pembalut ? " tanya Nonik sambil menatapku.
" Hmmm, kenapa ? Apakah kamu keberatan ? Ah , baiklah biar aku sendiri yang membelinya," kata Nonik seraya beringsut ke tepian ranjang.
" Jangan, kamu tetaplah disini. Aku akan membelinya sekarang. Tapi di mana aku harus membelinya ? "
" Cari saja di minimarket terdekat," sahut Nonik.
Aku bergegas pergi, mengikuti arahan yang sudah di jelaskan Nonik.
Aku pergi ke minimarket terdekat yang masih buka selama dua puluh empat jam. Ini adalah pertama kali bagiku membeli pembalut wanita.
Jangan sampai aku membuat kesalahan yang kedua kalinya. Pantas saja tadi Dokter Lia terlihat santai saat memeriksa Nonik. Ternyata tidak ada sesuatu yang buruk pada Nonik.
Aku menghela nafas lega saat melihat yang berjaga di kasir adalah seorang pria. Setidaknya aku tidak terlalu malu untuk mengatakan apa yang akan aku beli.
Akibat tak pernah mengamati barang-barang milik wanita sebelumnya, aku tidak mengerti seperti apa bentuknya. Dari pada pusing sendiri, aku langsung menuju kasir untuk meminta bantuan.
" Hmmm , permisi Kak. Bisakah kau ambilkan aku pembalut wanita ? " ujarku seraya berdehem.
__ADS_1
Pemuda yang berdiri di belakang kasir justru melongo sambil mengamatiku hingga beberapa detik.
Kenapa Kakak menatapku dengan tatapan seperti itu ? Apakah ada yang aneh ?" ujarku dengan nada dingin. Lama-lama jadi kesal sendiri karena Kakak itu tidak melakukan apa yang aku perintahkan. Justru sekarang dia menatapku tanpa berkedip.
" Ah , maaf. Kenapa kamu tidak ambil sendiri saja ? Biar aku beritahu di mana raknya," ujar Kakak itu .
" Kalau aku tahu pasti aku tidak akan meminta bantuan Kakak,"gerutuku.
Ternyata penjaga pria justru lebih menyebalkan dari pada penjaga wanita.
" Baik,dek . Aku akan mengambilnya untukmu. Mau pembalut yang bersayap atau tidak ?"
Aku menautkan alisku. Bersayap ? Apakah bentuknya mirib seperti ayam ? Hanya satu barang tapi kenapa menyulitkanku ?
" Apanya yang bersayap ? Kakak pikir benda itu ayam yang memiliki sayap dan ekor ? " gerutuku. Pertanyaan Kakak itu terpaksa membuatku harus berpikir.
" Biarkan aku ambil dulu , nanti silahkan kamu pilih," ujar Kakak itu
Apakah dia lupa, tak semua pria mengetahui barang-barang kebutuhan wanita. Tapi mulai sekarang aku akan mempelajari barang-barang kebutuhan wanita , agar tidak mempermalukan Nonik .
" Tidak perlu, cepat ambil dan bungkus keduanya," sahutku tanpa bertanya lebih lanjut lagi agar aku tidak terlalu terlihat bodoh.
Kakak itu segera mengambil dua bungkus yang berbeda. Dalam waktu beberapa menit sudah kembali ke meja kasir untuk mengemasnya.
" Dek, katakan padaku di mana kamu dan pacarmu menginap ? " tanya Kakak itu dengan suara setengah berbisik.
Aku yang sedang memeriksa ponselku lantas menegakkan kepalaku dengan mata menyipit.
" Apa maksudmu ? Pacar ?" tanyaku dengan tatapan penuh selidik.
" Biasanya seorang pria yang bersedia membelikan pembalut dini hari seperti ini pasti di suruh oleh pacarnya. Apakah kamu dan pacarmu menginap di hotel yang ada di sekitar sini ? Sepertinya kamu sering mengajak pacarmu menginap di hotel. Hati-hati dek, jangan sampai pacarmu hamil," terang Kakak itu dengan raut wajah mengejek dengan ocehan panjang lebar.
"Cepat bungkus , tidak usah cerewet . Asal Kakak tahu saja, aku tidak memiliki pacar. Aku sudah memiliki seorang istri , dan saat ini dia berada di rumah sakit," ucapku dengan tegas seraya menggertakan gigiku kuat-kuat karena geram. Dia pikir aku ini pria apaan.
Kakak itu menelan salivanya. Tubuhnya sampai gemetar melihat tatapanku yang berapi-api .
" Kamu beneran sudah menikah ?" tanya Kakak itu seperti tidak percaya dengan ucapanku.
" Kalau tidak percaya, Kakak bisa ikut aku ke rumah sakit," ucapku sambil menatapnya dengan tajam. Aku terpaksa bilang padanya mengenai statusku yang sudah memiliki istri , karena merasa geram mendengar ucapan Kakak itu.
" Baiklah, aku percaya," balas Kakak itu.
__ADS_1
" Padahal aku sendiri masih jomblo , tapi dia malah sudah menikah di usianya yang seharusnya masih belajar. Sepertinya aku yang terlalu lama menjomblo ," ucap Kakak itu bicara sendiri tapi masih bisa aku dengar karena aku masih berdiri di dekat pintu.
Aku mendengus lalu melangkah pergi meninggalkan minimarket. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit aku mencari tahu apa itu pembalut bersayap dan pembalut tidak bersayap melalui google. Tidak lupa aku juga mencari tahu bagaimana cara memakai pembalut yang benar . Nonik baru pertama kali datang bulan , jadi dia pasti bingung bagaimana cara memakai pembalut yang benar.