
Pagi tiba. Dave masih tidur di sofa yang tersedia di kamarnya. Sedangkan Nadira tidur di atas tempat tidur, sendirian. Dave tidak keberatan jika harus tidur di sofa, karena ia sudah terbiasa. Di kantor juga ia akan tidur di sofa jika lembur, jadi ini bukan hal baru baginya.
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita berusia sekitar 20 sampai 25 tahunan dengan pakaian hitam putih khas pelayan rumahnya. Ia membawa kopi susu kesukaan Dave. Pelayan itu tampak kaget saat melihat Dave tidur di sofa, apa Dave dan Nadira sedang bertengkar? Pikirnya.
“Mas, Mas Dave kok tidur disini? Mas? Bangun,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dave.
Dave merasa terusik dan perlahan membuka matanya. Masih dalam keadaan setengah sadar, Dave duduk di sofa sambil mengucek mata.
“Mas Dave kenapa tidur di sofa?” tanya si mbak lagi.
“Ah, udah pagi ya, Mbak,” ujar Dave tanpa menjawab pertanyaan si mbak.
“Ini, saya bawakan kopi yang biasanya,” katanya kemudian sambil menyodorkan segelas kopi susu penuh creamy foam kesukaan Dave.
Dave menerimanya dan menyeruput minuman hangat itu. Si mbak sempat berpikir apakah Dave dan Nadira sedang ada masalah?
“Mas, saya dari tadi nanya lho, kenapa Mas Dave tidur di sofa?” ucap mbak itu mengulangi pertanyaan yang belum mendapat jawaban.
Dave meletakkan kopinya di atas meja didekat sofanya. Ia tersenyum lalu berkata, “Gak papa, Mbak. Nadira belum siap aja nerima saya sebagai suaminya,” jelas Dave.
“Ya, memang sih, untuk mbak Nadira yang usianya masih sangat muda pasti merasa aneh kalau harus punya suami dan tidur seranjang,” gumam mbak yang diketahui bernama Anna.
“Gak papa, Mbak. Saya yakin kok, nanti Nadira akan terbiasa dan bisa nerima saya pelan-pelan,”
Dave berdiri sambil kembali menyeruput kopinya. Cowok itu memakai baju kaos putih dengan celana boxer berwarna senada. Kulitnya yang putih berpadu sempurna dengan pakaian yang ia gunakan. Membuat si mbak senyum-senyum sendiri.
“Kalo gitu, saya mandi dulu ya, mbak,” ucap Dave.
“Ah, iya. Saya juga harus kebawah lagi,” jawab si mbak sambil ijin keluar.
Tanpa mereka ketahui, Nadira mendengar semua perbincangan antara mbak Anna dan Dave. Ia sudah bangun, bahkan lebih dulu sebelum Dave bangun. Ia hanya terlalu malas untuk mandi, kasur ini lebih nyaman dan memiliki magnet yang menariknya untuk tetap tidur.
Nadira membuka matanya setelah Dave menutup pintu kamar mandi. Hatinya serasa tersayat mendengar penuturan Dave barusan. Dave berkata seolah ia tidak bisa menjadi istri yang baik dan melayani suaminya. Tapi, memang itulah kenyataannya. Ia sama sekali tidak bisa menerima Dave di hidupnya. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, mungkin Nadira memilih untuk kabur dari pada menikahi Dave.
“Maafin aku, Dave. Aku memang belum bisa nerima kamu, atau memang gak akan pernah nerima kamu,” lirih Nadira pelan.
__ADS_1
***
Sekitar 15 menit lamanya, Nadira dan Dave bersiap-siap untuk hari ini. Seperti biasa, Nadira memakai baju sekolah khas anak SMA dengan rompi yang bertuliskan namanya, Nadira Alfariza. Sedangkan Dave memakai baju kemeja warna putih yang di padukan dengan jas berwarna abu-abu. Dasi merah yang ia gunakan membuatnya terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
“Ayo, Nad! Kita kebawah,” ajak Dave pada Nadira.
“Kamu duluan aja, aku mau pakai sepatu dulu,”
Akhirnya Dave turun lebih dulu. Nadira masih memakai kaos kaki di kamarnya.
Riana, gadis bertahi lalat di sisi kiri bawah bibirnya itu baru saja keluar kamar dan tak sengaja melihat Dave keluar kamar dan menuruni tangga, tanpa Nadira di sebelahnya. Itu berarti Nadira masih di kamar, senyum sinis terbit begitu saja dari bibirnya.
Riana mendekati kamar sang kakak, ia melihat Nadira sedang pakai sepatu. Tanpa berniat menghampirinya, Riana malah menunggu diluar kamar. Setelah selesai memakai sepatu, barulah Nadira keluar dan sudah di hadang oleh Riana yang menjambak rambutnya dengan tiba-tiba, Nadira kaget dan merasa rambutnya mau lepas dari kulit kepalanya.
“Aww!” rintihnya.
Riana menarik kembali Nadira yang baru saja hendak pergi ke bawah dengan sekali jambak. Giginya mengerat, bibirnya tersenyum licik. Ia meneliti luka yang ia buat tadi malam. Sudah membaik, atau perlu ia buat lebih parah?
“Ada apa, Ri? Kenapa rambut aku dijambak?” tanya Nadira sambil menahan sakit.
Untung saja kali ini Nadira bisa bertahan dan tidak jatuh. Riana bersedekap dada menatapnya tajam. Terlihat sekali kalau gadis itu begitu tidak menyukainya. Riana memang tidak menyukainya dari dulu, tak heran jika Nadira selalu memperoleh perlakuan tidak menyenangkan darinya.
“Riana, kamu kenapa, sih benci sama aku? Kenapa kita gak bisa damai? Apa kamu sama sekali gak bisa nerima aku di rumah ini?” tanya Nadira dengan keberanian selangitnya.
Riana menarik sudut bibirnya, “Berdamai? Gue damai sama lo? Gak bisa! Sampai kapanpun gue gak bisa nerima lo di rumah ini, apalagi sebagai kakak ipar gue, gak akan pernah!” bentak Riana.
Terserah, terserah dia mau bilang apa. Nadira tidak mau ambil pusing. Ia memilih merapikan rambutnya yang berantakan dan turun kebawah untuk gabung bersama yang lainnya. Tapi Riana yang merasa diabaikan malah mendahuluinya sambil menyenggol bahu kirinya dan mengakibatkan dia jatuh.
“Dasar cewek kampung!” desis Riana.
Sabar, Nad. Dia emang kaya gitu, mau dikasih sikap apapun tetap aja begitu. Ujar Nadira dalam hati, Riana memang begitu, dan Nadira sudah biasa. Ini bukan hal baru baginya diperlakukan kasar.
Demi menghindari kecurigaan Dave, Nadira segera turun dan bergabung di meja makan. Riana terus menatapnya sambil menguyah roti. Ah, masa bodo dengan itu, lebih baik ia duduk di kursi sebelah Dave yang sudah disiapkan untuknya.
“Kamu lama banget, ngapain aja?” tanya Dave sambil mengambilkan roti untuknya.
__ADS_1
“Tadi aku sakit perut, jadi ke toilet dulu,” jawab Nadira santai.
Dave hanya ber’oh’ ria sambil kembali melanjutkan sarapannya.
“Oh, iya, Nad. Kamu nanti pulang jam berapa?” tanya Dave di sela-sela mengunyah roti.
“Kaya biasa, tapi kamu gak perlu jemput aku, aku bisa naik bis atau angkot,”
“Ye ... ge er banget, sih! Siapa juga yang mau jemput kamu,”
Mendengar itu, pipi Nadira langsung memerah karena malu. Iya juga ya, Dave kan gak bilang mau jemput, kenapa aku udah kepepdean gini? Dave hanya terkekeh kecil melihat Nadira yang tertunduk malu. Sikap malunya selalu bisa membuat Dave bahagia.
“Terus, kalau bukan mau jemput aku, ngapain nanya jam pulang sekolah?” kini gadis itu balik bertanya dengan keberanian yang lagi-lagi setinggi langit.
“Nanti siang aku mau ke padang, ngurus proyek di sana. Jadi aku gak bisa antar jemput kamu terus, nanti aku suruh buat nganter jemput kamu, ya?”
“Tapi—“
“Ssst ... gak ada penolakan!”
Nadira otomatis terdiam saat itu juga. Bagaimana tidak? Jari telunjuk Dave mendarat tiba-tiba di bibirnya dan membuat ia kaku seketika. Mama tertawa melihat anak dan menantunya, lucu sekali.
Sedangkan Riana? Tentu dia kesal melihat pemandangan itu, Nadira akan semakin merasa berkuasa setelah ini. Dan ini tidak boleh dibiarkan, ia harus membuat perhitungan dengan cewek kampung itu nanti.
“Kakak mau ke Padang?” tanya Riana memastikan. Dave mengangguk pelan.
“Kalo pulang jangan lupa beliin aku oleh-oleh, ya! Aku mau gantungan kunci yang bentuknya jam gadang, sama kaos yang ada gambar jam gadang nya,” pinta Riana antusias.
“Iya, nanti kakak beliin. Kamu mau dibeliin juga, gak?” pertanyaan kini beralih pada Nadira.
“Ih, Nadira gak usah dibeliin!” sela Riana jengkel.
Nadira yang tau keadaan menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Dave tadi. Bisa perang dunia kalau sampai Dave membelikan sesuatu yang lebih spesial untuknya, tentu Riana tidak akan tinggal diam.
“Aku gak minta apa-apa kok,” kata Nadira sebagai penegas.
__ADS_1
Yes! Dave akan keluar kota hari ini, pergi aja yang lama Dave, aku gak papa kok, aku malah seneng kalo kamu pergi. Sorak gembira hati Nadira melepas kepergian Dave.