Pengantin SMA

Pengantin SMA
Kembali Ke Sekolah


__ADS_3

Nadira berjalan menyusuri koridor sekolahnya. Pagi ini koridor sangat ramai, Nadira merasa risih saat begitu banyak tatapan siswa yang menatapnya aneh. Ada apa sih? Kok ngeliatin aku kaya gitu? Pikirnya dalam hati. Ia berusaha bersikap biasa saja, namun tidak bisa. Seluruh pasang mata seakan-akan melihat putri turun dari kayangan hingga mata mereka terpaku padanya.


Nadira makin mempercepat langkah kakinya menuju loker. Ia membuka loker miliknya dan meletakkan beberapa barang yang agaknya perlu di letakkan di loker. Sebuah sentuhan di pundaknya, membuat gadis dengan rambut terurai itu berbalik badan.


“Nia,”


“Hai! Kamu apa kabar?” sapa Nia.


“Baik, kamu sendiri gimana kabarnya?”


“Baik,”


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Nadira langsung saja memeluk gadis yang bernama Nia itu. Rasa rindu yang sudah mencuat di ubun-ubun akhirnya tersalurkan. Nia Novianti, adalah teman Nadira sejak SMP. Dia selalu menjadi tempat curhat Nadira. Mereka selalu berdua kemana-mana. Bahkan ke toilet saja berdua.


Nadira sendiri sudah menganggap Nia seperti adik sendiri, karena usianya yang lebih tua 2 bulan dari Nia.


“Nia, bedak aku ketebelan gak?” tanya Nadira setelah melepaskan pelukannya.


Nia menggeleng, “Nggak, Kok!”


“Tapi kenapa anak-anak pada ngeliatin aku kaya gitu? Ada yang salah sama pakaian aku?” tanya Nadira lagi.


Tatapan teman-temannya yang masih belum lepas membuatnya heran dan salah tingkah. Apa yang salah dengannya? Kenapa mereka melihatnya seperti itu?


“Udah lah gak usah dipikirin, mending kita ke kelas aja, yuk!”


Nadira mengangguk dan ikut pergi bersama Nia yang menarik tangannya. Setelah melihat di papan pengumuman mading, mereka pun berjalan menuju kelas mereka. 12 IPS 2 menjadi kelas yang akan mereka duduki nanti. Nadira sangat bersemangat, karena cowok yang ia sukai ada di kelas yang sama.


Kelas mereka ada di lantai tiga. Mereka harus menaiki tangga dulu untuk sampai kesana. Lama mendaki, akhirnya mereka sampai juga dan langsung masuk ke dalam ruangan dengan pintu berwarna biru itu.


“Wah~ kelasnya bagus ya, Nad. Luas juga, kita duduk di mana ya?” gumam Nia yang begitu antusias.


Nadira tak menjawab. Senyum masih terukir di wajah cantiknya, ia melihat ruangan kelas yang jauh di atas ekspektasinya. Sungguh kelas yang bagus. Ia pasti akan betah belajar disini.


“Nad, kita duduk disini ya?” tanya Nia sambil menunjuk salah satu meja.


Meja yang berada di posisi ketiga dari pintu serta baris ketiga dari depan menjadi tempat favorit mereka untuk duduk. Nadira hanya tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Nadira dan Nia segera menaruh tas mereka di kursi yang sudah mereka pilih. Nia sibuk melihat-lihat quotes yang ada di dinding kelas itu. Sementara Nadira sibuk memperhatikan cowok di luar kelasnya. Ia sedang berdiri menghadap lapangan, membelakangi Nadira yang berjalan perlahan mendekati cowok itu.


“Reyhan,” panggil Nadira.


Cowok itu menoleh dan tersenyum.


“Hai, Nadira. Apa kabar?” ucap cowok yang diketahui bernama Reyhan itu.


Tanpa basa-basi lagi, Nadira langsung berlari dan memeluk cowok itu. Dia adalah Reyhan, pacar Nadira di sekolah bernama SMA Budhis Pratama ini. Hubungan mereka memang baru berjalan satu bulan. Tapi satu SMA tau kalau Nadira sudah menyukai Reyhan sejak ia duduk di bangku SMP.


Hari ini Nadira sangat bahagia. Ia bisa melepas rindu dengan orang-orang yang sudah lama tidak ia temui. Seminggu mereka libur sekolah karena baru selesai ujian kenaikan kelas membuat mereka tidak bisa saling mengabari satu sama lain. Ditambah lagi Nadira yang tidak punya handphone, membuatnya sulit bertukar kabar dengan mereka.


Di tempat berbeda, Dave yang merupakan suami sah Nadira terlihat sibuk dengan file di mejanya. Menjadi wakil direktur membuatnya cukup sibuk. Itulah resiko menjadi anak tertua dari keluarga Mahardika. Gavin papanya memang masih menjadi pemimpin utama di perusahaan ini, tapi Dave diminta menjadi wakil direktur sampai menunggu nya benar-benar siap menjadi pemimpin utama.


Suara ketukan pintu membuat Dave menoleh cepat.


“Siapa?” tanya Dave.


“Ini gue, Sam. Boleh masuk gak?”


Oh, dia Sam. Teman sekaligus tangan kanan Dave di kantor. Dia masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga Dave. Kakeknya Sam adalah adik dari kakeknya Dave. Jadi bisa dibilang mereka ini adalah sepupu jauh.


Sam masuk dan duduk di meja. Statusnya yang masih menjadi keluarga Dave membuatnya bebas melakukan apapun. Padahal itu tidak sopan.


“Lo udah nikah? Sama siapa?” tanya Sam.


Dave yang baru membuka berkas dalam map kuning kembali menutupnya karena pertanyaan Sam.


“Tau dari mana lo?”


“Ya taulah! Masa sepupu sendiri nikah gue gak tau. Meskipun gue gak diundang, tapi gue gak ketinggalan info kali,”


Dave menghela napas kasar. Entah beruntung atau malah buntung menikah dengan Nadira. Gadis berumur 18 tahun itu sama sekali bukan tipenya. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya setelah melangsungkan janji suci mereka di gereja. Dia memang kelihatan gadis baik-baik, dia cantik dan juga lugu. Tapi Dave ragu jika pernikahan mereka akan bertahan lama.


“Woy! Malah ngealamun, kenapa? Mikirin malam pertama?” celetuk Sam membuyarkan lamunan Dave.


“Apaan, sih? Malam pertama apa? Gue sama dia aja gak ngapa-ngapain,”

__ADS_1


Sam melongo heran. Mulutnya menganga, andai saja ada gorengan pasti Dave sudah memasukkan gorengan itu ke mulut Sam. Tidak, bukan gorengan tapi cabai nya.


“Kok bisa? Kenapa?” tanya Sam heran.


“Sam, dia itu masih sekolah, iya kali gue nyentuh anak yang masih sekolah,”


“Apa?!” teriak Sam dan langsung turun dari atas meja.


Aksinya membuat meja bergoyang dan beberapa file terjatuh. Apa-apaan dia ini? Tidak bisa diam. Bergerak kesana-kemari.


“Biasa aja ekspresinya, gak usah kaget gitu,” tegur Dave sambil memunguti file yang berjatuhan.


“Gimana gue gak kaget? Lo nikahin anak gadis yang masih sekolah, lo udah gak waras?”


Menarik napas lagi, sambil mengusap wajah dengan tangan Dave melirik Sam yang berdiri di depannya. Sam sangat heboh, apalagi kalau sudah bicara soal pernikahan. Bagaimana jika ada karyawan yang mendengar pembicaraan mereka? Dasar Sam.


“Kok lo kaget gitu, sih? Katanya udah tau soal pernikahan gue?” tanya Dave pula.


“Gue memang udah tau lo mau nikah, tapi gue gak tau kalo lo bakalan nikah sama anak sekolah, kok bisa, sih?”


“Gue juga gak mau nikah sama dia, tapi nyokap bilang karena bokapnya itu cewek punya utang sama bokap gue dan gak bisa bayar, makanya dia dinikahin sama gue. Sekalian ngejalanin amanah terakhir kakek,”


Oh, Sam paham sekarang. Ini seperti di film-film, cukup menarik juga. Tapi ini terdengar seperti ayah si gadis menjual anaknya pada keluarga kaya. Apa memang benar begitu?


“Jam berapa sekarang, Sam?”


Sam yang dilontarkan pertanyaan itu melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, “Jam empat,” jawab Sam.


“Jam empat? Aduh, gue telat jemput Nadira nih,”


Dave mengemasi berkas yang berserakan di mejanya. Ia mengambil jasnya yang berada di gantungan belakang kursinya dan segera memakainya. ia harus menjempu Nadira di sekolah. Jika tidak, past Mamanya akan marah. Karena terburu-buru, Dave sampai menjatuhkan gantungan itu. Ceroboh sekali, pikir Sam.


“Tunggu, Nadira siapa?” tanya Sam sebelum Dave pergi.


“Istri gue,” jawab Dave sambil menegakkan gantungan baju itu.


“Cie ... yang udah punya istri, mau jadi suami yang baik jemput istrinya ke sekolah ni ceritanya?” goda Sam sambil senyum-senyum dengan kedua tangan melingkar kebelakang tubuhnya.

__ADS_1


Pipi Dave merah merona. Membuat Sam makin gencar menggodanya. Dave pergi dengan rasa malu karena Sam, sementara Sam masih terkekeh melihat Dave yang malu karenanya.


__ADS_2