Pengantin SMA

Pengantin SMA
Rencana


__ADS_3

Sekitar jam enam pagi, datang seorang tukang yang akan membetulkan genteng. Aku lalu menjerang air dan membuatkan teh panas untuk tukang tersebut.


" Kok datangnya pagi-pagi sekali , Pak ?" tanya Juan pada Bapak itu. Karena kami belum persiapan apa-apa saat dia datang.


" Nanti Bapak harus pergi bekerja, jadi terpaksa datang pagi-pagi sekali ," jawabnya.


Tak lama Bapak itu pun naik ke atap rumah dan memperbaiki posisi genteng yang bergeser. Setelah selesai , Bapak itu langsung turun.


" Nanti kalau masih bocor , telepon saja Bapak ! "ujarnya sambil di ajak oleh Juan menikmati teh panas.


" Maaf , ya ,Pak . Hanya ada teh panas ," ucapku


" Nggak apa-apa mbak . Bapak juga sudah sarapan di rumah," kata Pak Tukang itu dengan ramah.


Tak lupa, Juan memberinya lembaran uang biru sebagai ongkos jasa saat dia berpamitan tak lama setelah sempat mengobrol.


Beruntung sinar matahari mulai menunjukan jati dirinya. Aku dan Juan segera mengeluarkan karpet dan menjemur di pagar. Kasur lipat , bantal , dan guling juga di jemur.


" Nanti malam , kita tidur pakai apa ya ?" tanyaku di sela-sela aktifitas Juan. Kalau sampai kasur belum kering, apalagi cuaca saat ini mendung lagi padahal baru saja ada matahari.


Juan memijat pelipisnya , dan terlihat gundah.


" Nonik, Juan , pakai saja ini dulu. Kemarin aku lihat barang-barang kalian basah semua sedangkan sekarang mendung," ucap Agus pada kami


Aku dan Juan melongo , saat tahu-tahu Agus sudah datang dengan membawa kasur gulung ke rumah kami.


" Makasi , Gus . Kami pinjam dulu ! " Tentu saja aku dan Juan tak menolak tawaran ini , karena saat ini kami sangat memerlukannya. Minimal , hingga kasur lipat kami kering dan dapat di pakai .


Sorenya sehabis membeli keperluan untuk berjualan , hujan turun lagi. Dan beruntung kami sudah sampai di rumah. Atapnya juga sudah tidak bocor . Ternyata tukang yang membetulkan genteng tadi pagi memang sungguh profesional.

__ADS_1


Tadi siang kami membeli kulkas , freezer , penanak nasi , piring , gelas, gerobak , meja dan juga kursi. Kulkas nantinya akan kami pakai untuk menyimpan sayur-sayuran . Sedangkan Freezer akan kami gunakan untuk menyimpan daging .


Kami juga membeli tenda , dan akan kami pakai untuk jualan.


Beruntung Nenek Ida memberikan uang pada Juan, jadi ada yang bisa kami pakai untuk modal usaha. Jika nanti kami sudah ada uang , kami akan mengembalikan uang Nenek Ida.


Dan jika nanti usaha kami sudah berjalan dengan lancar, kami ingin menabung untuk biaya sekolah kami .


" Juan , kemarin Randy berkali-kali menghubungiku dan juga menghubungi Agus. Dia menanyakan keadaan kalian, lalu aku bilang kalau kalian baik-baik saja, " tutur Tobi pada kami.


" Dia juga menghubungi nomerku . Dia bertanya padaku mengenai kepergianku dan Juan yang secara mendadak,"


" Lalu kamu bilang apa ? " tanya Agus dengan wajah penasaran .


" Aku bilang padanya , kalau aku dan Juan merasa tidak enak menginap di sana terlalu lama," jelasku


" Iya ,Nik. Soalnya dia meminta alamat kalian pada kami . Katanya ada yang ingin dia katakan pada kalian," kata Tobi


Aku dan Juan lalu saling bertatapan , kami bingung dengan apa yang akan Randy katakan pada kami.


" Aku tidak pernah marah pada Randy. Selama ini dia selalu baik padaku dan Juan . Kalau dia mau kesini ya aku tidak masalah sama sekali, " sahutku


" Lalu kapan kalian akan mulai membuka warung makan ?" tanya Tobi dengan alis mata terangkat.


" Lagi dua hari baru bisa mulai jualan. Soalnya masih banyak yang belum aku beli. Kita juga belum mencari karyawan ," terang Juan .


" Oh iya, aku punya tetangga yang kebetulan sedang mencari pekerjaan ,namanya Ayu . Ayu ini seumuran denganku , tapi dia putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai uang sekolahnya," tutur Tobi pada kami.


" Di belakang rumahku juga ada seorang Nenek yang bernama Nenek Wati. Kebetulan saat ini dia lagi mencari pekerjaan. Suaminya baru saja meninggal . Anak dan menantunya juga sudah lama meninggal karena sebuah kecelakaan. Rumahnya juga sangat jelek, dan hampir roboh. Sekarang dia hanya tinggal bersama cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas satu . Kalau orang tuaku pergi ke luar kota, mereka sering meminta tolong pada Nenek Wati untuk membersihkan rumah kami," tutur Agus pada kami

__ADS_1


" Kasihan sekali Nenek Wati, " balasku dengan raut wajah sedih. Membesarkan cucunya sendirian pasti sangatlah sulit. Kalau Ayu yang putus sekolah aku tidak terlalu kasihan padanya, soalnya dia masih muda. Kenapa dia tidak sekolah sambil bekerja saja ?


" Tempat makan kita nantinya akan buka sampai jam sebelas malam . Kalau memperkerjakan Nenek Wati dari sepulang kita bekerja sampai jam sebelas malam rasanya kasihan, soalnya dia sudah tua , jika terlalu kecapean nanti dia sakit. Lalu kasihan sama cucunya juga. Kalau Neneknya bekerja sampai malam ,lalu siapa yang menemani cucunya di rumah ? Dan siapa yang menemani dia belajar ? " tanya Juan seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Iya juga sih,apalagi Nenek Wati sudah tidak punya siapa-siapa lagi," sahut Agus seraya menatap Juan


" Tapi aku kasihan pada Nenek Wati ," balasku


" Begini saja, bagaimana kalau Nenek Wati kita suruh tinggal di sini bersama kita ? Nanti paginya kita suruh dia jualan ," kata Juan seraya tersenyum.


" Jualan apa ? Bukankah tempat makan kita mulai buka sore hari ? " tanyaku dengan bingung.


" Jualan nasi bungkus. Seperti yang di jual oleh Nenek Ami. Bukankah di sini tidak ada yang menjual nasi bungkus ? Nanti kita suruh dia bangun jam lima pagi untuk memasak. Tapi bumbunya kita sendiri yang buat pada malam hari lalu simpan di kulkas, agar besok paginya tidak terlalu buru-buru menyiapkan dagangan. Lalu kita suruh dia menjual nasi bungkus di teras depan. Sedangkan Ayu kita ajak berjualan pada sore hari hingga jam sebelas malam. Bagaimana menurutmu ? " tanya Juan padaku.


" Ide yang bagus itu," sahut Tobi yang baru saja datang dari kamar mandi.


" Baiklah , aku setuju," sahutku sambil tersenyum.


" Kalau begitu nanti kalian beritahu Nenek Wati dan juga Ayu mengenai hal ini," ucap Juan seraya menatap Tobi dan juga Agus.


" Ok ,entar aku beritahu. Aku yakin dia pasti sangat senang mendengarnya," kata Agus yang ikut tersenyum


Setelah membicarakan mengenai tempat makan yang akan kita buka, kami lalu belajar. Ketika tengah asyik belajar , tiba - tiba ada yang datang.


" Kira-kira siapa yang datang ya ? " tanya Tobi dengan raut wajah penasaran .


Aku lalu beranjak dari tempat dudukku dan menuju ke pintu utama. Ketika pintu utama sudah terbuka lebar, aku begitu terkejut karena ternyata yang datang ke rumahku adalah Randy.


Randy menatapku dengan raut wajah yang sangat sedih. Apa yang terjadi padanya ? Kenapa dia terlihat sangat sedih ?

__ADS_1


__ADS_2