Pengantin SMA

Pengantin SMA
Meminta ijin


__ADS_3

"Nonik, kenapa kamu bisa bekerja di minimarket milik Nenek Arum ?" tanya Juan sambil menatapku.


Aku lalu menceritakan semuanya pada Juan. Dari pertemuanku dengan Nenek Arum di depan kosan hingga di tempat kerja.


" Jadi Nenek Arum itu adalah Neneknya Kak Fajar ? " tanya Juan dengan mata membulat.


" Iya, aku sendiri baru tahu ketika melihat foto Kak Fajar di rumah Nenek Arum," ucapku menunduk.


" Kok bisa kebetulan begini ? Lalu sekarang kita harus bagaimana ? Aku gajian masih lama, dan sekarang aku juga belum ada uang untuk mencari kosan," ucap Juan sambil memijat ruang di antara alisnya.


" Aku juga tidak tahu harus bagaimana," balasku dengan bingung


" Nonik , untuk sementara kita tinggal di sini saja dulu sampai aku gajihan . Lalu setelah itu baru kita nyari kos-kosan di tempat lain. Usahakan agar Kak Fajar tidak mengetahui kita ada di sini , tapi jika dia mengetahui dari Neneknya kalau kita ngekos bareng , maka bilang saja kalau kita bersaudara.  Dan untuk masalah pekerjaanmu , lebih baik kamu berhenti bekerja di sana. Sepertinya memang pekerjaan itu tidak cocok denganmu. Dapat aku lihat dari wajah Kakak seniormu yang ada di depan minimarket , dia terlihat tidak menyukaimu. Aku tidak ingin istriku mendapat masalah apalagi di tuduh mendekati cowok orang lain,"kata Juan sambil menangkup wajahku.


" Baiklah , kalau begitu besok aku akan mengembalikan seragamnya pada Nenek Arum. Tapi aku takut ketemu dengan Kak Fajar saat mengembalikan seragam kerja,"sahutku sambil menatap Juan.


" Tidak usah datang ke rumahnya. Aku lihat setiap pagi Nenek Arum selalu lewat di depan kosan , jadi kasih saja pas kita berangkat sekolah," 


" Kamu memang benar . Kalau begitu besok pagi aku akan memberikan seragamnya,"balasku yang langsung naik ke atas tempat tidur. Hari ini aku rasanya capek sekali. Kakiku juga rasanya pegal sekali. Aku lalu memijat-mijat kakiku sendiri.


Juan yang tadinya berbaring di sampingku langsung bangun lagi .


" Apa kakimu sakit ? " tanya Juan dengan wajah yang terlihat khawatir.


" Sedikit, mungkin karena tadi terlalu banyak berdiri,"


" Sini , biar aku pijatkan kakimu," kata Juan yang langsung menyentuh kakiku dan mulai memijat.


" Juan , tidak usah," balasku sambil menarik kakiku.


" Kamu juga pasti sangat capek, karena bekerja dari pagi, jadi lebih baik kamu tidur duluan,"


" Tenang saja aku tidak capek kok. Sekarang aku sudah terbiasa bekerja, jadi tidak usah khawatir padaku ," jawab Juan yang kembali memijat kakiku lagi.


Jujur aku merasa tidak enak dengannya, karena aku yakin kalau dia juga pasti merasa capek bekerja dari pagi hingga malam. Tapi dia begitu keras kepala. Selalu khawatir dengan keadaanku, tanpa peduli dengan keadaannya sendiri.

__ADS_1


" Juan, kakiku sudah tidak sakit lagi. Sekarang giliranku mijitin kamu ya ? Aku yakin kamu juga pasti merasa capek," ucapku sambil mendekati Juan.


" Tidak usah, aku beneran tidak capek kok. Tapi aku hanya merindukanmu. Bolehkah aku memelukmu ? " tanya Juan dengan mulut melengkung dan senyumnya yang tulus.


" Boleh," jawabku dengan malu-malu sambil menunduk. Sebenarnya aku juga rindu padanya, tapi aku malu mengatakannya duluan.


Juan melebarkan tangannya.


" Sini peluk ," pintanya agar aku mendekat.


Aku lalu mendekatinya , dan langsung berhambur memeluk suamiku itu.


Aku menyandarkan kepalaku dengan nyaman di dada bidang Juan.


" Nonik ? " panggil Juan padaku


Aku mendongakkan kepala dan menatapnya.


" Aku kangen banget sama kamu. Ijin cium bibir boleh ? " tanya Juan meminta ijin. Sontak membuatku tambah merasa malu dengan rona merah di pipiku yang mulai kentara.


" Gimana ? " goda Juan.


Jujur aku malu menjawab permintaan Juan. Aku kembali melingkarkan tanganku di pinggang Juan dengan erat menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Aku malu karena wajahku tiba-tiba memanas dan takut dilihat oleh Juan. Aku memeluk Juan dengan lebih erat.


" Gak gimana gimana ," jawabku yang masih menyembunyikan wajah.


" Kalau begitu cium bibir dulu, " kata Juan dengan tangannya yang menyentuh pipi mulusku. Membuat desiran seakan tersengat listrik. Mata kami saling beradu , memandang , dan menyelami satu sama lain. Juan memajukan wajahnya, memiringkan wajahnya agar hidung mancungnya dan hidungku tidak bertabrakan. Dia lalu mendaratkan bibirnya di bibirku.


Aku yang menerima serangan dadakan itu membulatkan mataku dengan sempurna.


Aku yang terkejut tanpa sadar membuka mulutku. Membuat Juan dengan leluasa masuk dan mengekspor dalamnya menggunakan lidah, memilih menyes*p dan menikmati permainan tukar menukar ludah tersebut.


Hingga membuatku yang tanpa sadar juga ikut menikmati permainan sampai memejamkan mataku.


" Aku sayang banget sama kamu," ucap Juan padaku

__ADS_1


" Aku juga sayang banget sama kamu," balasku.


" Kita berjuang sama-sama menghadapi semuanya ya ? " kata Juan yang kemudian mencium keningku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Besok paginya.


" Nonik, ayo bangun ! " ucap Juan sambil menyentuh wajahku.


" Juan ,kamu sudah bangun ? Jam berapa ini ? " tanyaku sambil mengambil ponsel yang ada di atas nakas.


" Sudah jam 06 : 00. Ayo bangun lalu mandi. Nanti kita terlambat ke sekolah ," ujar Juan


Aku lalu beranjak dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi. Dari kamar mandi aku dengar Juan sedang memasak di dapur. Setelah aku selesai mandi lalu giliran Juan yang masuk ke kamar mandi.


"Nonik, periksa semua bukunya. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Masukkan juga topinya karena sekarang akan ada upacara. Jangan sampai di hukum cuma karena tidak membawa topi. Dan satu lagi , masukkan beberapa pembalut ke dalam tas," terang Juan sambil memakai seragam. Aku langsung mengikuti semua yang Juan katakan. Untung Juan mengingatkanku mengenai pembalut , kalau tidak mungkin aku sudah lupa.


" Nonik , ayo sarapan dulu ! " kata Juan yang sudah menyiapkan sarapan untukku. Seharusnya aku yang menyiapkan sarapan untuknya , tapi Juan selalu bangun lebih pagi dariku untuk memasak.


" Aku memang seorang istri yang tidak berguna," batinku .


"Nonik , ayo habiskan sarapannya. Biar kuat berdiri saat upacara, apalagi kamu lagi datang bulan. Kalau nanti kamu merasa tidak kuat, kamu panggil saja aku ," ucap Juan berceramah. Dia sudah seperti seorang emak-emak yang menasehati putrinya.


" Aku pasti kuat kok," jawabku


Setelah selesai sarapan Juan membantuku mencuci piring.


" Nonik, ini uang jajannya. Jangan lupa makan saat jam istirahat. Wanita yang sedang datang bulan begitu mudah merasakan lapar , jadi jangan di tahan rasa laparmu," ceramah Juan lagi.


" Iya, tapi kamu juga harus ingat makan juga saat sarapan," balasku sambil menatapnya.


" Iya sayang," sahut Juan sambil mencium keningku.


" Sekalian juga kamu bawa seragam kerjamu. Nanti kalau ketemu Nenek Arum kita bisa langsung kasih seragamnya , dan kalau tidak ketemu nanti taruh saja dulu di Bagasi motorku," terang Juan sambil memakai sepatu. Aku lalu mengambil seragam kerjaku dan mengikuti Juan dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2