
Selesai berpakaian Nadira dan Dave turun ke bawah untuk sarapan. Jangan tanya apakah Nadira masih malu atau tidak, tentu saja ia masih malu dengan kejadian tadi. Bahkan wajahnya masih di tekuk saat menuruni tangga menuju ruang makan.
“Kalian udah bangun? Gimana malam pertamanya?” tanya Mama saat Nadira baru saja membanting pantat di kursi bersamaan dengan Dave.
“Mama, apaan sih?” sela Dave mengetahui kalau Nadira sedang badmood.
Mama dan Papa hanya tertawa geli. Membuat Nadira makin malu dan wajahnya berubah semu. Nadira masih tertunduk malu tanpa mau melihat wajah siapapun yang ada di sekeliling meja makan. Saat sang pelayan menaruh roti tawar di atas piring milik Nadira, ia sedikit mendongak. Apa ini? Dia diperlakukan seperti permaisuri.
“Disini memang gitu, tuan rumah selalu di layani sama asisten rumah tangga,” jelas Dave seolah mengerti dengan kebingungan Nadira. Namun gadis itu hanya bersungut tanpa menjawab ucapan Dave. Ia masih terlalu kesal pada suaminya itu hingga tidak mau bicara.
“Mama.! Tas baruku mana? Kok gak ada?” teriak seorang gadis yang baru saja menuruni tangga.
Suara itu terdengar tidak asing di telinga Nadira. Itu terdengar seperti suara Riana, salah satu cewek populer di sekolahnya. Di sekolah, Riana selalu mencari masalah dengan Nadira, salah satunya adalah rebutan cowok. Meski akhir-akhir ini memang mereka sedang tidak perang, tapi tetap saja kalau bertemu pasti perang mata.
“Semoga itu bukan Riana, dan semoga aku Cuma salah dengar,” do’a Nadira dalam hati.
Langkah kaki gadis yang baru saja menuruni tangga itu kini sudah berdiri tepat dibelakang Nadira yang masih tertunduk.
“Ma, tasku yang baru gak ada! Gak kemana,” rengek gadis itu.
“Sayang, kamu salah naruh mungkin. Minta mbak cariin ya,” ucap Mama dengan suara yang lembut bagai sutra. Membuat Nadira makin senang kalau mendengar ibu mertuanya itu bicara.
“Iya,” jawabnya lesu.
Gadis itu kini mengitari meja untuk mencari tempat duduk. Ia sama sekali tidak curiga dengan keberadaan orang asing didekatnya. Nadira dianggap sebagai angin lalu, ia pikir ini adalah istri Dave yang mamanya bilang waktu itu. Ia masih bersikap biasa sampai akhirnya, Nadira dan gadis itu saling bertatapan.
Deg!
Itu adalah Riana. Nadira melihat dengan jelas wajah cantik dengan tahi lalat di dekat bibirnya yang menjadi ciri khas Riana. Astaga, suara itu benar-benar suara Riana? Kenapa ia bisa ada di rumah Dave? Sama terkejutnya dengan Nadira, Riana menatapnya tak suka.
“Nadira?!”
“Riana?!”
Ucap mereka berdua hampir bersamaan. Seluruh mata kini tertuju pada kedua gadis yang sama-sama memakai seragam sekolah putih abu-abu dengan rompi berwarna senada khas sekolah SMA mereka. Riana sadar sekarang, jadi gadis yang menikahi kakaknya adalah Nadira?
“Ngapain lo dirumah gue?” tanya Riana dengan kesal. Ia bahkan belum sempat duduk untuk ikut sarapan.
__ADS_1
“Jawab! Ngapain lo ada dirumah gue?” tanya Riana saat Nadira tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Nadira hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu harus berkata apa pada musuh bebuyutannya ini. Ia terlalu takut untuk buka suara. Sekarang Nadira sadar, Riana adalah adik kandung Dave yang paling bungsu. Tadi malam Mama sempat cerita kalau Dave memilik satu adik perempuan, tapi ia tidak datang ke acara pernikahan karena masih liburan akhir semester di rumah oma-nya di Pekanbaru. Mungkin tadi pagi Riana baru sampai di Rengat.
“Riana, kamu kok ngomongnya kasar gitu sama Nadira, dia ini istri Kakak,” jawab Dave atas pertanyaan adiknya.
“Apa? Jadi dia cewek yang kakak nikahin? Dia? Cewek cupu ini?!”
“Memangnya kenapa? Nadira cantik, baik, dia juga sopan. Ada masalah?” kali ini Papa yang bicara.
Suara berat Papa Gavin selalu sukses membuat Riana bungkam. Gavin, papa dari Dave memang selalu di hormati dan disegani oleh seluruh anggota keluarga, termasuk Riana. Hingga jika Papanya itu sudah bicara, Riana tidak berani membantah. Apalagi untuk masalah ini, otomatis dia yang akan diceramahi oleh sang Papa.
Riana duduk di kursi yang bersebrangan dengan Nadira. Matanya terus menatap Nadira tak suka sambil mengoleskan selai coklat kesukaannya di atas roti tawar.
“Mama sama Papa gak tau ya? Nadira ini satu sekolah sama aku,” ucap Nadira di sela-sela kegiatannya mengoles selai.
Mama duduk di kursi sebelah Riana. Ia menatap putrinya sendu, kelihatan sekali kalau Riana tidak suka pada Nadira.
“Mama sama Papa udah tau kok, ibunya Nadira udah cerita kalau Nadira sekolah disekolah yang sama dengan kamu,” ucap Mama.
“Udah lah, Ri. Kamu terima aja, gak usah banyak protes. Cepat habiskan sarapan kamu, habis ini kakak akan nganter kalian berdua ke sekolah,” timpal Dave setelah ia menghabiskan segelas kopi miliknya.
Dave sama sekali tidak mau memikirkan bagaimana tanggapan teman-teman sekolah Riana jika mengetahui kalau Nadira ada kakak iparnya. Lagian, Riana sudah dewasa. Tidak bisakah ia bersikap sedikit lebih dewasa dalam menghadapi masalah? Pasti ini karena Mama dan Papa yang selalu memanjakan Riana hingga ia bersikap sesuka hatinya.
“Apa?! Aku berangkat ke sekolah satu mobil sama dia?” ucap Riana dengan nada suara agak tinggi.
“Gak! Aku gak mau! Suruh aja supir buat nganterin dia, kenapa harus bareng?”
“Ya udah, nanti kamu di antar sama pak Ji, aja ya? Biar Nadira diantar sama kak Dave,” ucap Mama menengahi pembicaraan.
Riana terdiam. Itu pilihan baik, dari pada harus satu mobil dengan Nadira. Teman-temannya akan curiga bila ia berangkat satu mobil dengan cewek kampung ini, bisa hancur reputasinya karena gadis ini.
Dengan wajah bersungut Riana melanjutkan sarapannya. Sementara Nadira masih terdiam dari awal ia turun tangga sampai selesai sarapan. Nadira sama sekali tidak tahu harus bicara apa, suasana di ruang makan begitu asing baginya hingga ia belum bisa terbiasa. Ia sudah lupa dengan kejadian memalukan bersama Dave pagi ini. Ia hanya memikirkan, “kok Dave gak cerita kalau Riana adik kandungnya?” sebenarnya Dave menganggapnya apa?
Selesai sarapan Dave segera mengantar Nadira ke sekolah. Nadira juga tak menolak, ia begitu nurut karena Mama yang memintanya. Sementara Riana, di antar oleh pak Ji, supir pribadinya.
Sepanjang jalan, Nadira hanya terdiam sambil memilin rok. Canggung, itulah yang Dave rasakan. Berdua didalam mobil dengan istri sendiri, tapi berasa sepi.
__ADS_1
“Kamu ... kenapa? Kok dari tadi diem aja?” Dave buka suara, mencoba mencarikan suasana.
“Menurut kamu aku harus apa? Setelah tau kalo aku satu sekolah sama adik dari suamiku sendiri, aku harus apa?” Nadira malah balik bertanya sambil menoleh ke arah Dave yang sibuk mengendalikan kemudian di samping kananya.
“Semua akan baik-baik aja, Riana Cuma belum siap nerima kehadiran kamu. Nanti juga dia bisa nerima kamu, kok,”
“Aku gak yakin dengan itu, Dave,” balas Nadira dalam hati.
Tentu saja ia tidak yakin, Riana itu sangat membencinya. Mana mungkin dia mau menerima Nadira begitu saja, pasti ada tumbal yang harus ia korbankan. Genggaman tangan Dave membuat Nadira kembali menoleh, Dave juga menatapnya dengan semu. Mau apa dia? Jangan macem-macem deh! Pikiran Nadira sudah melayang entah kemana.
Segera ia menarik paksa tangannya dari genggaman Dave.
“Fokus nyetir, aku gak mau mati muda,” ketus Nadira.
Dave terkekeh saat itu juga. Nadira masih terlalu polos untuk berpura-pura, terlihat jelas wajahnya memerah saat ia memegang tangan gadis itu. Di balik uraian rambut panjangnya, Nadira menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus.
“Duh, kok gak sampai-sampai ya? Mau sampai kapan aku harus berada di mobil ini sama dia?” gerutu Nadira dalam hati.
Beruntunglah ia karena sekarang sudah memasuki area sekitar sekolahnya. SMA Budhis Pratama, menjadi sekolah favorit tempatnya menganyam pendidikan. Nadira segera menyuruh Dave berhenti sebelum mereka sampai ke depan gerbang sekolah.
“Stop stop! Berhenti disini aja,”
“Lho, kenapa? Gerbangnya masih jauh lho,”
“Disini aja, aku gak mau orang-orang tau kalau aku turun dari mobil mewah kamu, aku gak mau mereka curiga sama hubungan kita, udah ah! Aku turun,”
“Tunggu!” Dave berhasil menarik tangan Nadira sebelum ia keluar mobil.
Sontak Nadira langsung mendekat ke arah Dave karena tarikannya.
Sebuah ciuman hangat mendarat di kening Nadira dan membuat ia tertegun. Dave ... menciumnya?
“Sekolah yang bener ya, istriku. Nanti aku jemput kalau udah pulang,” Ucap Dave lembut.
Nadira yang masih tertegun dengan perlakuan yang tiba-tiba itu hanya mengangguk tanpa ekspresi. Perlahan Dave melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Nadira keluar. Pipi Nadira memerah karena hal itu, senyum merekah seketika saat ia mulai berjalan beriringan dengan beberapa siswa lain menuju gerbang.
“Apaan sih? Kok aku seneng ya?” gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1