
Sore harinya...
Mulai besok kami akan mulai berjualan. Sekarang aku dan Juan sedang menunggu kedatangan Nenek Wati . Mudahan-mudahan beliau mau tinggal di sini dan bekerja bersama kami.
Ketika baru saja selesai memasak, aku mendengar Agus datang bersama seorang Nenek dan anak kecil. Sepertinya dia adalah Nenek Wati dan cucunya. Aku lalu mempersilahkan mereka masuk dan duduk.
" Tunggu sebentar ya ,Nek. Aku ke dalam dulu ," ucapku seraya menatap mereka.
" Ya ,Non. " sahut Nenek Wati seraya menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Aku meninggal Nenek Wati yang saat ini sedang mengobrol dengan Agus.Aku masuk ke kamar ingin memanggil Juan. Dan aku lihat Juan baru saja selesai mandi.
" Juan, Nenek Wati sudah datang ," ucapku padanya.
" Ya sudah, ayo kita keluar," balas Juan seraya menggandeng tanganku.
Setelah sampai di ruang tamu, Juan tiba-tiba diam mematung sambil menatap Nenek Wati begitu lama. Aku merasa bingung kenapa Juan seperti itu. Apa dia mengenal Nenek Wati ?
" Juan, kenapa malah diam saja ? Ayo duduk," kataku seraya menarik tangannya.
" Den Juan ? " ujar Nenek Wati sembari menatap Juan.
" Nenek mengenal Juan ? " tanya Agus seraya menaikkan alisnya. Aku menduga kalau mereka sudah saling mengenal.
" Kami memang saling mengenal. Nenek Wati adalah pembantu di rumahku. Anak dan menantunya meninggal saat mengantar orang tuaku ke bandara," tutur Juan dengan raut wajah yang sedih. Sepertinya Juan terlihat sedih karena mengingat almarhum orang tuanya.
Aku genggam tangannya , agar dia tahu kalau saat ini dia tidak sendiri . Aku akan selalu menemaninya.
__ADS_1
" Yang di katakan oleh Den Juan memang benar. Nenek dulu memang bekerja di rumah almarhum orang tua Den Juan," sahut Nenek Wati
"Dulu ? Maksud Nenek apa ? Bukankah Nenek masih mengurus rumah almarhum kedua orang tuaku ? " tanya Juan seraya menaikkan sebelah alisnya.
Nenek Wati menghela nafas lalu menatap Juan. "Semenjak Ibu dan Bapak meninggal, Nenek di suruh berhenti bekerja di sana oleh Bu Riri. Bahkan dia juga tidak memberikan sisa gajih Nenek," tutur Nenek Wati sambil menunduk. Wajahya terlihat begitu sedih.
Kedua mata Juan terbelalak lebar mendengar ucapan Nenek Wati. Aku bingung kenapa Juan terlihat begitu terkejut.
" Tapi dulu aku sendiri yang menyuruh Tante Riri agar terus memperkerjakan Nenek di sana. Aku juga menyuruh Tante Riri agar memberikan biaya hidup untuk cucu Nenek," ucap Juan dengan tegas.
" Sehari setelah Den Juan di bawa ke rumah Nenek Ida, Bu Riri datang dan menyuruh kami pergi dari rumah itu. Dia bilang usaha Bapak dan Ibu telah bangkrut , jadi dia tidak bisa memperkerjakan Nenek lagi. Dia juga marah-marah pada Nenek , dia bilang karena alharhum anak Nenek kecelakaan itu terjadi. Padahal polisi sudah mengatakan kalau mereka meninggal karena mobilnya di tabrak oleh sebuah truk," tutur Nenek Wati seraya meneteskan air mata. Aku yakin dia pasti sangat sedih karena kehilangan anak dan menantunya.
Dulu aku pernah mendengar dari Nenek Ida kalau orang tua Juan meninggal karena di tabrak oleh sebuah truk yang remnya blong.
Tante Riri memang sangar keterlaluan . Dia tega sekali pada orang miskin seperti Nenek Wati dan cucunya. Bahkan gajih dan biaya hidup untuk cucu Nenek Wati juga tidak di berikan.
" Maaf ,Nek. Aku sama sekali tidak tahu mengenai semua itu. Perusahaan orang tuaku juga tidak bangkrut ," ungkap Juan dengan raut wajah yang merasa bersalah. Aku yakin Juan pasti merasa bersalah pada cucu Nenek Wati.
Juan lalu menceritakan semua yang terjadi selama ini. Dia juga menceritakan kalau aku adalah istrinya. Wajah Nenek Wati tampak terkejut mendengar cerita dari Juan . Bahkan air mata Nenek Wati sampai menetes mendengarnya.
Bahkan Nenek Wati yang hanya mantan pembantu Juan masih memiliki hati dan perasaan , sedangkan Tante Riri dan Om Yuda sama sekali tidak memiliki hati. Bahkan tega ingin membunuh Juan hanya karena sebuah harta.
" Ya ,Tuhan. Mereka sangat jahat sekali. Bahkan mereka tega ingin membunuh keponakannya sendiri. Padahal selama ini Bapak dan Ibu begitu baik pada mereka. Nenek sangat tahu betul bagaimana sifat Den Juan. Nenek sudah merawat Den Juan dari baru lahir, jadi Nenek sangat menyayangi Den Juan," terang Nenek Wati seraya meneteskan air matanya.
" Aku juga tidak menyangka kalau mereka begitu jahat. Oh iya ,Nek, apa Nenek mau bekerja di sini ? Sekalian juga Nenek tinggal di sini bersama kami. Aku sudah menganggap Nenek seperti Nenekku sendiri. Nanti biar aku yang membiayai uang sekolah cucu Nenek. Aku akan berusaha membiayainya. Kita berjuang sama-sama di sini," terang Juan seraya menatap Nenek Wati
" Iya ,Nek. Tinggalah di sini bersama kami," bujukku seraya menggenggam tangannya.
__ADS_1
Nenek Wati lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah kami.
○○○○○○○○○○○○○○
Pov Riri.
" Kak, lalu apa yang harus kita lakukan ? Rencana kita selalu digagalkan oleh Ibu," ucap Riri pada Yuda.
" Aku juga bingung. Akhir-akhir ini rencana kita selalu di gagalkan oleh Ibu. Sepertinya kita harus lebih berhati-hati pada Ibu," sahut Kak Yuda yang saat ini sedang mencari cara agar bisa membunuh Juan.
" Kak, bagaimana kalau kita culik Nonik ? Bukankah Juan sangat mencintai gadis itu ? " tanyaku seraya menatap Kak Yuda.
" Kamu pintar juga. Tapi lebih baik kita bunuh saja dia. Kalau Nonik mati maka hidup Juan pasti akan hancur dan tidak memiliki semangat hidup," terang Kak Yuda seraya tersenyum dengan begitu licik.
" Kakak benar. Setelah itu baru kita bunuh Juan," balasku sambil tertawa.
Aku sangat yakin kalau rencana kami kali ini pasti akan berhasil. Dan aku sudah tidak sabar ingin memiliki harta kekayaan Juan. Apalagi saat ini usaha suamiku sudah bangkrut . Setiap hari suamiku itu selalu pulang dalam keadaan mabuk . Bahkan dia selalu marah-marah padaku.
" Riri, apa suamimu masih memukulmu ? " tanya Kak Yuda seraya menatapku dengan tajam.
" Masih ,Kak," sahutku seraya menganggukan kepalaku.
Aku lihat Kak Yuda menghela nafas dengan kasar." Lebih baik kamu cerai dengannya. Buat apa memiliki suami yang seperti itu . Aku tidak suka adikku di pukul terus ," kata Kak Yuda
" Aku tidak mau bercerai dengannya ,Kak. Aku sangat mencintainya," sahutku menunduk.
" Kakak capek memberitahumu. Kamu memang keras kepala ," gerutu Kak Yuda dengan raut wajah yang merah padam.
__ADS_1
Kak Yuda memang sudah berkali-kali memintaku agar bercerai ,tapi aku masih sangat mencintai suamiku itu.
Bahkan yang aku dengar, suamiku saat ini berselingkuh , tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Aku sangat mencintainya , bahkan aku rela di madu asalkan dia tidak menceraikanku.