
Pov Randy.
'NONIK.' Dari kecil namanya selalu tersimpan di hatiku. Dia adalah gadis yang sangat cantik bagiku. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, rambutnya panjang dan hitam. Dia adalah gadis yang sangat mandiri. Kecantikannya selalu menarik perhatianku, dan keperibadiannya selalu mencuri hatiku. Apapun yang dia pakai, dia tetap terlihat cantik. Walaupun dia tidak pernah memakai pakaian yang bagus, tapi wajahnya tetap terlihat cantik. Wanita yang seperti itulah yang aku impikan selama ini. Dan di luaran sana sangat sulit menemukan seorang wanita yang seperti itu.
Selama ini aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Selama ini dia selalu ada di hati dan pikiranku. Tapi wajah yang cantik itu menyimpan begitu banyak penderitaan. Karena rumah kami berdekatan jadi aku mengetahui bagaimana kehidupannya. Tubuhnya yang putih itu hampir setiap hari dipenuhi dengan luka cambukan.
Hampir setiap hari aku mendengar dia di cambuk oleh Ayahnya. Setiap aku ingin menolongnya ibu selalu melarangku. Rasanya hatiku begitu sakit mendengar orang yang aku cintai berteriak kesakitan. Aku tidak kuat melihatnya menderita seperti itu , tapi aku juga merasa bingung harus melakukan apa agar bisa menolongnya.
Setiap hari aku selalu mengintipnya dari atas pohon. Dan kadang kalau dia sedang membersihkan rumahnya, aku sering mengganggunya. Bahkan aku hampir setiap hari mengganggunya. Semua itu aku lakukan cuma karena ingin mencari perhatiannya.
Ketika aku tahu kalau Nonik ikut club karate, aku pun juga ikut agar bisa selalu dekat dengannya.
Selama ini aku memang tidak pernah satu sekolah dengannya , itu karena Ibu melarangku dekat-dekat dengan Nonik.
Walaupun begitu, setiap sepulang sekolah aku selalu menunggunya di depan rumahku. Dan itu aku lakukan hanya ingin melihat wajahnya dan ingin memastikan kalau dia sudah pulang dengan selamat.
Dari kecil dia tidak pernah mau dekat-dekat denganku. Mungkin karena aku sering mengganggunya. Ditambah lagi teman-teman yang ada di dekat rumah kami sering mengejeknya, dan bahkan mereka sering melempar-lempar tas milik Nonik.
Dulu aku memang sering mengganggunya, tapi aku tidak pernah melakukan hal-hal yang berlebihan seperti temanku.
Di tempat kami berlatih ilmu bela diri, aku selalu berusaha mendekatinya , tapi dia selalu menjauh dariku. Aku terus berusaha mencari cara agar bisa mendekatinya, tapi usahaku gagal .
__ADS_1
Sudah berbagai cara aku lakukan agar bisa dekat dengannya, namun semuanya gagal terus.
Setelah selesai berlatih karate aku sering memberikan dia sebotol air mineral padanya , tapi dia tidak pernah mau menerima pemberianku. Tapi aku tidak menyerah begitu saja , besoknya aku terus melakukan itu walau dia terus menolaknya.
Saat akan pulang dari berlatih karate , aku juga selalu menawarinya tumpangan ,namun dia tidak pernah mau pulang denganku. Dia lebih memilih berjalan kaki.
Tapi aku tidak pernah meninggalkannya begitu saja, aku selalu mengikutinya dari belakang hingga dia masuk ke dalam rumahnya.
Aku juga pernah menaruh surat di dalam tasnya, tapi dia tidak pernah mau membacanya . Dia selalu membuang suratku itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
Hingga akhirnya saat Nonik pulang sekolah, dia kehujanan lalu terpeleset . Aku yang melihat hal itu langsung menghampirinya dan membantunya.
Semenjak kejadian itu dia jadi mau bicara padaku. Hanya saja tidak terlalu dekat ,karena dia masih menjaga jarak dariku. Alasan dia melakukan itu karena dia takut Kakak dan orangtuanya tahu kami berteman . Kalau mereka tahu pasti mereka akan mengira kami pacaran lalu memukulnya.
Selang beberapa bulan , saat aku mencari buah mangga , aku tidak sengaja mendengar percakapan Bapak Nonik dan Ibunya.
Aku mendengar kalau mereka berencana ingin menikahkan Nonik dengan seorang Kakek-kakek. Aku begitu terkejut mendengar hal itu.
Aku tidak ingin gadis secantik Nonik menikah dengan seorang Kakek-kakek. Masa depan Nonik pasti akan hancur setelah itu. Setelah mendengar percakapan kedua orang tua Nonik , setiap hari aku tidak pernah bisa berkonsentrasi melakukan apapun. Bahkan aku juga sulit memejamkan mata.
Aku terus mencari solusi agar bisa menggagalkan rencana orang tua Nonik, tapi aku tidak menemukan solusi sedikitpun. Hingga akhirnya aku berpikir ingin menikahi Nonik dan memberikan uang yang lebih banyak pada orang tua Nonik. Aku yakin kalau aku memberi uang yang lebih banyak dari uang yang di berikan oleh Kakek Jaya , maka mereka pasti akan langsung setuju. Aku lalu membuka celenganku , tapi di dalam celenganku hanya ada uang sedikit.
__ADS_1
Aku lalu pergi mencari kerja. Saat aku mencari kerja Kakek dan Nenekku menawarkan pekerjaan untukku. Aku lalu bekerja di tempat Nenekku sendiri.
Aku memberi alasan pada mereka kalau aku sedang membutuhkan uang untuk membeli sesuatu. Jika uangnya sudah terkumpul dengan cukup aku baru akan memberitahu semuanya pada Kakek dan Nenekku. Tapi waktu itu aku tidak berniat ingin memberitahu Ibuku , karena aku yakin kalau dia tidak akan setuju rencanaku ini.
Sepulang sekolah aku pergi ke tempat Nenekku untuk bekerja hingga malam. Cuma itu yang bisa aku lakukan saat itu, karena aku bukanlah anak orang kaya. Alasan mereka menikahkan Nonik karena sebuah uang. Mereka ingin memiliki usaha sendiri , jadi dia menikahkan putrinya demi sebuah uang.
Saat itu aku berusaha mencari uang dan mengumpulkannya demi Nonik. Apapun akan aku lakukan demi dia. Saat uangku sudah terkumpul, aku berniat menemui orang tua Nonik nanti malam. Saat aku memanjat pohon karena ingin melihat wajah Nonik, aku malah melihat pemandangan yang sangat mengejutkanku. Nonik telah menikah dengan seorang pria yang juga seumuran dengan kami. Aku terlambat , dan semuanya telah gagal.
Hatiku begitu hancur melihat semua itu. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa pria itu kekasih Nonik ? Apa selama ini Nonik memiliki seorang kekasih dan aku tidak mengetahuinya ?
Aku tatap wajah Nonik dari atas pohon. Dia begitu cantik menggunakan pakaian pengantin . Aku lihat pria itu sepertinya adalah orang kaya. Aku yakin Nonik pasti akan bahagia bersama pria itu dari pada denganku. Karena aku hanya seorang pria miskin.
Saat itu aku berusaha mengikhlaskan Nonik. Namun namanya tidak pernah aku hapus dari pikiran dan hatiku.
Hari-hariku hanya aku habiskan untuk memandang photo Nonik yang diam- diam aku ambil saat dia membersihkan rumahnya. Semenjak Nonik menikah, dia pindah club karate. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya lagi .
Hingga beberapa bulan kemudian saat aku habis mengantar adikku les, aku tidak sengaja melihatnya di jalan. Aku begitu bahagia walau hanya melihat wajahnya saja.
Aku lihat dia sedang menghubungi seseorang sembari meneteskan air matanya. Melihat air mata yang membasahi pipinya, aku begitu khawatir dengannya. Aku lalu menghentikan motorku di depannya dan menghampirinya. Aku mengobrol banyak dengannya.
Setelah mendengar ceritanya , di situ aku tahu kalau dia sedang ada masalah dengan Tante dari suaminya. Walau aku tidak bisa memilikinya, tapi aku tidak akan membiarkan Nonik bersedih dan menderita. Aku akan membuat dia bahagia walau dia sudah menjadi milik orang lain.
__ADS_1