Pengantin SMA

Pengantin SMA
Bocor


__ADS_3

Sorenya, setelah teman-temanku pulang , aku dan Juan bersih-bersih rumah. Rumah terasa lapang karena kami belum punya barang.


Kasur lipat yang kami beli segera aku buka. Kami membeli kasur ukuran satu meter. Single tapi lebih besar sedikit.


Rencana kasur itu hanya untuk cadangan kalau ada tamu menginap. Sementara untuk kami , tunggu sampai ada uang dulu . Kami rencananya akan menggunakan sisa uang yang di berikan oleh Nenek Ida untuk berjualan.


Setelah memasang seprei , sarung bantal , sarung guling , aku pergi ke dapur membantu Juan memasak , selesai memasak kami mandi lalu makan bersama.


" Sayang , rencananya aku mau jualan makanan di teras depan sepulang sekolah. Menurutmu bagaimana ? " tanya Juan


" Aku juga berpikir seperti itu. Apalagi di daerah sini sangat sulit mencari makanan. Memangnya kamu berniat ingin menjual apa ? " tanyaku seraya menatapnya.


" Ayam goreng , nasi goreng , mie goreng , ayam sayur , ayam bakar , sosis , kentang goreng, ayam geprek , dan berbagai jenis minuman," kata Juan yang bicara penuh semangat.


" Ide yang bagus . Tapi apa kita bisa melakukannya berdua saja ? " tanyaku dengan raut wajah bingung.


" Aku berniat ingin mencari satu karyawan dulu, kalau ramai baru nambah karyawan lagi. Bagaimana menurutmu ?" tanya Juan lagi seraya menatapku.


" Aku setuju," sahutku seraya tersenyum.


" Kalau begitu lebih baik kita tidur , besok pagi-pagi sekali kita harus pergi membeli keperluan untuk jualan. Mumpung besok hari minggu,"


" Kamu memang benar, kalau begitu ayo kita tidur ," balasku seraya beranjak dari tempat dudukku.


Aku dan Juan lalu pergi ke kamar dan merebahkan tubuh kami.


" Mimpi yang indah ya, sayang ." Seperti biasa Juan selalu mengecup kening dan bibirku sebelum tidur. Wajahku langsung bersemu merah di perlakukan seperti itu oleh Juan.


Jam 02 : 38 aku mendengar seperti sedang hujan , aku kira itu hanya mimpi. Namun tiba-tiba...


Tes...tes...tes...


Pipiku terkena tetesan air. Mataku mengerjap, sementara tanganku mengusap air yang mengenai pipi. Rasa kantuk membuatku malas sekedar bangun dari tidur. Hingga tiba-tiba, saat aku menarik selimut, nyes... ujung selimut terasa seperti basah.


Krupyuk...krupyuk...krupyuk...!

__ADS_1


" Ya Tuhan !" pekikku sambil terduduk.


Rupanya di luar memang benar sedang turun hujan deras. Dan di kamar kami, ada lubang dari atap yang membuat air masuk ke dalam kamar.


" Juan , bangun, Juan ! " kugoncang - goncang tubuh Juan .


Juan tidur seperti orang mati . Sama sekali sukar untuk di bangunkan. Padahal , air masuk ke dalam rumah dengan keras , dan sebentar lagi pasti akan banjir.


" Ya Tuhan ! " pekikku lagi. Saat kakiku hendak turun ke lantai, ternyata lantai telah basah. Air telah menggenang di sekitar kasur, dan sedikit demi sedikit kasur kami pun terasa basah , karena spon busanya menyerap air.


" Juan, bangun ! " ujarku seraya berdiri dan menyalakan lampu.


Astaga ! Air tak henti mengalir dari lubang yang ada di atap pojok kamar. Cukup besar, hingga seperti talang air yang mengalir masuk ke kamar.


" Juan ! Bangun ! " seruku


Ya Tuhan , bisa-bisanya dia tak bangun-bangun , padahal kasur kami saja hampir tenggelam. Air masuk ke dalam rumah . Tidak tinggi, hanya lima centi saja , tapi cukup membuatku panik.


" Ya Tuhan ! " pekik Juan tatkala dia merasa tubuhnya sudah ikut basah. Rambutnya berantakan , matanya memerah mengerjap di antara cahaya lampu.


Karpet yang ada di ruang tamu pun tergenang air karena di pojoknya juga ada lubang.


Lemas rasanya. Sudah tak punya kursi , lantai kami basah tergenang air. Mana kami tak punya perabot untuk mengeluarkan air dari dalam rumah.


Pintu depan dan pintu samping segera kita buka , agar aliran air mengalir ke luar. Padahal , di luar sama sekali tidak banjir. Hanya air dari saluran air di atap yang masuk semua ke dalam rumah, sehingga terjadi banjir lokal.


Aku dan Juan buru-buru mengambil sapu dan alat pel yang kami beli tadi siang. Mendorong air di dalam rumah keluar dengan alat pel dan sapu.


Tiba- tiba Agus dan Papanya datang .


" Bocor ya ,dek ? " tanya Om Aris yang datang dengan payung . Orang tua Agus dan orang tua Tobi sudah tahu mengenai pernikahanku dengan Juan, kemarin aku dan Juan yang memberitahunya . Kami terpaksa memberitahunya karena mereka bertanya apa hubunganku dan Juan , tapi kami sudah memintanya agar merahasiakan pernikahan kami.


" Iya nih ,Om," sahut Juan sambil menghalau air hujan itu keluar. Agus juga ikut membantuku menghalau air dengan alat seadaanya.


Sementara Om Aris mengamati lubang yang ada di atap.

__ADS_1


" Untuk sementara tampung pakai ember dulu . Tunggu sebentar , Om akan ambilkan . Kebetulan di rumah ada ember besar," ujar Om Aris.


Ternyata tak hanya di kamar, di ruang tengah juga ada lubang di atap, sehingga kami juga menampung dengan ember milik kami.


" Pakai ini biar lebih gampang," ujar Om Aris seraya memberikan sapu lidi pada Agus.


Hampir subuh kami baru selesai. Untungnya besok hari minggu.


" Nanti Om kasih nomer telpon tukang langganan Om. Dia bisa membetulkan genteng," kata Om Aris pada Juan.


Kami berterima kasih pada Om Aris dan Agus yang bersedia membantu kami, meskipun dini hari.


" Juan ? " panggilku saat Juan menutup pintu.


Kaki dan tanganku sudah keriput karena dingin. Selimut , kasur , bantal , guling dan karpet basah semua. Sementara kami tak punya kursi untuk sekedar duduk. Sungguh tragis !


Hujan masih turun . Bunyi air yang lewat lubang atap mengenai tampungan ember pun masih terdengar. Kami berdua hanya dapat berdiri .


" Tunggu ya , sayang. Aku akan pinjam kursi plastik milik Om Aris," ujar Juan padaku. Di teras rumah Agus memang ada kursi plastik yang di pakai untuk duduk - duduk.


" Biar aku saja yang pergi ke sana ," ucapku pada Juan.


" Kamu tunggu saja di sini , kamu baru saja sembuh , nanti kalau sakit lagi bagaimana ? " tanya Juan yang kemudian bergegas keluar.


Tak berselang lama Juan datang membawa kursi.


" Maaf , ya sayang," bisik Juan sambil menyuruhku duduk. Dia meminjam dua kursi plastik dan meletakkannya bersebelahan. Rasa kantuk membuatku menyandarkan kepalaku pada pundak Juan , sambil memandangi barang berharga yang kami miliki , masih baru , dan basah oleh air hujan.


" Sayang, kamu ngantuk ya ? " tanya Juan seraya mengusap kepalaku.


" Sedikit , kamu pasti mengantuk ya ? Apalagi kemarin kamu habis bergadang merawatku, " ucapku .


" Tidak kok, " jawabnya. Tapi aku sangat yakin kalau dia pasti mengantuk.


Aku memang sangat beruntung memiliki suami seperti Juan , walaupun kami menikah di usia yang sangat muda , tapi dia benar-benar bertanggung jawab, dan selalu menjagaku dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2