
Pukul 8 malam Dave dan Nadira baru sampai di rumah mereka setelah sebelumnya mengunjungi ibu Nadira sambil membawa dua bungkus nasi untuk mereka. Nadira senang karena akhirnya ia bisa melepas rindu dengan kedua orang tuanya. Mereka juga tampak senang melihat anak mereka baik-baik saja di rumah suaminya.
Saat pulang, seluruh anggota keluarga sedang makan malam bersama dia ruang makan. Mama terlihat cemas saat melihat putra dan menantunya baru pulang.
“Kalian dari mana aja, sih? Mama sama papa khawatir nungguin kalian pulang,” ujar wanita itu.
“Maaf ya, Ma. Tadi Nadira ngajak Dave ke rumah ibu dan ayah, sekalian bawain makan malam untuk mereka,” jawab Nadira sopan pada sang ibu mertua.
“Iya gak papa, tapi lain kali bilang dulu ya. Biar Mama sama Papa gak cemas,”
Mama mertuanya begitu pengertian padanya. Membuat Nadira semakin menghormati sosok Rahayu seperti ibu kandungnya sendiri. Dia juga menyayangi Nadira sama seperti ia menyayangi Dave dan Riana. Benar-benar mertua idaman.
Mama mengajak Nadira dan Dave untuk makan malam bersama di meja makan, tapi Nadira mengaku masih kenyang karena habis makan di rumah makan bersama Dave tadi. Ia ijin naik ke atas untuk segera istirahat saja, dengan senang hati Mama mengijinkan Nadira ke kamarnya.
“Ya udah, Ma, Pa, Riana, Dave mau ikut sama Nadira ke atas dulu ya,” pamit Dave yang di angguki oleh semua orang.
Nadira berjalan didepan mendahului Dave. Ia memutari meja makan untuk sampai ke tangga. Riana yang sudah tentu tidak suka pada Nadira, dengan sengaja menjulurkan kakinya hingga membuat Nadira tersandung dan jatuh tersungkur ke lantai. Lututnya sakit karena membentur lantai porslen yang keras.
“Awws.!” Rintih Nadira menahan rasa sakit.
Cepat-cepat Dave menghampiri istrinya dan membantu ia untuk bangkit. Tapi lututnya terlalu sakit serta membiru karena benturan keras itu. Nadira hanya bisa duduk sambil menahan rasa perih karena ternyata lututnya terluka. Sedangkan Riana hanya tersenyum licik melihat musuhnya jatuh, rasain!
“Ya ampun, kamu kenapa bisa jatuh sayang?” tanya Mama khawatir.
Dave yang memang melihat Riana menjegal kaki istrinya hanya menatap sinis. Riana ini kenapa, sih? Kenapa dia begitu tidak suka pada Nadira?
“Ini ulah kamu ‘kan?” tuduh Dave pada Riana, adiknya.
“Kok aku, sih?” elak Riana merasa tak terima dengan tuduhan kakaknya.
“Ya emang kamu ‘kan? Kamu pikir kakak gak lihat kamu sengaja nyandung kakinya Nadira biar dia jatuh? Kamu pikir kakak buta?” ucap Dave terus menyudutkan adiknya.
Nadira dan sang Mama hanya memutar bola mata, jengah melihat kelakuan dua kakak beradik itu. Dave berdiri menatap Riana yang juga berdiri sambil berkacak pinggang, bermaksud menentang kakaknya.
“Itu bukan salah aku! Itu salah dia sendiri yang jalan gak pake mata!” tukas Riana.
Dave semakin geram dengan sikap Riana yang tidak mau disalahkan. Tangannya mengepal karena kesal, ingin melayangkan tamparan di pipi halus Riana, tapi tidak tega. Ia hanya bisa menatap kesal sang adik. Sabar, Dave. Dia adek lo! Ucap Dave berusaha memendam amarah dalam hati.
__ADS_1
“Kenapa? Gak berani kan marah sama aku?” ucap Riana merasa menang.
Makin di biarkan, Riana semakin melunjak. Membuat kesabaran Dave habis. Disaat tangannya siap menampar sang adik, Nadira malah menarik kain celana Dave dan membuatnya beralih perhatian.
“Udah lah, Dave. Bantu aku ke kamar aja ya,” kata Nadira.
Nadira tak mau Dave dan Riana bertengkar lebih lama lagi. itu akan membuat Riana makin membencinya, dan itu juga tidak boleh terjadi.
“Riana, ayo lanjutkan makannya. Biar kakak kamu yang urus Nadira,” kata Papa bijak.
“Gak mau! Udah gak mood!” Riana langsung mengambil ponselnya di meja makan dan berjalan masuk ke kamarnya.
Dave hanya menghela napas menanggapi hal itu. Riana yang selalu dimanja dan dituruti kemauannya menjadi sok berkuasa. Papa memang sangat menyayangi Riana sebagai putri satu-satunya, tak heran kalau Papa jarang memarahi Riana dan selalu memanjakannya.
“Dave, kayaknya Nadira gak bisa jalan, deh. Lututnya biru gini, pasti ngilu. Iya kan sayang?” kata Mama yang masih berjongkok untuk mensejajarkan tubuh dengan Nadira yang duduk di lantai.
“Ya udah, biar aku gendong,” simpul Dave.
“Ah, gak usah! Aku masih bisa jalan sendiri kok,” sela Nadira saat Dave baru saja memeluknya untuk digendong.
Nadira berusaha bangkit dan jalan sendiri, tapi itu kedengarannya musthail. Lututnya sakit sekali, rasanya begitu ngilu dan mau copot. Baru satu langkah ia berjalan, sudah jatuh ke pelukan Dave yang berjaga di belakangnya. Aduh, malu-maluin banget, sih! Gerutu Nadira dalam hati.
“Tapi—“
Belum sempat Nadira kembali buka suara, Dave sudah keburu membawanya ke pangkuan dan menggendongnya. Didepan Mama dan Papa, Dave berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Hati-hati ya!” pesan Mama.
Nadira tertunduk malu saat melihat mama mertuanya terkekeh melihat ia digendong Dave. Apa yang mereka pikirkan? Entahlah, masa bodo dengan itu. Sekarang ia hanya perlu cepat-cepat sampai di kamar untuk istirahat.
Dave menjatuhkan tubuh Nadira di atas kasur yang untung saja empuk. Tapi bukan hanya tubuh Nadira yang jatuh, Dave juga! Dia jatuh menimpa tubuh Nadira yang terlentang di atas tempat tidur. Senyum jahil terbit di wajah Dave.
“Dave, awas! Aku harus ganti baju,” pinta Nadira.
“Kalo aku gak mau, gimana?”
“Badanku lengket, aku harus ganti baju atau aku gak bisa tidur nyenyak nanti,”
__ADS_1
“Ada syaratnya,”
Mata Nadira memincing melihat Dave semakin berani. Senyum jahil itu terlihat menyebalkan. Dave menjilati bibir bawahnya dan sesekali menggigitnya dengan ekspresi yang cukup aneh. Ini orang kenapa, sih? Gila ya? Pikir Nadira.
Dave memandangi setiap lekukan bagian wajah Nadira. Tidak cantik, hidungnya tidak mancung, dan bahkan dia tidak memiliki pipi tirus ataupun bola mata biru seperti gadis idamannya. Tapi entah kenapa, Dave sangat menyukai tipe wajah Nadira yang sederhana, natural, memiliki lesung pipi, hidung pesek, dan bola mata abu-abu. Itu terlihat ... menarik!
“Apa?” tanya Nadira saat Dave tak kunjung mengutarakan syaratnya.
Tubuh mereka kini sangat dekat seperti kue lapis, lengket!
“Kamu yakin, mau ngasih apa yang aku minta?” tanya Dave semakin membuat Nadira berpikir jauh.
“Kalo aku bisa, ya pasti aku kasih,” jawab Nadira polos.
Dave tertawa renyah. Nadira begitu polos dan sangat mudah di bohongi. Masa dia tidak tahu apa yang Dave maksud? Permintaan apa lagi yang diminta seorang suami kepada istrinya selain berhubungan intim? Tapi Nadira tak menyadari itu, dan Dave juga tidak meminta itu sekarang. Sadar kalau Nadira masih sekolah, ia tidak boleh merusak hidupnya.
Menikah dengannya saja, mungkin sudah cukup merusak kebahagiaan seorang Nadira Alfariza, ia tidak ingin meminta lebih.
“Kamu kenapa ketawa?” tanya Nadira heran dan bingung.
“Gak papa. Lututnya masih sakit?”
Nadira menggeleng. Memang masih perih, tapi sepertinya ia bisa berjalan sendiri ke kamar mandi, jaraknya tidak terlalu jauh ‘kan?
Dave segera bangun untuk berganti pakaian. Begitupun dengan Nadira, ia membersihkan tubuhnya yang sudah begitu lengket karena keringat. Rasanya seperti kena getah karet, bau dan lengket. Setelah selesai ia segera lari ke tempat tidur dan mempersiapkan diri untuk menjelajah mimpi.
“Kamu mau kemana?” tanya Nadira saat Dave mendekati tempat tidur.
“Mau tidur lah,”
“Jangan tidur disini, tidur disofa aja,”
Mungkin Nadira memang mau menganggap Dave sebagai suami, tapi hatinya masih enggan untuk tidur seranjang ataupun berhubungan lebih jauh dari itu. Pernikahannya sama sekali tidak dilandasi cinta, jadi ia tidak mungkin bisa dengan mudah menerima Dave sepenuh hati. Sementara hatinya masih tertaut pada sosok Reyhan, pacarnya.
“Mungkin hidupku sekarang gak karuan, gak bahagia, gak harmonis atau bahkan gak ada artinya. Tapi aku akan berusaha mengembalikan kehidupanku yang dulu, kehidupanku yang sederhana tapi bahagia, bersama orang-orang yang aku sayangi. Reyhan, maaf ya karena aku harus menjalin hubungan dengan orang lain tanpa sepengetahuan kamu. Aku janji, aku akan segera pisah dari dia dan kembali sama kamu.
Percaya sama aku, di hatiku cuma ada kamu. Dave hanya suami sementara, setelah aku lunasi hutang ayah, aku akan pisah dari dia. Aku janji sayang. Tunggu aku, ya!”
__ADS_1
Begitulah isi tulisan yang Nadira tulis pada sebuah buku diary miliknya. Satu-satunya harapan dan impiannya saat ini adalah berpisah dari Dave, suami yang ia nikahi tanpa cinta. Meski ia pun tak yakin bahwa ia bisa meninggalkan Dave, tapi ia harus berusaha untuk itu. Setidaknya usaha adalah hal yang bisa ia lakukan saat ini.