
Di kantin sekolah Tobi dan Agus tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku.
" Ha..ha..ha ! "
" Lucu banget sih Juan, masa ngira lo hamil," ucap Agus yang terus tertawa.
" Coba kalau gue ada di sana. Pasti akan terhibur sekali melihat Juan yang seperti itu," balas Tobi yang juga ikut tertawa.
" Tapi gue bangga sama dia, karena dia bertanggung jawab dan juga perhatian banget sama kamu. Bahkan saat kamu pertama kali datang bulan dia sendiri yang mengajarimu cara memakai pembalut," kata Agus sambil mengaduk minumannya
" Pasti dia mempelajari semuanya dari internet. Dia memang pria yang hebat. Sudah terlihat dengan jelas kalau Juan itu sangat mencintaimu," terang Tobi sambil menatapku.
" Benar apa yang dikatakan oleh Tobi. Untung Juan menyelamatkanmu waktu itu , kalau tidak entah bagaimana nasibmu," kata Agus
Selesai istirahat kami lalu kembali ke kelas . Kami duduk di depan kelas sambil menunggu bel masuk kelas berbunyi.
" Hai cantik , sudah makan belum ? " tanya Kak Fajar yang sudah duduk di sampingku.
Aku memilih diam saja karena malas menanggapi ucapan Kak Fajar.
" Kenapa diam saja sih ? Kamu tahu tidak aku kangen banget sama kamu. Sehari tidak bertemu bagaikan berbulan-bulan saja. Aku bahkan sampai tidak selera makan karena terlalu rindu denganmu. Aku hubungi nomormu berkali-kali tapi kamu tidak pernah mengangkat telepon dariku. Kamu setiap hari sibuk banget ya ? Sampai tidak pernah bisa mengangkat teleponku,"ucap Kak Fajar yang terus bicara walaupun aku tidak membalasnya.
" Apa sudah selesai ? Kalau sudah selesai, lebih baik lo pergi dari sini. Mendengar lo bicara membuat kupingku jadi sakit ," gerutu Tobi dengan wajah yang merah padam.
" Setiap gue bicara sama Nonik, lo pasti ikut campur. Mau lo apa sih ?" tanya Kak Fajar sambil menatap dengan tajam ke arah Tobi.
" Lo nanya mau gue apa ? Lebih baik sekarang lo buka telinga lo itu lebar-lebar ,dan dengarkan baik-baik apa yang gue katakan," kata Tobi dengan tegas.
" Nggak usah banyak bicara deh lo. Lebih baik sekarang lo katakan apa mau lo ," balas Kak Fajar dengan wajah merah padam.
" Gue minta jangan ganggu Nonik lagi karena dia sudah memiliki pacar," kata Tobi menjelaskan.
" Lalu kenapa kalau dia sudah punya pacar ? Bagi gue nggak masalah tuh. Karena itu baru status pacaran saja. Hanya tinggal mengucapkan kata putus lalu jadian deh sama gue," sahut Kak Fajar dengan entengnya.
Agus lalu duduk di samping Kak Fajar seraya merangkul lengannya.
" Kak, kenapa sih Kakak mengejar-ngejar Nonik terus ? Di sini tuh masih banyak cewek yang ingin menjadi kekasih kakak contohnya aku," ucap Agus seraya mengedipkan sebelah matanya. Agus terpaksa berpura-pura menjadi seorang banci lagi agar Kak Fajar pergi.
" Dasar banci, lo itu sama aja kayak temenmu itu. Setiap gue mau deketin Nonik kalian pasti gangguin gue. Dari pada lo gangguin gue, lebih baik lo pergi ke pangkalan ," balas Kak Fajar yang langsung mendorong tubuh Kak Agus.
Aku lalu membantu Agus untuk bangun, setelah itu menatap Kak Fajar dengan tatapan yang penuh kebencian.
" Kak, lebih baik Kakak pergi dari sini. Aku tidak suka sama cowok kasar seperti Kakak. Dan satu lagi, aku sudah punya pacar jadi sampai kapanpun aku tidak akan pernah pacaran sama Kakak," ucapku dengan mata terbuka lebar dan titik pupil yang tampak marah.
" Dengar sendiri kan apa yang diucapkan oleh Nonik. Sekarang lebih baik lo pergi dari sini. Lo itu hanya mengganggu waktu istirahat kami saja," ujar Tobi dengan sangat ketus.
" Nonik, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan seperti ini denganku! Aku benar-benar tulus ingin menjadi kekasihmu,"kata Kak Fajar sembari memasang wajah sedih.
" Tidak usah sok sedih begitu deh . Apa lo mau gue panggil Kak Vivi untuk datang kemari ? " tanya Tobi sambil menatap Kak Fajar.
" Nonik, aku nggak ada hubungan apapun dengan Vivi. Aku hanya mencintaimu," balasnya seraya ingin menyentuh tanganku, namun aku langsung menepisnya.
" Kalau kakak tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi," ucapku yang langsung beranjak dari tempat dudukku dan masuk ke dalan kelas.
Di dalam kelas aku lihat Juan sedang belajar. Dia memang sangat rajin, berbeda denganku. Makanya nilainya selalu bagus.
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.
" Kamu rajin banget sih. Apa aku boleh ikut belajar ?"tanyaku sambil menatap Juan.
" Ya , tentu boleh dong. Malahan itu hal yang sangat bagus," kata Juan sambil tersenyum.
" Kalau gitu gue juga ikut dong. Siapa tahu gue jadi pintar kayak lo" ucap Tobi yang sudah duduk di depanku.Kami lalu belajar bersama-sama.
__ADS_1
Ketika bel pulang sekolah telah berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar dari kelas.
" Tobi, tolong antarkan Nonik sampai kos ya ? " bisik Juan sambil menepuk bahu Tobi.
" Ok ,bro." Tobi membalas sambil tersenyum
Kalau pulang sekolah Juan memang sering menyuruh Tobi untuk mengantarku , karena takut dilihat sama anak-anak yang lain. Kalau pagi hari kami memilih berangkat sekolah agak siang agar sepi, dan itu pun aku turun agak jauh dari sekolahku.
" Vivi, itu adik kelas yang sangat populer di sekolah kita saat ini. Sumpah dia ganteng banget," ucap Lili pada Vivi.
"Lo memang benar. Dia memang ganteng banget," balas Vivi sambil menatap Juan dengan penuh cinta.
" Dari pada lo sama Fajar , lebih baik lo sama dia," kata Lili yang sedang menatap Juan .
" Lo memang benar ,Li.Tapi lo tenang saja, mulai sekarang ini Vivi yang sangat seksi akan mulai memikirkannya. Tidak akan ada pria lain di hati dan di pikiran gue. Itu karena dia telah mencuri hati seorang Vivi yang sangat seksi. Akan aku buat dia merasa puas saat berada di ranjang," ucap Vivi yang terus menatap Juan.
Wajahku langsung merah padam saat mendengar obrolan mereka. Rasanya ingin aku lempar jauh- jauh mereka .
" Nonik, tidak usah cemberut begitu dong. Kamu tenang saja, Juan tidak akan mudah tergoda , apalagi sama cewek seperti Kak Vivi. Gue saja kalau di goda sama Kak Vivi juga tidak akan mau. Apalagi dia sering keluar masuk hotel sama Om om ," tutur Tobi.
" Memangnya ngapain dia ke sana ? " tanyaku dengan wajah penasarasan.
" Jadi simpanan Om Om," sahut Tobi
Mataku langsung membulat saat mendengar ucapan Tobi.
" Masa sih ? Jangan mengada-ngada dulu, siapa tahu itu Omnya sendiri," kataku sambil berjalan menuju parkiran.
" Tapi orangnya beda-beda , jadi tidak mungkin kalau itu Omnya,"balas Tobi yang sudah naik ke atas motornya. Aku lalu pulang diantar oleh Tobi. Banyak mata memandang ke arah kami saat motor Tobi keluar dari area sekolah.
" Bi , kamu tidak mau mampir dulu ? " ucapku ketika kami telah sampai di depan kosan.
" Lain kali saja deh. Gue ada janji mau nganter cewek gue sepulang dari sekolah," balasnya yang sudah menghidupkan mesin motor.
Tobi membalas dengan senyuman padaku. Mereka memang sahabat yang paling baik, karena selalu ada saat aku susah.
Aku lalu masuk ke kamar kosan, di sana aku lihat Juan sedang memasak di dapur. Dia memakai celemek coklat redup yang senada dengan kaos putihnya yang mencolok. Sehingga dia terlihat begitu tampan.
Aku duduk sambil menatapnya yang lagi memasak.
" Baru sadar ya kalau aku ganteng ? Ngelihatnya sampai tidak berkedip begitu," kata Juan sambil membawa makanan ke meja makan.
" Nonik , lebih baik kamu ikut aku bekerja di restoran. Kemarin aku sudah bicara dengan Tante Riri, lalu dia mengizinkanmu bekerja di sana. Bagaimana ? Kamu mau kan ? " tanya Juan sambil menuangkan air ke dalam gelas , lalu memberikannya padaku.
"Ya aku mau ," balasku dengan mata yang berbinar-binar.
" Aku punya sedikit rencana untuk masa depan kita,"
" Rencana apa ? " tanyaku seraya mengangkat sebelah alisku.
" Aku ingin membuka usaha kecil-kecilan . Bagaimana menurutmu ?" tanya Juan sambil menatapku .
" Usaha apa ? " tanyaku semakin penasaran.
" Untuk saat ini aku masih bingung sih mau buka usaha apa , tapi aku berencana mau mengumpulkan uangnya dulu untuk dipakai modal usaha. Kalau aku kerja sendiri , maka aku akan sulit mengumpulkan uangnya. Kecuali kalau kita kerja berdua, baru akan gampang mengumpulkannya. Bagaimana menurutmu ? Apa kamu setuju ? " tanya Juan padaku.
" Itu ide yang bagus. Sepertinya aku tahu harus membuka usaha apa," jawabku sambil tersenyum.
" Usaha apa ? " tanya Juan bertanya balik padaku.
Aku lalu mendekatinya dan berbisik padanya.
" Itu Ide yang bagus. Kalau begitu sekarang kita tidur sebentar saja , setelah itu berangkat kerja," kata Juan .
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah sampai di tempat kerja semua mata memandangku. Sepertinya mereka bingung karena aku ikut masuk ke ruangan khusus untuk para karyawan.
" Juan, siapa gadis cantik yang ada di sampingmu ? " tanya Kak Dimas sambil tersenyum ke arahku.
" Dia pacarku ,Kak. Kebetulan dia akan bekerja di sini juga," jawab Juan seraya memperkenalkan Kak Dimas padaku.
" Wah ! Kamu pintar sekali nyari pacar. Dia gadis yang sangat sempurna ," ucap Kak Dimas sambil terus menatapku.
" Terima kasih," jawab Juan seraya menggenggam tanganku
" Semoga kamu betah bekerja di sini , " kata Kak Dimas yang kemudian keluar dari ruangan itu.
" Nonik , lebih baik kita ke ruangan Tante Riri dulu. Ayo aku antar ke sana ," ucap Juan sambil menggenggam tanganku dan membawaku ke sebuah ruangan yang ada di lantai atas.
" Tok...tok...tok..." Juan mengetuk pintu ruangan itu.
" Masuk ! " teriak Tante Riri dari dalam ruangan.
Juan lalu membuka pintu ruangan itu lebar-lebar dan mengajakku masuk ke dalam.
" Ternyata kalian yang datang. Ayo masuk , dan duduklah ! " kata Tante Riri sambil menatap tajam ke arahku.
" Juan, lebih baik kamu mulai bekerja karena restoran kita saat ini sedang ramai," ucap Tante Riri sambil menatap ke arah Juan.
" Tapi aku ingin menemani Nonik ,Tante."
" Nonik mungkin akan sedikit lama di sini , karena dia harus membaca beberapa peraturan yang ada di restoran ini," terang Tante Riri sambil mengambil sesuatu di lacinya.
" Baiklah , kalau begitu aku permisi dulu ," kata Juan pada Tante Riri
" Nonik, nanti cari saja aku di dapur," bisik Juan . Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Saat ini aku hanya berdua saja bersama Tante Riri.
Aku lihat Tante Riri hanya diam saja sambil menatapku dengan tajam. Sudah lima menit aku duduk menunggu , namun dia tetap diam saja. Aku bingung harus bicara apa. Karena setiap aku tanya dia selalu diam dan tidak membalas.
" Nonik , apa Tante boleh minta tolong sama kamu ? " tanya Tante Riri
" Boleh ,Tante. Memangnya Tante ingin minta tolong apa ? " tanyaku sambil menatapnya.
" Tolong kamu jauhi Juan. Tante merasa menyesal karena kemarin sudah memberikan ide agar Juan menikahimu. Tante tidak bisa melihat Juan hidup susah . Dari dulu dia tidak pernah hidup susah . Apapun keinginannya selalu Tante turuti. Tapi untuk kali ini Om Yuda memang benar. Dari awal kamu pasti sengaja mendekati Juan agar dia jatuh cinta padamu, dan setelah itu menikah dengannya. Kamu pasti memanfaat Juan agar ada yang menjagamu dan bekerja untukmu atau karena ingin menguasai kekayaan Juan. Tante yakin pasti itu rencanamu," ucap Tante Riri sambil menatapku dengan penuh kebencian.
Mataku terbelalak lebar mendengar permintaan Tante Riri.Tanpa sadar beberapa bulir air mata menetes dari mataku. Dadaku sesak dan terasa di iris- iris . Lidahku kelu tanpa tahu harus berkata apa saat mendengar Tante Riri bicara seperti itu.
" Ya , Tuhan. Cobaan apa lagi ini ? Baru saja aku merasakan bahagia, tapi sekarang penderitaan itu datang lagi. Apa salahku Tuhan ? " batinku dengan air mata yang terus menetes tiada henti.
" Nonik , Tante mohon jauhi Juan. Apa kamu tidak kasihan pada Juan ? Setiap hari dia harus bekerja sepulang dari sekolahnya. Juan tidak bisa terus - menerus seperti itu. Dia harus meneruskan usaha Papanya. Jadi biarkan dia fokus sekolah. Tante juga sangat capek di marahi sama Om Yuda. Dan ambillah uang ini untuk biaya hidupmu," kata Tante Riri sambil memberikan sejumlah uang padaku.
"Maaf Tante ,aku tidak bisa menerima uang itu. Dan asal Tante tahu, dari pertama aku melihat Juan aku tidak pernah ada niat untuk mendekatinya . Aku selalu menjaga jarak dengannya , karena aku sadar dengan statusku yang hanya seorang pembantu. Tapi Tante sendiri yg memberikan Ide seperti itu pada Juan, hingga akhirnya aku jatuh cinta padanya. Lalu sekarang Tante sendiri yang memintaku agar menjauhi Juan. Tante kira pernikahan itu sebuah mainan ? " tanyaku dengan air mata yang sudah membasahi pipiku.
" Kalau kamu tidak mau menuruti kata-kata Tante, maka Tante akan membuat kamu di keluarkan dari sekolah," ancam Tante Riri dengan mata terbuka lebar.
Tubuhku mendadak menjadi lemas , rasanya sakit banget. Padahal saat ini hanya Juan yang aku punya, tapi sekarang mereka tega memisahkan kami.
Aku sendiri juga bingung, apa aku bisa jauh dari Juan ? Kami saling mencintai, begitu juga dengan Juan.
Aku menghela nafas panjang , lalu aku hapus air mata yang ada di pipiku.
" Baiklah kalau itu mau Tante," ucapku dengan pelan dan masih bisa di dengar. Aku lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di luar ruangan Tante Riri , aku tatap Juan dari jauh. Aku keluar dari restoran itu ketika Juan berada di area dapur.
__ADS_1