Pengantin SMA

Pengantin SMA
Bertemu Kakak dan Bapak


__ADS_3

Semenjak Juan tinggal di sini, warung Nenek Ami buka sampai jam 23 : 00. Padahal biasanya warung itu buka sampai jam 20 : 00 atau 21 : 00 . Tapi satu minggu yang lalu Juan dan Randy memberi saran pada Nenek Ami agar warungnya buka sampai jam 23 : 00. Hitung-hitung sambil nongkrong dan belajar. Kami sengaja memberi saran seperti itu karena tidak enak pada beliau. Tapi untung saja nasi bungkus Nenek Ami selalu habis. Dan biasanya yang menghabiskan nasi bungkus Nenek Ami adalah anak-anak kos yang baru pulang dari bekerja.


"Nonik, Juan sama Randy belum datang juga ? " tanya Nenek Ami seraya duduk di sampingku.


" Belum ,Nek. Padahal kita mau ke toko buku , tapi mereka malah belum pulang juga," jawabku dengan wajah yang kusut.


" Padahal mereka pergi sekitar dua jam yang lalu, tapi kenapa mereka belum juga pulang ya ? Nenek jadi khawatir pada mereka. Coba kamu hubungi nomer ponsel Juan atau Randy," ucap Nenek Ami memberi saran padaku. Aku lihat wajah Nenek Ami begitu khawatir.


Tadi sore Juan dan Randy di suruh mengantar pesanan nasi bungkus oleh Nenek Ami. Mereka pergi sekitar dua jam yang lalu, tapi sampai sekarang mereka belum juga pulang , padahal lokasi yang mereka tuju tidak jauh dari sini.


" Bu, nasinya empat bungkus ya ? " kata seorang pembeli yang sudah berdiri di depan warung. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan mengambilkan nasi bungkus yang di minta oleh pembeli itu.Ketika pembeli itu telah pergi , aku lalu menghampiri Nenek Ami yang saat ini sedang membersihkan daun pisang.


" Aku sudah menghubungi nomor mereka,Nek," ucapku seraya membantunya merapikan daun pisang. Daun pisang yang di bersihkan oleh Nenek Ami akan di pakai untuk besok.Daun pisang ini dia dapat dari kebunnya sendiri.


" Ya ,Tuhan. Mereka sebenarnya pergi kemana ? " ujar Nenek Ami dengan wajah tidak tenang.


" Nenek, mungkin mereka langsung pergi ke toko buku. Kalau begitu izinkan aku keluar mencari mereka," balasku seraya beranjak dari tempat dudukku.


" Memangnya kamu mau pergi naik apa ? Di sini sangat susah nyari ojek," sahut Nenek Ami seraya menatapku dengan bingung


" Kenapa mesti nyari ojek ,Nek ? Kan motor Juan ada di rumah ? "


" Memangnya kamu bisa bawa motor ? " tanya Nenek Ami dengan wajah penasaran.


" Bisa kok,Nek, " sahutku seraya menatapnya.


" Nenek kira kamu tidak bisa bawa motor. Kalau begitu pergilah. Hati-hati di jalan. Kalau ada masalah langsung hubungi Nenek," ucap Nenek Ami seraya mengusap bahuku.


" Iya ,Nek," balasku yang kemudian mencium punggung tangan Nenek Ami.

__ADS_1


Aku keluar menggunakan celana jeans pendek selutut dan baju kaos berwarna hitam. Rambutku yang panjang aku kepang kuda. Karena udara malam sangat dingin, aku lalu mengambil jaket. Aku menghidupkan mesin motor dan mengendarainya dengan laju yang pelan. Semua jalan sudah aku telusuri , namun aku tidak bertemu dengan Juan dan Randy. Aku juga sudah menghubungi nomer ponsel orang yang memesan makanan, dan mereka bilang Juan dan Randy tidak ada di sana. Aku juga sudah mencari ke toko buku, tapi mereka tetap tidak ada.


Aku lalu masuk ke gang-gang kecil . Karena siapa tahu mereka tersesat di gang-gang kecil . Namun tiba-tiba , di tengah perjalanan aku melihat seseorang yang sangat aku kenal sedang di keroyok oleh sepuluh orang anak laki-laki. Dia adalah Kakakku yang bernama Bagas. Di sana juga ada Bapakku . Dapat aku lihat dari jauh Bapakku sepertinya ingin membantu Kakakku, tetapi kedua tangannya di tahan dengan cukup erat oleh dua orang laki-laki yang berdiri di samping kanan dan kirinya.


Tadinya aku ingin memutar balik motorku, tapi aku tidak tega melihat mereka ketakutan begitu. Aku lalu merekam semua yang aku lihat menggunakan ponselku. Setelah itu aku menghampiri mereka.


" Hentikan ," teriakku dengan suara yang cukup keras. Mereka semua langsung menoleh ke arahku ,dan menatapku dari bawah ke atas.


" Lepaskan mereka ," ucapku dengan suara lantang


" Wah...wah...ternyata kita kedatangan seorang bidadari. Sepertinya dia ingin menjadi seorang pahlawan," kata seorang pria berkulit hitam seraya menatapku dengan mesum.


" Nonik ? Cepat pergi dari sini," teriak Kak Bagas seraya menatapku.


" Nonik , cepat pergi dari sini. Kalau kamu sampai terluka , maka keluarga suamimu pasti akan marah pada kami," teriak Bapakku dengan wajah yang tanpak marah.


" Jadi gadis ini adalah saudara perempuanmu ? Ternyata saudaramu cantik sekali," ucap seorang laki-laki berambut gondrong seraya menatap kakakku.


" Aku akan melepaskan mereka asalkan kamu bersedia menjadi kekasihku,"kata seorang pria bertubuh jangkung.


Sepertinya pria ini tuli. Padahal


Bapakku sudah mengucapkan kata 'keluarga suamiku' dengan cukup keras , tapi dia masih saja memintaku untuk menjadi kekasihnya.


" Aku mohon lepaskan mereka," ucapku seraya menatap mereka.


" Sayang, kamu tenang saja. Aku pasti akan melepaskan mereka asalkan kamu mau menjadi kekasihku,"kata pria bertubuh jangkung seraya berjalan mendekatiku.


Pria itu ingin menyentuh wajahku , namun dengan cepat aku langsung menendangnya.

__ADS_1


" Aku suka wanita sepertimu. Sangat pemberani," sahut pria bertubuh jangkung seraya tersenyum padaku.


" Aku sedang buru-buru. Kalau kamu tidak mau melepaskan mereka secara baik-baik, maka terpaksa aku pakai kekerasan. Ayo maju kalian semua. Sepuluh lawan satu biar cepat selesai," ucapku dengan santai.


" Ha...ha...ha..." Mereka semua malah menertawakanku.


" Lawan satu saja belum tentu kamu bisa mengalahkan kami, apalagi lawan sepuluh," sahut salah satu dari mereka sembari terus tertawa.


" Jangan bermimpi terlalu tinggi. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mengalahkan kami. Seorang wanita hanya bisa melayani seorang pria di ranjang ," kata pria berambut gondrong.


Wajahku langsung merah padam mendengar ucapan pria itu. Aku lalu mendekati mereka dan menghajar mereka semua satu persatu. Gerakanku begitu cepat dan lincah. Tidak aku biarkan mereka memukulku sedikitpun. Dalam sekejap mata mereka sudah babak belur , dan bahkan sampai tidak bisa bangun.


" Bagaimana ? Apa kalian masih bisa mengucapkan kalau seorang wanita hanya bisa melayani seorang pria di ranjang ?" ujarku seraya menatap mereka dengan wajah berapi-api. Mereka hanya menunduk dan tidak berani menatapku seperti tadi.


Aku lihat Kakak dan Bapakku tanpak terkejut melihat semuanya.


Tak berselang lama polisi datang dan membawa mereka. Tadi sebelum menghampiri mereka , aku menghubungi polisi terlebih dahulu untuk berjaga-jaga.


" Nonik, kamu hebat sekali ," kata Kak Bagas seraya mengacungkan jempol ke arahku.


Aku memilih diam saja , dan meninggalkan mereka begitu saja.


" Nonik, tunggu dulu! " ucap Kak Bagas seraya mengejarku.


" Nonik, maafkan aku karena selama ini aku sudah jahat denganmu," ujar Kak Bagas yang saat ini sudah berdiri di belakangku .


Aku tetap memilih diam saja. Aku tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi.


" Bagas ? Biarkan dia pergi. Baru menikah dengan orang kaya sudah sombong seperti itu," ucap Bapakku seraya menarik tangan Kakakku.

__ADS_1


Aku tetap diam dan tidak peduli dengan ucapan mereka. Aku lalu menghidupkan motorku dan pergi meninggalkan mereka. Kali ini aku tidak akan meneteskan air mata mendengar ucapan Bapakku itu . Dan sepertinya mereka lupa kalau aku seperti ini karena ulah mereka.


__ADS_2