Pengantin SMA

Pengantin SMA
Gadis Bermasalah


__ADS_3

Mobil Dave berhenti dengan sempurna tak jauh dari gerbang sekolah. Seperti biasa, Nadira memintanya agar tidak parkir terlalu dekat dengan gerbang sekolah, agar tidak kelihatan murid lain.


Nadira tampak kesusahan saat ingin membuka seat belt, berulang kali ia mengutak-atik benda itu tapi tidak terbuka juga. Melihat sang istri kesulitan, akhirnya Dave turun tangan untuk membantu. Gerakan tiba-tiba dari Dave membuat Nadira sempat terkejut, wajahnya kini terlihat begitu dekat dengan wajah Dave. Jujur, ini pertama kalinya Nadira melihat wajah tampan Dave sedekat ini. Ah, ya Tuhan. kenapa ia baru menyadarinya sekarang?


Dave ikut menatap Nadira saat gadis itu tak kunjung melepas tatapannya. Kenapa? Ada yang salah? Pikir Dave.


“Kenapa?” tanya Dave heran.


“Tampan,” ucap Nadira tanpa ia sadari.


Ya, kata 'tampan' keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ia kendalikan. Mungkinkah ia telah terpesona oleh ketampanan seorang Dave Gavin Mahardika?


“Apa?”


Nadira tersentak, sesaat kemudian ia sadar dan langsung membuka pintu mobil untuk keluar. Tapi Dave segera menarik tangannya hingga Nadira kembali ke posisi semua dengan pipi yang berubah merah karena malu saat menyadari apa yang ia lakukan tadi.


“Kamu bilang aku tampan?” Dave meminta penjelasan.


Duh, gimana ni? Aku harus bilang apa? Lagian kenapa aku bisa keceplosan segala, sih?! Dave jadi nagih kan. Rutuk Nadira kesal. Tak di sangka, satu kata yang ia ucapkan tadi mampu membuat Dave senyum sumringah sambil menatapnya intens.


“Ng—nggak, kamu salah dengar,” elak Nadira.


“Jangan bohong, aku dengar dengan jelas tadi kamu bilang kalau aku ini tampan. Iya kan?”


“Nggak, Dave. Kamu salah dengar,”


“Oke, kalau gitu kamu juga cantik,” ucap Dave yang malah membuat pipi Nadira semakin merah bak udang rebus.


Cepat-cepat Nadira menepis tangan Dave yang masih memegang tangannya. Ia segera keluar dari mobil meninggalkan Dave yang tertawa puas melihat sang istri ketahuan malu. Kenapa malu? Jujur aja kenapa sih?!

__ADS_1


Setelah memastikan Nadira masuk ke dalam gerbang sekolah, Dave pun segera tancap gas. Ia harus segera ke kantor untuk pergi ke Padang bersama Sam.


Sampai di kantor, Dave melihat mobil sudah disiapkan oleh Sam penuh dengan barang-barang keperluan mereka untuk menginap selama beberapa hari di Padang.


“Gimana, Sam? Udah siap?” tanya Dave basa-basi.


“Udah, yuk berangkat!”


Perjalanan dari kota Rengat menuju Padang cukup memakan waktu juga. 5 Jam berada di mobil membuat Dave lelah. Dan akhirnya mereka tiba juga di salah satu penginapan di Padang. Tempatnya terlihat tua, tapi itu memang desain nya yang menerapkan konsep tradisional.


Penginapan kayu dengan dinding papan itu memiliki hiasan dinding khas kota Padang. Arsitekturnya juga, ada lukisan minang, rumah adat dan jam gadang. Bicara soal jam gadang, ternyata penginapan mereka tidak jauh dari objek wisata itu. Dari kamar Dave di lantai 4, ia bisa melihat keindahan jam gadang yang di kunjungi banyak orang. Hanya sekitar 1 km dari penginapan kira-kira.


Sementara itu, Nadira yang baru saja duduk di meja kantin tampak di hampiri oleh Riana, adik Dave ya g juga adik iparnya.


Riana duduk di sebrang meja, berhadapan langsung dengan Nadira. Riana tak sendiri, ada Erika bersamanya. Teman sekaligus best friend nya. Tidak banyak yang dilakukan Riana, ia hanya menatap intens pada Nadira yang sedang melahap batagor goreng ibu kantin. Merasa risih dengan tatapan Riana, Nadira pun memilih pindah tempat duduk.


Namun dengan jahilnya, Riana menjegal kaki Nadira hingga gadis itu jatuh tersungkur ke lantai. sepiring batagor yang ia bawa tumpah ke lantai, sebagian kuah kacangnya jatuh mengotori baju seragamnya. Sementara Riana dan Erika hanya tertawa senang.


Riana bangkit dari duduknya dan mendekati Nadira yang masih tersungkur di lantai. Gadis itu mencengkram dagu Nadira dengan kuat. Matanya melotot menandakan ia tidak suka pada gadis itu.


“Lo denger ya, selama lo masih jadi istri kak Dave, gue gak akan pernah biarin lo hidup bahagia, gue akan selalu bikin lo menderita!” bisik Riana di telinga Nadira.


Tentu saja Erika tidak mendengar, karena Riana tidak mau Erika tau kalau Nadira adalah kakak iparnya. Untuk itu Riana bicara dengan cara berbisik.


“Kenapa? Kenapa kamu mau buat aku menderita? Apa salah aku?”


Riana mendorong bahu Nadira hingga kepala gadis itu membentur kaki meja.


“Ya jelas lah karena gue benci sama lo, lo itu udah jadi benalu dalam hidup gue! Dan sekarang? Lo dengan seenak jidat masuk ke kehidupan kakak gue, lo pikir lo siapa?!” bentak Riana kesal. “Lo udah punya Reyhan, tapi masih aja mau nikah sama Kakak gue, dasar perempuan gak tau malu!”

__ADS_1


Sakit rasanya mendengar ucapan itu, Nadira menangis dalam diam. Dia makin tersiksa saat menjadi istri seorang Dave, kalau tau begini akhirnya. Ia lebih memilih untuk tidak menikah, menikah hanya akan membuatnya semakin hancur dan terpuruk.


Sebelum menikah dengan Dave, Riana memang sudah membencinya, tapi tidak sedalam ini sampai-sampai ia tega mempermalukan Nadira di depan semua orang. Riana membuat orang-orang berkumpul mengerubungi mereka, melihat Nadira yang tampak menyedihkan di lantai.


Untunglah Reyhan segera datang dan menarik Nadira dari keramaian.


“Nad, kamu kenapa? Ayo ikut aku,”


“Urusan kita belum selesai, perempuan murahan!” ucap Riana di telinga Nadira sebelum ia pergi.


Nadira hanya bisa diam sambil tangannya di tarik oleh Reyhan. Kekasihnya ini memang selalu datang tepat waktu.


Reyhan membawanya ke ruang UKS untuk mengobati lutut Nadira yang membiru. Reyhan dengan sabar mengobati lembab Nadira dengan obat yang tersedia di UKS. Air mata Nadira terus mengalir mengingat kejadian tadi. Apa salah jika ia harus menikah dengan Dave? Ia tidak mau menikah dengan Dave, tapi inilah takdir hidup yang harus ia jalani. ia tidak bisa melawan.


Reyhan mengusap pipi Nadira dengan perlahan. Ia tau gadisnya itu sedang sedih.


“Hey, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya ilang,” kata Reyhan sambil menyeka air mata Nadira.


“Kenapa, Rey? Kenapa kamu mau sama aku? Aku ini banyak masalah, aku gadis bermasalah,”


“Dengar, aku mau sama kamu karena aku cinta sama kamu. Aku gak peduli masalah kamu sebanyak apa, aku akan selalu disisi kamu. Nemenin kamu untuk melewati masalah terberat dihidup kamu,”


“Tapi ... ”


“Tapi apa?”


'Tapi aku udah nikah sama, Reyhan. Apa kamu masih mau nerima aku kalau tau aku udah nikah?' pertanyaan itu hanya mampu keluar di batin Nadira saja tanpa berani ia ungkapan kepada Reyhan.


ia terlalu takut jika Reyhan tau status nya, lelaki itu akan membencinya. Jalan. hidupnya terlalu rumit untuk di jelaskan. Akankah Reyhan bertahan dengan Nadira? Entahlah, hanya Tuhan yang tau.

__ADS_1


“Tapi apa?” tanya Reyhan mengulangi pertanyaannya.


“Bukan apa-apa,” jawab Nadira dengan senyum simpul mengakhiri percakapan mereka.


__ADS_2