
" Jangan berani melawan. Kalau kau berani melawan maka kita akan membunuh temanmu ini," ancam pria gondrong dengan suara lantang. Dia mengarahkan pisau ke perut Agus. Aku menuruti keinginan mereka karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan sahabatku. Mana mungkin aku tega membiarkan sahabatku terluka.
"Cepat masuk ! " perintah mereka pada kami . Aku dan Agus lalu masuk ke mobil mereka , dan beberapa menit kemudian mobil yang di bawa oleh si keribo berhenti di tempat yang sangat sepi.
Mereka menyuruh kami turun di sana. Entah apa yang ingin mereka lakukan pada kami. Merasa geram dan ingin sekali menghajar mereka , tapi kalau aku melawan nanti Agus bisa terluka.
" Nonik, tolong selamatkan aku ! Aku tidak ingin mati," rengek Agus dengan raut wajah sedih dan ketakutan. Sahabatku itu dari dulu memang tidak menyukai ilmu bela diri. Jadi dalam keadaam seperti ini , dia sudah pasti tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Padahal belajar ilmu bela diri manfaatnya sangat banyak. Contohnya seperti sekarang ini, tapi dia sangat sulit sekali di ajak ikut.
" Tenanglah ! Kau tidak perlu takut. Biar aku yang menyelesaikan semuanya," ucapku yang berusaha meyakinkan sahabatku itu.
" Kau boleh membawaku, tapi tolong lepaskan temanku," ujarku pada mereka.
" Memang itu yang kami inginkan," kata si keriting sambil tertawa.
Dia menghampiriku dan mengikat kedua tanganku ke belakang. Saat ini aku tidak bisa berbuat apapun, karena mereka mengancam ingin membunuh Agus.Kenapa mereka mengikat tanganku ? Sedangkan Agus tidak . Apa yang ingin mereka lakukan padaku ?
" Kalian cambuk gadis itu hingga dia tidak bisa berdiri," ucap si keriting pada temannya.
__ADS_1
Kedua mataku membulat mendengarnya. Begitu pun dengan Agus. Seorang pria berkulit hitam mendekatiku sambil membawa ikat pinggang.
" Jangan lakukan itu. Jangan sakiti temanku," teriak Agus dengan begitu histeris sembari meneteskan air matanya.
" Jika kau tidak mengizinkan kita menyakiti gadis itu , maka aku akan membunuhmu. Mana yang akan kau pilih ? " tanya pria itu sembari tersenyum dengan licik. Agus langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan pria itu. Namun air matanya terus mengalir sambil menatapku.
Tiga menit kemudian ikat pinggang yang di pegang oleh pria tadi kini mulai melayang ke arahku. Tubuhku rasanya perih mendapatkan cambukan yang kasar dan sangat keras. Aku sama sekali tidak berteriak kesakitan. Aku tetap berdiri dengan tegak sambil menatap mereka dengan amarah yang menggebu- gebu.
" Ha...ha...ha...sebentar lagi wanita itu pasti akan mati," ucap mereka yang terus tertawa.
" Kau memang benar, setelah ini kita akan mendapatkan banyak uang ," balas si keribo sambil tertawa dengan sangat senang .
Mendapat cambukan seperti ini mengingatkan aku dengan masa kecilku yang selalu di cambuk oleh Bapakku. Berkat cambukan yang di berikan oleh Bapak, aku bisa menjadi wanita kuat seperti sekarang. Rasa sakit dari cambukan ini masih bisa aku tahan. Bagiku rasa sakit dari cambukan ini tidaklah seberapa di bandingkan dengan cambukan Bapak waktu dulu.
" Ha...ha...ha...cambuklah aku sepuas kalian ," balasku . Mereka langsung terdiam mendengar suara tawaku.
" Apa wanita ini gila ? Kita sudah mencambuknya berkali-kali , tapi dia malah tertawa," kata si keriting pada temannya.
" Lebih baik kita bawa wanita ke jurang,lalu kita buang di sana, " ucap si gendut sambil menatapku
__ADS_1
" Ide yang bagus. Kalau begitu bawa masuk wanita ini, " perintah si keribo yang langsung naik ke mobilnya.
Mereka menyuruhku masuk ke mobilnya sedangkan Agus di tinggalkan di sana. Berkali-kali aku mendengar teriakan Agus. Sahabatku itu terus menangis. Aku yakin dia pasti sangat takut dan khawatir.
" Nonik ? " teriak Agus sembari berusaha mengejar mobil yang sudah menjauh dari tempat tadi.
Mudah-mudahan Agus pulang ke rumahnya. Kalau dia mengikuti mobil ini maka aku akan kesulitan melawan penjahat ini . Di dalam mobil aku diam-diam berusaha membuka tali yang mengikat tanganku.
Tak berselang lama mobilnya berhenti di dekat jurang. Ternyata mereka memang ingin membunuhku. Kira-kira siapa yang menyuruh mereka melakukan semua ini ? Aku juga tidak memiliki musuh . Atau jangan-jangan mereka di suruh oleh Tante Riri dan Om Yuda ? Kalau memang benar ini perbuatan mereka , maka aku akan mencari mereka dan memberi mereka pelajaran.
" Cepat turun ! " perintah si keriting. Untung talinya sudah berhasil aku lepas, dan sekarang waktunya memberi pelajaran pada mereka. Ketika si keribo menarik tanganku, aku langsung menghajarnya. Tak sampai sepuluh menit , mereka semua telah berhasil aku kalahkan. Aku ikat mereka dengan tali agar mereka tidak kabur. Aku juga sudah menghubungi polisi , dan sekarang polisi sedang menuju kesini.
" Siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini ? " teriakku sambil menatap mereka dengan mata yang tajam. Sudah berkali-kali aku bertanya dan bahkan mengancamnya tapi mereka tetap tidak mau memberitahu siapa yang menyuruhnya melakukan semua ini.
Sambil menunggu polisi datang aku memeriksa semua ponsel penjahat itu satu-satu. Tiba-tiba ponsel si keribo berbunyi dan ternyata ada panggilan masuk dari nomer tanpa nama. Aku menggeser icon telepon yang berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk itu.
📞" Halo , bagaimana ? Apa semuanya sudah beres ? " tanya orang tersebut dari seberang telepon.
Ternyata dugaanku memang benar. Aku sangat mengenal pemilik suara ini.
__ADS_1
" Awas saja kalian ," gerutuku dalam hati dengan wajah merah padam .