
Beberapa menit kemudian aku dan Randy akhirnya sampai di parkiran sekolah.
Tidak jauh dari parkiran aku lihat Juan sedang duduk bersama dengan sabahatku. Aku baru saja mau menghampiri mereka namun tiba-tiba Kak Vivi dan teman- temannya sudah terlebih dahulu menghampiri Juan.
Juan yang melihat aku berdiri di dekat parkiran sekolah ingin menghampiriku , tapi Kak Vivi menahannya .
" Dasar Nenek lampir. Pagi-pagi sudah merayu suami orang ," gerutuku dengan wajah kesal.
" Nonik, kamu kok ninggalin aku begitu saja sih ? " ujar Randy seraya berjalan mendekatiku
" Kamu sih lelet banget jalannya. Sudah kayak siput ,"
" Perasaan sudah cepat kok. Yuk ,anterin aku ke ruang guru," kata Randy seraya menarik tanganku . Aku terpaksa mengikuti Randy karena merasa kasihan meninggalkannya sendiri, apalagi dia sudah membantuku.
" Kenapa mesti aku yang nganterin sih ? Kamu kan bisa pergi sendiri ,"
" Kamu gimana sih ? Aku kan murid baru di sini, " ucap Randy yang terus menarik tanganku dan melewati Juan dan sahabatku. Aku lihat mereka tampak terkejut melihatku.
Setelah dari ruang guru aku lalu pergi menuju ke kelas karena bel masuk kelas telah berbunyi. Dan kebetulan Randy ternyata satu kelas denganku.
" Nonik, nanti aku duduknya denganmu saja ya ? " ujar Randy yang berjalan di sampingku.
" Aku sudah ada teman. Jadi kamu duduk sama yang lain saja,"
Setelah sampai di kelas aku menyuruh Randy untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas.
" Nonik, apa dia kekasihmu ? " tanya Aldi teman sekelasku.
" Tidak , kami hanya berteman. Kebetulan kami bertetanggaan," jawabku seraya tersenyum.
" Iya benar. Kami hanya berteman. Tapi doakan saja agar kami berjodoh ," ucap Randy seraya tersenyum.
" Kenapa harus bicara seperti itu sih ? Kalau suamiku marah bagaimana ? " bisikku pada Randy yang langsung meninggalkannya begitu saja di depan kelas. Rasanya kesal juga sama si Rendy yang bicara seenaknya saja.
Saat aku akan duduk, tiba-tiba saja Tobi pindah ke bangku Juan yang ada di belakangku. Dia juga tidak menyapaku seperti biasanya. Pesan WA dariku juga tidak dia balas. Aku yakin kalau sahabatku saat ini pasti sedang marah karena aku kemarin tidam memberi kabar pada mereka.
" Nonik , aku duduk di mana ? " tanya Randy yang sudah berdiri di sampingku.
" Ya sudah, kamu duduk di sini saja," sahutku dengan ketus.
" Tadi kamu bilang sudah ada teman duduk. Kalau nanti temanmu datang bagaimana ? " tanya Randy seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Kamu tenang saja , temanku tidak akan datang karena saat ini dia sedang marah padaku," ucapku dengan volume suara yang sengaja aku perbesar agar Tobi dan Juan yang ada di belakangku mendengar percakapanku.
__ADS_1
Aku mencoba mengirim pesan WA pada Juan , namun pesan itu hanya di baca saja olehnya. Berkali-kali aku mengirim pesan padanya tapi dia hanya membacanya. Aku juga sudah minta maaf masalah kemarin , tapi dia juga tidak membalasnya. Sepertinya Juan juga marah padaku karena aku ke sekolah bersama seorang pria.
Padahal tadi pagi dia sendiri juga di kelilingi oleh banyak gadis, tapi aku berusaha untuk bersabar. Sedangkan dia malah langsung marah tanpa bertanya dulu padaku.
" Dasar pria cemburuan, " gerutuku dengan wajah yang aku tekuk.
"Nonik , memangnya temanmu marah karena apa ? " tanya Randy berbisik
" Mungkin karena kemarin aku menghilang begitu saja," balasku dengan malas.
" Apa suamimu saat ini juga marah padamu ? " tanya Randy lagi.
" Ya begitulah. Mungkin aku memang tidak pantas bahagia," jawabku dengan wajah yang murung.
" Nasibmu memang sangat buruk. Dari kecil tidak pernah jauh dari yang namanya masalah . Kalau begitu tidak usah di pikirkan, nanti biar aku yang menjelaskan pada mereka,"
" Tidak usah Ran, biar saja mereka seperti itu. Akan aku lihat sampai kapan mereka seperti itu," terangku seraya mengeluarkan buka dari tasku.
Padahal sebelum ke sekolah aku sudah minta maaf pada Tobi dan Agus karena kemarin aku tidak memberi tahu keberadaanku, tapi kalau aku memberitahu mereka ,maka mereka pasti akan memberitahu Juan. Karena aku tahu betul bagaimana sifat mereka.
Saat jam istirahat aku hanya bersama dengan Randy. Sedangkan Juan , Tobi , dan Agus saat ini berada di belakang kelas bersama dengan Kak Vivi .
" Nonik, aku ke toilet sebentar ya ? " ujar Randy seraya beranjak dari tempat duduknya.
" Ya tahu kok, kan tadi kamu sudah memberitahuku," ucapnya tersenyum.
Tak berselang lama ponselku bergetar. Aku lihat ada pesan WA dari Juan . Aku lalu membuka pesan WA itu.
📱" Sayang , maafkan aku. Aku tadi hanya cemburu melihatmu datang bersama seorang pria. Bagaimana aku tidak cemburu, dari kemarin aku begitu khawatir denganmu , tapi tahu-tahunya kamu malah datang bersama seorang pria,"
📱" Kamu cemburu padaku ? Tapi kamu sendiri malah bersama dengan Kak Vivi. Walaupun aku melihatmu bersama Kak Vivi tapi aku berusaha berpikir positif,"
Setelah itu aku tidak membalas pesan WA dari Juan. Aku yakin pasti Randy sudah menjelaskan semuanya pada Juan. Seharusnya Randy tidak usah menjelaskan apapun pada Juan.
Padahal aku sudah menjelaskan di depan kelas kalau aku dan Randy hanya berteman saja , tapi dia tetap saja cemburu.
Tanpa aku sadari Randy sudah duduk di sampingku. Aku lalu menatapnya dengan tajam.
" Kenapa menatapku seperti itu ? Apa aku ganteng ? " ujar Randy yang juga ikut menatapku.
" Randy ? Buat apa sih kamu menjelaskan semuanya pada Juan ? " tanyaku seraya menaikkan sebelah alisku.
" Maafkan aku. Aku hanya tidak tega melihatmu sedih," sahut Randy menunduk.
__ADS_1
Saat sedang asyik mengobrol dengan Randy, tiba-tiba saja Tobi dan Agus datang dan duduk di sebelahku.
" Nonik, maafkan kita ya ? Kita mengira kalau kamu selingkuh dari Juan," ucap Tobi seraya menatapku
" Ya ,Nik. Maafkan kita ya ? " ujar Agus
" Ya aku maafin, lagian aku juga yang salah karena tidak memberitahu kalian ," sahutku seraya tersenyum pada mereka.
" Nah begitu dong, kan enak kalau di lihat," kata Randy pada kami.
Ternyata Randy orangnya sangat baik. Aku kira dia jahat karena sering menggangguku di rumah dan di club karate. Setiap dia mendekatiku , maka aku pasti menjauhinya . Dulu jika aku sedang menyapu di depan rumah , dia pasti sengaja menyiram air ke arahku hingga aku basah. Walaupun aku satu club karate dengannya tapi aku selalu menjaga jarak dengannya, karena mengingat sifatnya yang sangat menyebalkan sekali, tapi ternyata dugaanku selama ini salah. Ternyata dia teman yang baik.
Sepulang sekolah aku dan Randy pergi ke kosan karena ingin membantu Juan mengambil barang-barangnya . Untuk sementara waktu aku dan Juan akan tinggal di rumah Nenek Ami. Karena sangat berbahaya kalau kita tinggal berdua saja. Berkali-kali Juan mengajakku bicara tapi aku tidak menghiraukannya.
" Nonik, Juan , berkat kalian berdua hari ini Nenek jadi banyak sekali menjual nasi bungkus. Ternyata kalian sangat pintar berjualan," kata Nenek Ami seraya tersenyum ke arah kami.
" Ya sama-sama ,Nek," ucapku dan Juan bersamaan.
" Kalau begitu sekarang kalian pergi tidur , karena ini sudah larut malam,"
" Iya , Nek," sahutku.
Aku lalu pergi ke kamar di ikuti oleh Juan yang ada di belakangku. Aku tidur memunggunginya, namun tiba-tiba saja Juan memelukku dari belakang seraya menggenggam tanganku.
" Sayang , maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku hanya takut kehilanganmu," ucap Juan seraya menangis terisak -isak. Pelukannya juga bertambah erat. Melihatnya yang seperti itu ,aku jadi tidak tega dengannya. Aku lalu memutar tubuhku agar bisa berhadapan dengan Juan.
" Iya aku maafkan. Sudah jangan menangis lagi ,lebih baik sekarang kita tidur," balasku seraya menghapus air matanya.
" Aku kangen banget sama kamu," bisiknya
Tiba-tiba Juan mendekatkan wajahnya hingga posisi kami hanya berjarak beberapa senti saja. Dalam hitungan detik Juan sudah menempelkan bibirnya hingga bibir kami menyatu.
Aku sedikit terkejut melihat semuanya tapi aku membiarkan Juan mel*mat bibirku. Juan terus mel*mat bibirku, sedangkan satu tangannya membuka kancing bajuku dan setelah itu merem*s dadaku. Juan menurunkan bibirnya menelusuri leher hingga ke pundakku.
Tubuhku semakin menegang dengan gelayar aneh yang sudah menjalar di sekujur tubuhku . Sangat bahaya kalau aku tidak menghentikannya.
" Juan, hentikan ! Kita tidak boleh melakukannya," ucapku seraya menatap wajahnya.
" Memangnya kenapa ? Kita juga sudah menikah. Kamu tenang saja , aku akan memakai pengaman agar kamu tidak hamil,"
" Tetap saja aku takut," balasku dengan wajah cemberut.
" Baiklah. Aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku akan menunggumu hingga kamu siap," ucapnya seraya mengecup keningku
__ADS_1