Pengantin SMA

Pengantin SMA
Aku Yang Katrok


__ADS_3

Mobil hitam mewah meluncur cepat. Aku duduk diam seperti anak kecil yang habis dimarahi ibunya karena pulang larut. Dave bukan membawaku ke cafe langganannya karena sedang tutup. Alhasil kami pun kembali tancap gas menuju rumah makan. Rumah makan Turshina, menjadi tempat pilihan kami. Aku tahu ini rumah makan mahal, ada pilihan makanan yang beragam dan tempatnya cukup besar.


Oh, aku lupa bilang kalau aku tinggal di kota apa. Baiklah, aku akan cerita sedikit, karena sejauh ini kau menikmati kisahku tapi belum tahu asal-usulku. Aku adalah anak tunggal dari keluarga sederhana. Ayahku bernama Samsul, dia bekerja sebagai nelayan. Ibuku hanya ibu rumah tangga, kau pasti sudah tahu namanya bukan?


Akau dan kedua orang tuaku tinggal di tembilahan, tepatnya di desa pasir penyu kecamatan Rengat Barat kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Tapi setelah aku menikah dengan Dave, aku pun kini tinggal bersamanya di Rengat. Sebuah kota kecil yang terkenal dengan wisata alam Danau Raja.


Dan rumah makan yang kami masuki sekarang adalah salah satu rumah makan yang menerima kiriman ikan dari ayah. Ayah selalu cerita kalau ikan tangkapannya menjadi makanan lezat di rumah makan ini. Aku penasaran, seperti apa rasanya.


Aku dan Dave duduk di kursi paling pinggir, itu bukan kemauanku. Itu kemauan Dave, aku sebagai istri, sih menurut saja. Dave memanggil pelayan dan meminta daftar menu. Aku membuka daftar menu dan melongo ketika melihat isinya. Ini rumah makan atau usaha rentenir yang berkedok rumah makan? Kenapa harga makanannya mahal sekali?


“Kenapa, Nad?” tanya Dave. Mungkin dia heran karena aku menganga.


“Liat ni, masa air putih aja harganya 50 ribu? Gak masuk akal banget!” ucapku.


Aku bahkan bisa minum air putih sepuasnya dirumah tanpa harus membayar. Tapi ini? Harganya sama dengan uang jajanku selama satu minggu. Sangat tidak wajar. Dave malah tertawa, ada yang lucu?


“Ya wajar, dong harganya mahal. Kan ini rumah makan besar, udah banyak lho pejabat yang makan disini,” kata Dave lagi.


“Huft, mau pejabat kek, mau wali kota kek, atau presiden sekalipun, harganya tetap gak wajar, Dave. Mahal banget tau?”


Dave tersenyum hangat. Ah, senyumnya manis sekali. Mungkin dia tau apa yang ada dipikiranku, aku memang belum pernah makan di rumah makan mewah, jadi katrok kali ya?


Tatapan aneh aku dapatkan saat segerombolan orang masuk dan duduk di sebelah kami. Meja itu memang kosong, dan aku pikir tidak masalah jika mereka duduk disana. Tapi aku salah, merek malah berbisik sambil menatapku sinis. Apa? Mereka tak suka padaku?


“Udah, tugas kamu disini cuma makan aja. Soal harga gak usah dipikirin, ya. Mbak, steak nya dua ya, minumannya lemon tea aja,” kata Dave memutuskan.


Aku kembali tertunduk malu. Pasti Dave malu karena aku yang katrok ini bicara soal harga air mineral yang harganya super mahal itu dengan keras. Dan kurasa, seluruh isi restoran mendengarnya. Ah, masa bodo dengan itu. Harganya sangat mencekik leher.


“Nad, kamu kenapa? Gak suka makan disini?” tanya Dave yang melihat aku terus menunduk sambil memainkan ujung rok sekolahku.


Aku hanya menggeleng pelan, aku terlalu malu untuk melihat wajahnya. Dia pasti malu karena sikapku tadi. Bahkan orang-orang di samping meja kami masih membicarakanku.


“Maaf,” ucapku lirih.

__ADS_1


“Maaf untuk apa?”


“Untuk yang tadi. Kamu pasti malu ‘kan ngajak aku yang katrok ini makan di rumah makan mewah,” kataku masih dengan kepala tertunduk.


Dave malah tersenyum. Dia tidak marah atau kesal. Tapi ... kenapa? Memangnya dia tidak tahu kalau orang-orang sedang meng-ghibahi mereka? Mustahil, pendengaran Dave masih sangat tajam, kok!


Tak lama, makanan datang. Aku pikir maksud Dave steak itu adalah steak royko. Makanan khas yang dibuat dengan bumbu warung. Tapi yang datang malah sepotong daging berukuran setelapak tangan dengan aroma menggoda. Saat aku berbisik pada Dave mengenai harga daging ini, dia malah tidak menjawab dan langsung makan. Pasti harganya bukan main-main.


Dasar katrok, itulah aku. Ada garpu dan pisau yang tersedia untukku. Aku yang biasanya hanya makan pakai tangan jadi bingung. Seharusnya daging ini sudah di potong sebelum di makan, kalau seperti ini bagaimana caranya aku makan? Aku yang tak tau apa-apa soal etika makan di restoran mewah langsung saja mencoba menggunakan pisau dan garpu.


Gagal, gadingnya malah jatuh kelantai. Orang-orang terkekeh melihatku memungut daging itu.


“Jangan dimakan! Ganti yang baru aja ya, ini kan udah jatuh ke lantai,” cegah Dave saat aku hendak menyuap.


Berat rasanya kepala ingin mengangguk, tapi aku juga tidak bisa makan makanan yang sudah jatuh ini. Pasti banyak kumannya. Dave memesan satu porsi steak lagi. dan kali ini Dave yang memotong daging itu untukku. Ah, suami yang pengertian.


“Enak, gak?”


“Dave, ada nasi gak?” tanyaku.


“Nasi? Buat apa?”


“Buat makan, dagingnya enak, pasti bakal jauh lebih enak kalau pakai nasi,”


Aku tetaplah aku. Makan steak dengan nasi putih pasti enak ‘kan? Sayang kalau daging ini dinikmati sendirian tanpa nasi. Dave malah tepok jidat, kenapa?


“Kenapa?” tanyaku heran.


“Nadira, ini steak daging. Makannya gak pakai nasi,” jelasnya.


“Tapi aku mau pake nasi, gak kenyang kalo makan daging doang,” pintaku agak memaksa.


Dia mungkin menganggapku seperti adik sendiri, ia kembali memanggil pelayan wanita dan memesan sepiring nasi untukku. Apakah aku norak? Ah, masa bodo! Yang penting aku kenyang. Aku tidak suka berpura-pura apalagi sok kota, aku tetaplah aku. Inilah aku apa adanya, tanpa sandiwara apalagi dusta.

__ADS_1


Kami selesai makan saat matahari mulai terbenam. Aku sudah puas, makanannya sangat enak. Ini kali pertama aku menikmati makanan surga dengan Dave, suamiku. Pelayan datang dan memberikan bill makanan kami. Setelah di total, hasilnya cukup mengejutkan. 1 juta lebih Dave merogoh isi dompet untuk semua makanan kami.


Aku sampai tersedak karena harga yang memang sangat mencekik itu. Ini namanya pemalakan.


“Dave, ini gak salah? Harganya malah banget,” rintihku berbisik padanya.


“Nggak, Nad. Harganya memang segitu,”


Oke, sepertinya ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya aku makan di rumah makan ini. Aku tidak mau kalau harus membayar dengan jumlah itu. Kalau di totalkan, uang segitu cukup untuk biaya hidupku selama dua bulan.


Selesai makan, kami kembali ke rumah. Aku kepikiran dengan orang tuaku. Aku makan enak disini, tapi mereka? Apa mereka bisa makan atau tidak akupun tak tau. Aku hanya menatap keluar jendela mobil yang sedang kejebak lampu merah. Hujan rintik membuat kaca mobil bagian luar basah.


Dave yang melihat istrinya melamun dengan tatapan kosong pun memincingkan mata. Anak ini kenapa lagi? tadi pagi dia diam, dan sekarang dia juga masih diam? Kenapa?


Tangan hangat Dave menggenggam erat tangan Nadira yang masih menatap keluar jendela. Nadira berbalik menatap Dave. Sorot matanya memperlihatkan kesedihan. Ia teringat akan ibu dan ayahnya. Apa kabar mereka malam ini?


Dave menarik Nadira ke pelukannya. Ia sempat menatap Nadira sebentar sebelum pelukan hangat mereka menyatu.


“Kenapa?” tanya Dave pelan. Nadira hanya menggeleng, sifat pendiamnya bekerja.


Sekarang Dave beralih memandangi lekuk wajah Nadira. Dia memang tidak cantik, bahkan Nadira jauh dari kata tipe cewek idaman Dave. Tapi Nadira memiliki hal yang tidak dimiliki wanita lain. Dia mau tampil apa adanya. Dave menyatukan kedua hidung mereka, lampu merah yang masih terus menyala membuat mereka bisa dengan leluasa menikmati waktu yang berjalan lambat.


“Kepikiran sama ibu dan ayah ya?” benar, tebakan Dave tidak meleset. Nadira mengangguk.


“Apa ayah dan ibu udah makan? Aku makan enak, tapi mereka?”


“kita ke rumah ibu, yuk! Sekalian kita bawain makanan untuk mereka,”


“Beneran?”


Dave mengangguk. Ia bisa melihat wajah ceria Nadira kembali berseri. Dengan begini, kecantikkannya jadi bertambah sekarang.


“Ayuk!”

__ADS_1


__ADS_2