
Pov Juan
Padahal mataku terasa begitu mengantuk , tapi aku paksakan untuk membukanya karena hari ini aku harus pergi bekerja. Dulu saat masih di rumah Nenek , setiap hari minggu aku biasanya bangun siang hari , dan setelah itu tidur lagi , tapi sekarang aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk pergi bekerja. Aku sengaja mengambil kerja tambahan di hari minggu agar aku bisa mendapatkan sedikit gajih tambahan, karena saat ini hanya aku yang bekerja. Aku harus bisa menjadi suami yang baik untuk Nonik.
Aku beranjak dari tempat tidurku dengan langkah sempoyongan menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan sekedar mengelap tubuhku.
Setelah itu aku pergi ke dapur karena ingin membuat sarapan untuk Nonik. Namun saat ingin mengambil beras ternyata stok beras sudah habis. Dan aku lihat semua stok bahan makanan telah habis.
Aku menghela nafas panjang sambil terus berpikir. Aku bingung harus melakukan apa saat ini. Uangku juga tinggal tujuh ribu dan itupun uang recehan semua ,sedangkan hari ini aku akan meninggalkan Nonik bekerja hingga jam 23 : 10 .
Diam-diam aku memeriksa dompet Nonik , aku ingin memastikan apakah dia memiliki uang untuk membeli makanan atau tidak , namun ternyata dompetnya kosong.
Aku terus mencari solusi. Ingin menjual jam tangan pemberian almarhum orang tuaku , tapi sepagi ini toko jam tangan pasti belum buka. Akhirnya aku putuskan pergi ke warung depan kosanku. Aku membeli nasi putih lima ribu dan telur satu butir dengan harga dua ribu. Dan untung uangku tidak kurang.
Jujur , baru kali ini uang recehan sangat berarti untukku. Dulu saat aku bersama Nenek uang recehan selalu aku biarkan begitu saja di laci. Ternyata selama ini hidupku begitu boros dan tidak pernah merasa bersyukur. Tapi dari sini aku bisa belajar tentang hidup yang sebenarnya.
Dengan langkah yang terburu-buru aku lalu membuat nasi goreng untuk Nonik. Nasi putih yang tadi aku beli hanya bisa untuk satu porsi nasi goreng. Aku tidak masalah kalau hari ini aku tidak makan , tapi asalkan Nonik bisa makan . Karena dari yang aku baca di google, wanita yang sedang datang bulan begitu mudah merasa lapar , jadi Nonik harus makan hari ini.
Sebelum berangkat kerja aku tatap wajah Nonik begitu lama lalu aku cium kening gadis itu . Aku begitu mencintainya dan mudah-mudahan tidak ada yang mengganggu hubungan kami nantinya.
Di tempat kerja , saat jam istirahat perutku begitu lapar , namun aku tahan rasa lapar itu . Setelah itu aku minum begitu banyak air putih hingga rasa lapar itu sedikit berkurang. Aku terpaksa tidak makan saat jam istirahat agar jatah makananku bisa aku bawa pulang. Hari ini aku mendapatkan dua jatah makanan karena bekerja dua shif.
" Juan , apakah jaketnya sudah kamu bawa ? " tanya Kak Aris. Kemarin aku menawarkan jaket brandedku ke pada Kak Aris dan yang lainnya. Dulu jaket itu aku beli seharga enam ratus ribu, dan kebetulan Hang tag yang ada di jaket itu juga belum aku lepas, jadi mereka percaya kalau jaket itu belum pernah aku pakai. Aku terpaksa menjual jaket itu karena ada buku yang harus kami beli di sekolah, dan sisanya akan aku pakai untuk makan sehari-hari. Karena tidak mungkin aku membiarkan Nonik kelaparan terus menerus, dan tanggal gajihanku juga masih sangat lama .
__ADS_1
" Sudah kok ,Kak ," jawabku sambil menatapnya
" Tapi aku hanya bisa membayar jaketmu itu seharga empat ratus ribu. Bagaimana, mau tidak ? Kebetulan aku suka dengan jaket itu," ucap Kak Aris sambil duduk di sampingku.
" Ya Kak , aku mau. Kebetulan aku kurang menyukai jaket itu ," jawabku berbohong.
Saat aku melayani tamu , aku tidak sengaja melihat Tante Riri datang dan menghampiriku.
" Juan , ayo ke ruangan Tante sebentar. Ada yang ingin Tante bicarakan ," perintah Tante Riri padaku.
" Iya ,Tante," sahutku seraya menunduk. Teman-teman di tempat kerjaku tidak ada yang tahu kalau aku adalah keponakan dari Tante Riri. Aku sengaja menyuruh Tante Riri merahasiakan identitasku , agar senior dan atasanku tidak membeda- bedakan aku dengan teman yang lainnya. Kalau mereka tahu aku keponakan Tante Riri dan kalau mereka tahu restoran ini milik Papaku maka senior dan atasanku pasti membedakan aku dengan temanku yang lain. Untuk saat ini Tante Riri yang mengurus perusahaan almarhum Papaku hingga aku duduk di bangku kuliah.
Aku lalu berjalan menuju ke ruangan Tante Riri. Setelah sampai di depan pintu ruangan Tante Riri , aku lalu mengetuk pintu ruangan itu.
" Tok...tok...tok..."
" Juan , kenapa wajahmu pucat sekali ? Apa kamu sakit ? tanya Tante Riri sambil menatapku begitu lama.
" Tidak , Tante. Aku hanya sedikit capek saja ," balasku menunduk.
" Juan , kembalilah ke rumah. Tidak usah kamu pikirkan ucapan Om Yuda. Tante tidak tega melihatmu seperti ini ," kata Tante Riri.
" Maaf ,Tante. Aku tidak mau pulang ke rumah. Kalau aku kembali ke rumah maka Om Yuda akan melaporkan pernikahanku dengan Nonik. Aku tidak mau berpisah dengan Nonik," terangku
__ADS_1
" Ini salah Tante. Seharusnya kemarin Tante tidak mengusulkan ide seperti itu padamu. Sekarang malah seperti ini jadinya . Tidak bisakah kamu menceraikan Nonik ? Tante mohon, tolong ceraikan Nonik ? Tante tidak tega melihatmu seperti ini," ujar Tante Riri seraya memohon padaku.
"Maaf ,Tante. Untuk kali ini aku tidak bisa menuruti ucapan Tante. Aku begitu mencintai Nonik. Apapun akan aku lakukan untuknya ," sahutku sambil menatap Tante Riri .
Aku lihat Tante Riri menghela nafas panjang mendengarkan semuanya.
" Kalau begitu ambillah kartu ini. Almarhum orang tuamu memiliki banyak perusahaan , jadi tidak sepantasnya kamu melakukan pekerjaan seperti ini," terang Tante Riri sambil menyodorkan kartu black card padaku.
" Maaf , Tante. Aku tidak mau menerimanya. Aku tidak ingin terkena masalah. Karena aku yakin kalau Om Yuda pasti mengawasi semua keuangan yang ada di perusahaan almarhum Papa," balasku.
" Kamu memang keras kepala. Sifatmu ini begitu mirib dengan sifat almarhum Mamamu," terang Tante Riri
" Tante, bolehkah Nonik bekerja di sini juga ? " tanyaku
" Boleh. Kalau begitu kamu ajak saja dia ke sini besok,"
" Beneran ,Tante ? " tanyaku yang masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Iya tentu benar dong. Kamu kira Tante berbohong ? "
" Terima kasih ,Tante . Kalau tidak ada yang ingin Tante katakan lagi , maka aku akan kembali bekerja."
" Ya sama-sama," balas Tante Riri sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan Tante Riri , aku terus tersenyum sambil membayangkan pergi dan pulang kerja bersama Nonik nantinya. Aku yakin kalau Nonik pasti akan sangat senang mendengar semuanya. Apalagi dia sudah mencari pekerjaan kemana- mana tetapi belum mendapatkan juga.
Bekerja dari pagi hingga jam 23 : 10 tanpa makan apapun ternyata membuat tubuhku menjadi begitu lemas. Tapi aku harus tetap semangat demi Nonik. Saat ini aku sudah memiliki seorang istri jadi aku tidak boleh lemah.